Romo Mangun, Pejuang Kemanusiaan

Oleh ST Sularto

Sergius Sutanto, pengarang Romo Mangun: Sebuah Novel butuh satu tahun lebih untuk membangun sosok karakter Romo Mangun. Lewat banyak wawancara, studi pustaka, melacak berbagai jejak langkah termasuk warisan karya Romo Mangun, dia berhasil menemukan kekhasan Romo Mangun. Opsi dasar perjuangan dan api semangat Romo Mangun mencakup semua bidang dan ranah keahlian dan kegiatan. Pemikiran dan karyanya merupakan obsesinya bagi penghargaan manusia dan kemanusiaan. Sergius mampu menangkapnya secara tepat dan tajam, tidak direduksi faktor-faktor sampingan lainnya, menarik satu benang penceritaan yang enak dinikmati.

Dibuka dengan Prolog tentang kepongahan kekuasaan lewat pengepungan tentara pada 17 Juni 1989-selagi Romo Mangun mempersembahkan misa di Sumberlawang (Kedung Ombo)-disisipi teriakan sarkastis “bedhil bae, ilang perkara.”, kisahnya menggebrak halaman-halaman awal (hal xxiv-xxx).

Epilog menutup kisah perjuangan yang dibagi secara kronologis, terasa sebagai kronik sebagian kegiatan yang dianggap oleh pengarang menonjol. Cerita diakhiri dengan pertemuan imajiner Romo Mangun dengan ibunya, Ibu Sumadi, yang sudah meninggal. Bu Sumadi melambaikan tangan, persis sama ketika Mangun meninggalkan rumah Jalan Poncol 66, menuju stasiun kereta api Magelang, masuk seminari menengah di Kotabaru.

Dengan beragamnya warna dan luasnya kegiatan Mangun, pengarang bekerja ekstra ketat agar benang merah yang ditariknya tidak berbelok. Benang merah itu dipegangnya erat-erat, nyaris kaku dalam membangun fiksi biografi Romo Mangun.

Bagian Penutup, sekaligus klimaks novel-terpenting kisah perjuangannya membela hak asasi kemanusiaan-dinarasikan dramatis, betapa Mangun dan Frater Yatno bermain-main dengan kematian. Ibarat intelijen, Frater Yatno-rekan kerja dan murid perjuangannya-yang tertangkap tentara merasa hidup dan mati tinggal berdinding tipis (hal 390-391). Yatno merasa masih boleh hidup dalam kesempatan kedua. Ia hanya dibawa putar-putar, lantas ditinggalkan di pinggir jalan, tidak ditembak mati di kegelapan malam. Begitu juga Romo Mangun. Harus mengapung di atas rakit selama tujuh hari di tengah genangan Waduk Kedung Ombo-sendirian-menghindari keganasan tentara. Setelah keadaan mulai tenang, penduduk menjemput Mangun kembali (hal 394).

Haus. Haus. Haauus.

Pengalaman sebagai Tentara Pelajar menanamkan kebencian lain, di samping terhadap praktik penjajahan Belanda dan Jepang, juga nafsu rendah manusia. Rintihan seorang kakek yang dituduh mata-mata Belanda, “haus-haus”, tertanam dalam hati Bilyarta. Bersama temannya, Darman dan Pujiono, ia tidak berani memberikan air, tidak juga berani mendekat. Mereka yang bertugas jaga malam itu membiarkan kakek tua tertuduh mata-mata itu merintih kehausan (hal 93).

Benarkah kakek itu mata-mata NICA? Tidak jelas. Sebab, setelah NICA membakar desa dan membunuhi penduduknya-markas pejuang di Mranggen-kakek itu tertangkap hidup-hidup oleh tentara Republik. Dia selamat karena bersembunyi di tengah kebun jagung. Disiksa habis-habisan, lantas dionggokkan dengan kaki dan tangan terikat di pendopo, dan dipersilakan siapa pun boleh menyiksa. Pagi harinya, setelah semalam dengan badan rusak tak berbentuk lagi dan merintih kehausan, kakek itu sudah tidak ada lagi. Dibawa ke tengah hutan jati dalam kondisi tak bernyawa, menyisakan darah kering dan tiang kayu.

