Sengau

Kuakui, aku pernah mencintaimu dalam suatu masa. Membangun mimpi. Merajut imaji dan imajinasi liar, menerobos ambang batas kenormalan. Tapi itu sudah berlalu. Aku bukanlah matahari yang setia bersinar hanya untukmu. Yang pasti aku masih punya cahaya itu. Kini memancar pada liyan, “yang lain”. Sebab setiap manusia berhak memperjuangkan kata cinta yang purba itu. Ya!, dengan memberi, hanya memberi, tanpa mengharap kembali.

Energi cintaku tak pernah tandas di ujung senja. Kekal. Hanya mengalami perubahan medium. Senantiasa menghablur dari alam sadarku. Ternyata rindu itu bisa juga berpindah pada yang lain. Oleh karena itu, mulut tak harus menyalahkan waktu yang menikung dalam ruang relativitas. Itu gerak perjalanan sejarah yang tak perlu dimengerti genesanya. Karena aku bukan pencipta sang waktu itu.

Tak mungkin juga aku terus-menerus menyirami bunga yang tak mengharap air hujanku. Kamu bunga, sudah mempunyai segala kepenuhan. Apa aku menjadi tidak tulus? Ketulusan dalam kepasrahan adalah keharusan. Ini bukan kompromi. Bukan pula pembenaran. Serpihan tubuh kita yang menguban dalam gerutu hanya mengapung begitu saja dalam samudera kehidupan.

Jangan pula kau tanyakan pada rumput dan ilalang: mengapa langit tak seindah dulu. Pula aku sudah lupa puja puji yang kehaturkan bersama katak-katak di tepian telaga. Itu bukan pengkhianatan. Itu hanya ayunan bandul jiwa dalam koridor keterbatasan yang menjadi hakekat kedirian kita. Itu juga bagian dari kosmos dalam jejak kacau partikular yang pernah kita cumbu dalam selaput otak kanan kita.

Boleh saja kau anggap aku seorang pemabuk. Adakah yang lebih jujur dari seorang pemabuk? Tapi kali ini aku mabuk dalam kejujuranku. Yang mungkin kau nilai sebagai absurditas yang berpilin dengan kekaburan dalam labirin yang mengambang. Tapi inilah kotakku. Kotak yang tak bisa dipenjara dalam sentimentil perasaan. Dan maaf bila rasionalitas harus menjadi faktor penentu yang tak bisa kita nafikan keberadaannya. Inilah pengakuanku: aku tak mencintaimu lagi. Bukan berarti aku harus membencimu. (2010)

Katarsis

Penataan jerat jumpa membuat kita memaklumi realitas yang tak lazim. Mengecoh kenyataan di pundak angan. Mencoba memaksa harapan bersejiwa dengan waktu. Bukan dengan memberhalakan kemustahilan. Namun dengan mulai bergumul. Menimbang pembebasan dari penjara katarsis rindu. Meski dengan senyuman yang menggores kesedihan. Aku adakan perjanjian dengan hipokrit kepada bumi: Bahwa perpisahan adalah perjumpaan yang tertunda. Lalu kudekap ingin di gerbang pintu jarak. Menghibur diri dengan ingatan malam pembasuhan cawan terakhir. Saat kita bersekutu pada titik kulminasi kesatuan semesta. Maksud hati ingan memasuki surga, ternyata kita menemukan lubang neraka. Namun itulah malam terakhir paling indah sebelum tubuh kita meregang pada kutukan setan kesementaraan.

Kini. Di sini. Tubuh kodrati bertapa di antara awan legam yang retak. Tak kuasa mempercepat laju kilometer. Walau suara segala horizon semesta menderu, memanggilku untuk melekat. Membubuhi tanda tanya dengan ciuman panjang. Dan kau perlu tahu, aliran listrik tubuhku telah meronta ingin pulang kembali ke pangkuan kesadaranmu, bersama kilat dan guntur. Karena burung-burung dab ikan-ikan di sekelilingku tetap membuatku tak bergeming pada transformasi. Namun, kau sudah tahu, bahwa bayang-bayang kecantikan modernitas sudah kedaluarsa. Telah kubongkar ulang defenisi, bersama keringatmu yang pernah terlempar ke mulutku dengan lugas. Pun telah kuhancurkan siluet moralitas dalam teks-teks raksasa. Lewat getar lahar gunung yang nir-kepentingan. (2010)

Kebenaran Cinta Nietzsche

Memang tak ada kebenaran absolut. Kebenaran bagi kita dan Nietzsche adalah sebuah fungsi aktivitas. Sesuatu yang sering kita lakukan, semisal menihilkan kesepian. Kebenaran adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meluhurkan “kehendak untuk berkuasa”. Suatu dinamika. Realitas yang terus berubah. Tak pernah statis untuk segala waktu dan tempat. Seperti ciuman gila nostalgik yang kita lakukan di pojok ATM. Pun kriteria kebenaran rindu adalah kriteria fleksibel. Sebuah “ilusi”, sebagai suatu fiksi penuh manfaat. Namun selalu menuntut niat perjumpaan. Membimbing kehendak untuk berkuasa dalam chaos besar dan monumental: meggetarkan dinding malam dan langit berbintang.

Percumbuan adalah salah satu “bentuk khusus” dari kehendak untuk berkuasa. Karena hidup sudah terlanjur dipenuhi insting-insting yang dikendalikan sebuah kekuatan yang dominan: intelegensi, suara hati, dorongan seksual, bau alkohol, dsb. Penggabungan perbagai kekuatan itu senantiasa memicu dentuman besar ekspresi diri. Sehingga, kita bercumbu bukan untuk berada, melainkan kita berada untuk bercumbu. Karena kebenaran adalah apa yang kita kerjakan, bukan yang kita temukan atau kita miliki. Dan sublimasi kehendak untuk berkuasa adalah mengasuh insting primordial itu, sebuah proses vital. Walau kerap jadi fakta brutal dalam telanjang yang terburu-buru.

Pun pergumulan kita selalu merujuk pada Nietzsche: sebuah Dinamit! Dinamit hasrat yang selalu meledak di bilik malam. Banyak yang memuja, namun lebih banyak tetangga yang mengutuk. Karena seakan sebuah ketidakseriusan. Suara kenikmatanmu melolong membongkar ketenangan malam. Kehendak untuk berkuasa terbaik adalah bercinta, dan bukan yang lain, katamu membela diri. Kau menguasaiku sepenuhnya, dan aku mengafirmasinya dengan utuh. Malam-malam kita pun menjadi ajang perebutan posisi kekuasaan tindih. Proposisi ambiguitas hunjam, kontradiksi pagut, paradoks desah, mobilitas debar dan perubahan degup, berikhtiar terus-menerus. Ya. Sebuah diskontinu. Melegitimasi ketegangan dan permusuhan: saling menaklukkan. Satu bentuk tendensi eksistensial atau gerak fundamental dalam dominasi cumbu. Yang berakhir dengan asimilasi jumlah kekuasaan: saat kelamin mengada, menyata, dan meledak dalam keselarasan tubuh yang lunglai. (2010)

Daftar Pustaka:

Grimm, Ruediger Hermann, Nietzsche’s Theory of Knowledge, Berlin, New York: Walter de Gruyter, 1977

Kristianto, Dwi , Konsep Friedrich Nietzsche Tentang Kebenaran, dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXVII, No.2, Jakarta 2004.