Benarkah dia pengkhianat? Benarkah cara menyiksa sesama sebagai balas dendam atau tujuan memperoleh pengakuan? Gugatan manusiawi itu menghunjam di hati dalam perjalanan hidup Mangun selanjutnya. Pengalaman melihat sendiri bagaimana komandannya memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Menyita dua keranjang tembakau kering milik penduduk yang akan dijual ke pasar, dan menjualnya ke toko di Semarang (hal 84-91).

Pengalaman Mangun sebagai prajurit Tentara Pelajar, kepongahan kekuasaan, menyopiri komandan batalyon Soeharto menjemput jenazah pejuang yang dibunuh di Kedungjati oleh pengarang dijadikan eksplanasi sekaligus awal kepedulian Romo Mangun di kemudian hari. Romo Mangun tidak bangga sebagai bekas anggota Tentara Pelajar yang diawalinya sebagai sopir dan pengantar makanan pada November 1945. Perang membuka ruang tak terbatas untuk menghalalkan segala cara sekaligus mengeksploitasi nafsu serakah-hewani manusia. Perang juga memutus proses pendidikan seminari menengahnya, panggilan dan cita-citanya sebagai pastor tumbuh kembali ketika menempuh pendidikan di SMA Katolik St Albertus di Malang.

Warisan kepedulian

Dalam mengembangkan cerita, pengarang kurang menarik dengan tegas garis-garis yang tajam, antara berbagai kejadian yang pernah dialami Bilyarta dengan saat Mangun berkarya untuk kaum miskin dan terpinggirkan di pinggir Kali Code, maupun pembelaan terhadap korban proyek Kedung Ombo. Romo Mangun dan kawan-kawan bukan melawan rencana pembangunan waduk, tetapi menggugat cara dan pemberian ganti rugi yang layak bagi penduduk.

Pengarang kurang menceritakan garis yang tegas bahwa benih kepedulian Romo Mangun terhadap penghargaan harkat dan martabat kemanusiaan yang dijalaninya lewat berbagai bidang itu dipicu kasus kakek tua. Bisa saja pengarang tidak memperhatikan dengan harapan pembaca sendiri tahu. Padahal, justru dengan penajaman kembali kedua peristiwa itu, sosok Romo Mangun sebagai pejuang manusia dan kemanusiaan akan lebih menonjol dan bernas.

Pengarang perlu diapresiasi berhasil membangun dan mengembangkan karakter tokohnya, selain tokoh utama Romo Mangun. Wahono, misalnya, karena inklinasi buku-buku bacaan dan minatnya, membuat bingung seorang Bilyarta kecil tentang pernyataan Tuhan itu candu (hal 56-59). Apa yang disampaikan Wahono berbeda dengan pengetahuan yang diperolehnya selama ini dari kedua orangtuanya. Atau juga sosok Darman dan Pujiono, teman-teman seperjuangan sebagai anggota Tentara Pelajar.

Banyak sudah warisan Romo Mangun untuk bangsa ini, puluhan judul buku ditulis tentang sosok berikut warna-warni hidupnya. Novel ini lain sebab mengisahkan salah satu sisi perjuangan Romo Mangun sebagai pejuang harkat dan martabat manusia dalam bentuk fiksi. Jaya Suprana dalam diskusi bedah buku di Jakarta, akhir Agustus lalu, mengatakan, “Gus Dur adalah Romo Mangun-nya Islam, sedangkan Romo Mangun adalah Gus Dur-nya Katolik, ya, bisa dibilang gitu kira-kira”. Difilmkan untuk legacy (warisan) Romo Mangun bagi bangsa ini? Mengapa tidak?


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 24 dengan judul “Romo Mangun,Pejuang Kemanusiaan”.

Takar Buku: Catatan Tentang Muak dan Mual

catatan-bawah-tanah

Catatan dari Bawah Tanah

by Fyodor Dostoyevsky, Asrul Sani (translator)

Published: 1992 by Pustaka Jaya (first published 1861)

Details: Paperback, 171 pages

Oleh: John Ferry Sihotang

“Aku sakit… Aku orang pendendam. Aku orang yang tidak menarik. Aku yakin hatiku mengindap penyakit.”

Begitulah buku Catatan dari Bawah Tanah dibuka penulisnya, Fyodor Dostoyevsky, raksasa sastra dan seorang pemikir (eksistensialis) besar Rusia pada abad ke-19. Prosa terjemahan Asrul Sani ini adalah cerita tentang seorang lelaki “aku”, pesakitan yang mencoba mewaraskan diri dengan menulis catatan. Catatan katarsis! Di mana ia menuangkan segala isi hatinya dengan bebas. Catatan itu mengendap hitam selama 40 tahun, dari rasa muak dan mual pada dunia. Seperti seorang psikopat jenius, “aku” meradang di pojok sepinya, menulisi kata-kata yang sakit, sarkas, dan mengerang, tentang pergulatan batinnya di tengah kemelut zamannya; sembari tak lupa mengolok-olok diri sejadi-jadinya, sebagai yang teralineasi.

Novel– lebih tepatnya disebut novelet atau bahkan cerpen yang panjang —  setebal 171 halaman ini ditulis intens, tertata sedemikian rupa, dan mampu mengaduk-ngaduk emosi pembaca. Dostoyevsky mencoba mengangkat perenungan besar tentang kecemasan, kejahatan, kesemuan, kegilaan, dan kesakitan manusia modern. Kendati tokoh imajiner “aku” digambarkan anonim dan berkarakter negatif (tak punya watak moral), buku ini tetaplah menawarkan kemungkinan baru pengayaan makna, berkaitan dengan situasi eksistensial manusia yang gamang berhadapan dengan dunianya.

Sedikit Eksistensialis

Buku tipis ini hanya terdiri dari dua bab, dengan alur mundur. Dalam bab pertama, tokoh “aku” digambarkan sebagai lelaki berumur 40 tahun, menulis serentak meracau dalam bentuk monolog: bagaimana ia akan merasakan kesenangan yang dalam sekali bila berhasil membuat orang susah; bagaimana ia seorang yang lebih unggul dalam hal inteligensia,namun ditolak lingkungan sosialnya; bagaimana ia mudah kesal, benci, dan dendam pada segala hal; dll. Karakter yang aneh, memang.

Karakter “aku”, sebagai tokoh sentral sekaligus narator dalam novelet ini, adalah”aku” dalam arti eksistensialis; pengarang Dostoyevsky adalah eksistensialis dalam sastra, dan konon, filsuf eksistensialis cum sastrawan Jean Paul Sarte adalah penggemar Dosto. Tokoh “aku”, (seperti galibnya novel-novel eksistensialis?), adalah manusia pesakitan, tak jelas identitas, gembel, namun begitu memuja rasio; mirip “tokoh kita” dalam novel-novel Iwan Simatupang. Tokoh “aku” ini seorang pemuda penuh kebencian dan dendam. Tak jelas apa yang membuatnya benci dan dendam terhadap segala hal, bahkan terhadap dirinya sendiri; boleh jadi karena filsafatnya sendiri, seperti ditulisnya:

“Ya, lelaki abad ke-19 harus menjadi dan terutama memiliki moral orang yang tidak punya watak sama sekali; manusia berwatak, manusia yang gesit, pada dasarnya adalah seorang manusia terbatas.” Di sinilah letak dilema, ambiguitas, dan paradoks kecacatan manusia dalam jubah modernitas. Tokoh “aku” unggul dalam hal intelektual, juga pecinta kebenaran, keadilan, dan kejujuran; namun gagal dalam pergaulan, pun dalam cinta. Ia benci kepada kepura-puraan, kekenesan, kesantuan… benci akan semua hal — bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia lebih suka menikmati kemurungan,  kesendirian, lalu meminum racun kesepiannya, sendiri, di ruang bawah tanah.

Di dalam bab ini juga, Dosto seolah ingin membuat distingsi dua jenis manusia. Manusia atas dan manusia lemah. Manusia atas terbebas dari nilai-nilai, hukum tak berlaku untuk mereka, dan boleh berbuat sesukanya, walaupun kejam, tak boleh disebut kejahatan, karena itu dilakukan untuk kebaikan banyak orang; watak yang terkesan membanggakan, bahkan menyombongkan, penyakitnya sendiri. Sedangkan Manusia lemah adalah manusia-manusia yang ikut arus mainstream, cecunguk penuh kepura-puraan, manusia kerumunan yang tak jelas eksistensinya. “Aku satu, mereka semua,” kata Dosto melukiskan kedua jenis manusia ini. Tokoh”aku”, dengan segala irasionalitasnya, boleh kita lihat sebagai jenis manusia pertama.

Sedikit Sosialis

Bab kedua tentang aib yang keji, (tentang salju yang basah, kata naratornya), yang membuat tokoh “aku” meracau di bab pertama. Cerita aib ini terjadi 16 tahun sebelumnya, saat tokoh “aku” berumur 24 tahun. Bab ini kian menegaskan keterasingan tokoh “aku” dari dunia kerja, dari persahabatan, dari lingkungan kontrakan busuknya, dengan dialog-dialog yang kuat. Ia sungguh telah terisolasi dari seluruh dunia luar.

Cerita tentang aib yang keji itu cukup sederhana. Suatu hari tokoh “aku” dan beberapa kawan sekolahnya mau mengadakan pesta perpisahan kecil kepada seorang kawan yang akan pindah tugas kemiliteran ke kota lain, padahal ia tak suka pesta. Saat pesta berlangsung, dia malah kesal bukan main karena tak diberitahu kalau acara mundur, lalu mulai menguji kecerdasannya dengan menembakkan kritik pada kemunafikan, kekenesan, dan keinginan semu para kawannya. Semua orang, kecuali dia, bersenang-senang dengan botol-botol minuman. Tokoh aku hanya terabaikan. Untuk menarik perhatian, ia mengajak tengkar semuanya — yang akhirnya meninggalkannya sendirian. Ia pun hanya bisa memaki-maki semua yang pergi, juga memaki-maki dirinya karena tak pernah bisa berdamai dengan apa pun. Ia kejar “gerombolan” itu, bersama makian dan umpatan, sampai ke tempat pelacuran.

Meski terkesan sakit jiwa,  tokoh “aku” adalah seorang humanis, atau mungkin lebih tepat sedikit sosialis. Dan tampaknyaia mengagungkan cinta, atau mungkin menganggap cinta itu adalah Tuhan yang nyata. Tak disangka-sangka, si manusia pesakitan ini bisa juga jatuh cinta! Kepada seorang pelacur muda pula! Rupanya cinta itu lahir di sembarang tempat, seperti kata Phutut EA. Setelah perkelaminan absurd, ia memberi nasehat dengan bercerita tentang nasib seorang pelacur tua yang membusuk di sudut kota; lalu ia menawarkan si perempuan muda supaya meninggalkan lembah pelacuran, dan datang ke rumahnya (sebagai “pemilik” rumah cinta sesungguhnya). Kata-kata tokoh “aku”, misalnya, “kepedihan pun akan terasa manis karena adanya cinta,” begitu berkesan pada si pelacur muda, hingga membuat perempuan itu haru, menuang air mata penuh-penuh. Tapi, tentu saja, kata-kata cemerlang itu dikatakannya dalam keadaan mabuk; tak lama setelah tokoh aku menenggak alkohol penuh-penuh ke mulutnya, lalu mengejar “gerombolan” itu untuk menuntaskan dendam dan kebenciannya.

Akhir cerita, si pelacur muda datang. Tokoh aku justru panik. Ia malah kehilangan kepercayaan diri dengan kegembelan dan kekumuhan kontrakannya, lalu membuat perang kata-kata dengan pengurus kontrakan tersebut. Dalam sadarnya, ternyata, ia menyesali wejangan yang pernah diucapkannya pada pelacur muda itu. Ia justru tak bisa membayangkan hidup dengan cinta. Ia paranoid dengan idea kehidupan rumah tangga. Ia sebenarnya mau, tapi tak sanggup. Atau ia sanggup, tapi tak bisa. Entahlah. Ia malah bertingkah seaneh-anehnya agar si pelacur segara minggat; meski sesudahnya ia coba mengejar kembali, tapi sia-sia. Ia hanya mampu kembali meringkuk di sudut kamarnya, di sudut sesal dan sakitnya, di sudut mual dan isengnya, di bawah tanahnya yang suram.

Dunia yang Sakit

Demikian cerita singkat tentang aib yang keji itu, tentang keterasingan yang pahit itu.Tentang seseorang yang kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai oleh manusia di lingkungan pergaulannya. Aib yang kemudian dipahatkannya menjadi catatan katarsis, catatan dari bawah tanah–boleh jadi sebagai metafor alam bawah sadar manusia, “id”, istilah psikologinya.

Karena itu pula buku ini terkesan, atau boleh dimasukkan, sebagai karya sastra psikologi, karena mampu menyusuri lorong-lorong gelap jiwa manusia. Akan tetapi, Dosto tak pernah mau disebut seorang psikolog. Ia justru mengaku sebagai realis, seperti pernah ditulisnya dalam catatan hariannya: “I am called a psychologist, it’s not true, I am only a realist in the highest sense, i.e. I depict all the deepths of the human soul.”

Entah jenis karya sastra apa pun ini, buku kecil ini adalah gambaran dunia kita, “dunia yang sakit”, dunia patologis. Dunia yang tak pernah sehat, apalagi sempurna. Dunia di mana kesempurnaan hanyalah ilusi kekanak-kanakan yang kekal. Dunia yang selalu cacat. Dunia yang tak pernah cukup besar hati untuk memberikan kebahagiaan penuh bagi penghuninya. Dunia yang selalu iri pada cinta dan keharmonisan. Dunia yang menyimpan cemburu, benci, dan dendam pada kesementaraan. Ya, dunia yang tak pernah terpahamkan.***

PS: Bacalah buku ini, ketika kamu sudah mulai muak dengan buku-buku penuh moral, atau buku-buku megalomania yang ditimpa waham kebesarannya sendiri.

Review Buku: Jurnal yang Melampaui Jurnalisme

Oleh Taufik Rahzen

Dalam naskah klasik Nagara Krtagama (1365 M), Mpu Prapanca dengan rendah hati menyebutkan bahwa apa yang dibabarkannya hanyalah catatan perjalanan sang Prabu Hayam Wuruk mengelilingi dan melihat keragaman desa (Desawarnana).

Pada bagian akhir pupuh 375-6, ada tambahan bahwa penggambaran tentang desa dan desa semata tidaklah lengkap dan belum selesai. Ia harus dirampungkan dengan catatan tentang sang kala dan pengetahuan tentang lambang (citra, patra).

Banyak pihak mengandaikan naskah Nagara Krtagama (Desawarnana) sebagai naskah jurnalistik pertama Nusantara karena syarat dasar 5W1H (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana) terekam jelas. Naskah ini membalikkan tradisi penulisan yang berpusat pada dewa dan kahyangan menjadi catatan perjalanan manusia dan desa di bumi. Waktu sejarah disusupkan dalam peristiwa keseharian, dicatat dan diberi tanda.

Jika demikian adanya, agaknya hampir tujuh abad, harapan Mpu Prapanca dapat digenapkan oleh himpunan catatan perjalanan Ekspedisi Cincin Api, yang dirangkum dalam bentuk buku oleh Ahmad Arif dengan judul Ekspedisi Kompas: Hidup Mati di Negeri Cincin Api. Buku itu akan diluncurkan Rabu malam ini di Bentara Budaya Jakarta.

Desa, kala, patra

Mengikuti Ekspedisi Cincin Api yang ditampilkan secara reguler di koran, melalui daring sosial, dan Kompas TV, ternyata berbeda dengan membaca bukunya. Keserentakan, kebaruan, dan watak media—meski mewartakan hal yang sama—justru melahirkan sensasi pengalaman yang berbeda.

Melalui buku, kita diajak untuk terlibat sekaligus mengambil jarak. Pembacaan teks menuntut sebuah bingkai dan cara pandang, sesuatu yang tak diperlukan saat menonton di multimedia. Buku memadatkan semua pengalaman bersama dan rangkaian peristiwa sebagai pengalaman eksistensial. Masa yang jauh ditarik dalam perbincangan sehari-hari, sementara sebuah tempat tidaklah diwakili dengan nama saja, tetapi berubah sebagai sebuah tanda, sebuah torehan dalam sejarah.

Dalam buku ini, Tambora, Krakatau, dan, Toba misalnya, tidaklah merujuk pada sebuah tempat atau lanskap geologis. Nama itu mewakili sebuah peristiwa, sebuah penanda dalam waktu, yang mengawali atau mengakhiri sebuah masa.

Ekspedisi ini membawa para ahli arkeologi, botani, geologi, antropologi, bahasa, dan sejarah dalam suatu karnaval untuk membuat peta baru. Peta yang ditenun dari pengetahuan dan ingatan, dari penelitian dan dugaan, dari keyakinan dan mitos. Membaca ekspedisi Cincin Api dengan kekayaan sejarah alamnya menyadarkan kita bahwa hiruk pikuk politik hanyalah pernik atau kebetulan dalam sejarah.

Dengan caranya sendiri, ekspedisi mengajak pembacanya untuk melakukan penziarahan bersama dalam melacak sekaligus menyusun identitas diri. Bahwa kita mewarisi tanah dan air yang mudah goyah dan dibentuk setiap saat, mewarisi gairah untuk mati dan gairah untuk hidup yang sama besarnya.

Karena itu, jurnalisme yang melatari dan menghasilkan Cincin Api bukanlah jurnalisme biasa. Berbeda dengan jurnalisme investigatif yang berusaha menyingkap hubungan kausal peristiwa dengan kritis dan mendalam. Juga bukan jurnalisme baru yang mengembalikan narasi dan bahasa pada kehangatan hidup manusia.

Jurnalisme Cincin Api mencoba membabarkan sekaligus melampaui peristiwa, sebuah rekaman yang bersifat antisipatoris. Ia meletakkan alam, benda- benda, peristiwa, ingatan, pengetahuan, bencana, dan daya hidup dalam sistem kesadaran bersama. Masa lampau yang panjang dan masa kini dipadatkan untuk menyusun tindakan bagi mereka yang belum lahir.

Jurnalisme ini memadukan dengan organik, kesatuan antara desa (ruang, alam); kala (waktu, bencana); dan patra (lambang, logos). Dengan memadukan kecerdasan kolektif dengan teknologi digital, kita sedang menyaksikan apa yang sementara ini disebut beyond journalism atau jurnalisme yang melampaui.

Gunung dan samudra

Berbeda dengan ekspedisi Kompas sebelumnya, Anyer-Panarukan, Bengawan Solo, Kapuas, ataupun Nusa Tenggara yang menggunakan pendekatan investigatif dalam pelaporan jurnalistiknya, Ekspedisi Cincin Api, sesuai dengan namanya, memilih gunung dan samudra sebagai desa penjelajahan.

Dalam kepercayaan Nusantara, gunung bukanlah tempat netral, melainkan pusat jagat tempat pertemuan dunia atas dan bawah, pertemuan antara yang sakral dan profan, antara kehidupan dan kematian. Masyarakat Nusantara percaya adanya Dewa Gunung, sebagai dewa tertinggi yang mengatasi dewa yang datang kemudian. Hyang Acalapati pada masa Hayam Wuruk atau Parwataraja pada masa Airlangga (Kakawin Arjunawiwaha) atau Parwatandtha (Nagara Krtagama) dan Girindtha (Sutasoma).

Namun, gunung tidaklah berdiri sendiri, tetapi berpasangan secara organis dengan samudra, yang kemudian melahirkan konsep dasar Segara-Giri sebagai rujukan istilah tanah dan air.

Membaca catatan perjalanan tentang Tambora (1815), Krakatau (1883), Agung (1963), Merapi (2010), dan Gamalama, sama memukaunya dengan pemaparan tentang tsunami Aceh, Padang, atau Pangandaran. Semuanya mengantar pada kesadaran betapa ringkihnya kita hidup dalam sabuk bencana. Namun dengan caranya sendiri, masyarakat mampu mengelola kecemasan dan harapannya.

Saya tergoda untuk membandingkan, apa yang dilakukan oleh Ekspedisi Cincin Api ini dengan perjalanan Danhyang Nirartha yang melakukan penziarahan dari gunung ke gunung dan memperindah samudra.

Saat mulai runtuhnya Majapahit dengan mulai bangkitnya Islam, Rsi Nirartha melakukan perjalanan Dharmayatra (1489 M) dari Semeru, Bromo, Blambangan, Agung, Rinjani, dan Tambora selama 20 tahun. Ia berinteraksi sekaligus membangun komunitas. Jika di gunung ia meninggalkan pura pemujaan yang indah dan komunitas plural yang kuat, di pantai samudra ia meninggalkan warisan yang kita kenal saat ini dengan Tanah Lot, Uluwatu, Ponjok Batu, Sakenan, dan puluhan pura indah lainnya sepanjang perjalanan. Ia jadikan tempat penziarahannya sebagai sistem pengetahuan yang dapat dinikmati bergenerasi-generasi.

Bagi Nirartha, tujuan perjalanan sesungguhnya bagaimana mengabadikan candi sastra, di mana keindahan, kebenaran, keabadian, dan kesucian dapat dialami bersama dalam komunitas. Hal itu dapat dicapai melalui penerapan keseimbangan rasa, basa, masa, dan yasa. Keserasian rasa seni, bahasa pengetahuan, masa sejarah, dan monumen karya yang berpadu pada keseimbangan yang hidup yang menjadikan abadi dan bermakna.

Setahun lalu, saat memperingati hari Jurnalistik Indonesia, 7 Desember 2011, Newseum Indonesia memberikan Anugerah Tirto Adhi Soerjo untuk Ekspedisi Cincin Api atas pencapaiannya yang menggetarkan dalam tradisi jurnalistik. Ekspedisi ini secara kreatif melanjutkan tradisi besar Prapanca dan Nirartha, tetapi sekaligus membuka pemahaman baru terhadap diri kita, komunitas, dan lingkungan di mana kita bertahan hidup.

Taufik Rahzen Pendiri Newseum Indonesia; Dewan Kurator Anugerah Tirto Adhi Soerjo

 

Sumber: Kompascetak, 12 Desember 2012