Romo Mangun, Pejuang Kemanusiaan

Oleh ST Sularto

Sergius Sutanto, pengarang Romo Mangun: Sebuah Novel butuh satu tahun lebih untuk membangun sosok karakter Romo Mangun. Lewat banyak wawancara, studi pustaka, melacak berbagai jejak langkah termasuk warisan karya Romo Mangun, dia berhasil menemukan kekhasan Romo Mangun. Opsi dasar perjuangan dan api semangat Romo Mangun mencakup semua bidang dan ranah keahlian dan kegiatan. Pemikiran dan karyanya merupakan obsesinya bagi penghargaan manusia dan kemanusiaan. Sergius mampu menangkapnya secara tepat dan tajam, tidak direduksi faktor-faktor sampingan lainnya, menarik satu benang penceritaan yang enak dinikmati.

Dibuka dengan Prolog tentang kepongahan kekuasaan lewat pengepungan tentara pada 17 Juni 1989-selagi Romo Mangun mempersembahkan misa di Sumberlawang (Kedung Ombo)-disisipi teriakan sarkastis “bedhil bae, ilang perkara.”, kisahnya menggebrak halaman-halaman awal (hal xxiv-xxx).

Epilog menutup kisah perjuangan yang dibagi secara kronologis, terasa sebagai kronik sebagian kegiatan yang dianggap oleh pengarang menonjol. Cerita diakhiri dengan pertemuan imajiner Romo Mangun dengan ibunya, Ibu Sumadi, yang sudah meninggal. Bu Sumadi melambaikan tangan, persis sama ketika Mangun meninggalkan rumah Jalan Poncol 66, menuju stasiun kereta api Magelang, masuk seminari menengah di Kotabaru.

Dengan beragamnya warna dan luasnya kegiatan Mangun, pengarang bekerja ekstra ketat agar benang merah yang ditariknya tidak berbelok. Benang merah itu dipegangnya erat-erat, nyaris kaku dalam membangun fiksi biografi Romo Mangun.

Bagian Penutup, sekaligus klimaks novel-terpenting kisah perjuangannya membela hak asasi kemanusiaan-dinarasikan dramatis, betapa Mangun dan Frater Yatno bermain-main dengan kematian. Ibarat intelijen, Frater Yatno-rekan kerja dan murid perjuangannya-yang tertangkap tentara merasa hidup dan mati tinggal berdinding tipis (hal 390-391). Yatno merasa masih boleh hidup dalam kesempatan kedua. Ia hanya dibawa putar-putar, lantas ditinggalkan di pinggir jalan, tidak ditembak mati di kegelapan malam. Begitu juga Romo Mangun. Harus mengapung di atas rakit selama tujuh hari di tengah genangan Waduk Kedung Ombo-sendirian-menghindari keganasan tentara. Setelah keadaan mulai tenang, penduduk menjemput Mangun kembali (hal 394).

Haus. Haus. Haauus.

Pengalaman sebagai Tentara Pelajar menanamkan kebencian lain, di samping terhadap praktik penjajahan Belanda dan Jepang, juga nafsu rendah manusia. Rintihan seorang kakek yang dituduh mata-mata Belanda, “haus-haus”, tertanam dalam hati Bilyarta. Bersama temannya, Darman dan Pujiono, ia tidak berani memberikan air, tidak juga berani mendekat. Mereka yang bertugas jaga malam itu membiarkan kakek tua tertuduh mata-mata itu merintih kehausan (hal 93).

Benarkah kakek itu mata-mata NICA? Tidak jelas. Sebab, setelah NICA membakar desa dan membunuhi penduduknya-markas pejuang di Mranggen-kakek itu tertangkap hidup-hidup oleh tentara Republik. Dia selamat karena bersembunyi di tengah kebun jagung. Disiksa habis-habisan, lantas dionggokkan dengan kaki dan tangan terikat di pendopo, dan dipersilakan siapa pun boleh menyiksa. Pagi harinya, setelah semalam dengan badan rusak tak berbentuk lagi dan merintih kehausan, kakek itu sudah tidak ada lagi. Dibawa ke tengah hutan jati dalam kondisi tak bernyawa, menyisakan darah kering dan tiang kayu.

Benarkah dia pengkhianat? Benarkah cara menyiksa sesama sebagai balas dendam atau tujuan memperoleh pengakuan? Gugatan manusiawi itu menghunjam di hati dalam perjalanan hidup Mangun selanjutnya. Pengalaman melihat sendiri bagaimana komandannya memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Menyita dua keranjang tembakau kering milik penduduk yang akan dijual ke pasar, dan menjualnya ke toko di Semarang (hal 84-91).

Pengalaman Mangun sebagai prajurit Tentara Pelajar, kepongahan kekuasaan, menyopiri komandan batalyon Soeharto menjemput jenazah pejuang yang dibunuh di Kedungjati oleh pengarang dijadikan eksplanasi sekaligus awal kepedulian Romo Mangun di kemudian hari. Romo Mangun tidak bangga sebagai bekas anggota Tentara Pelajar yang diawalinya sebagai sopir dan pengantar makanan pada November 1945. Perang membuka ruang tak terbatas untuk menghalalkan segala cara sekaligus mengeksploitasi nafsu serakah-hewani manusia. Perang juga memutus proses pendidikan seminari menengahnya, panggilan dan cita-citanya sebagai pastor tumbuh kembali ketika menempuh pendidikan di SMA Katolik St Albertus di Malang.

Warisan kepedulian

Dalam mengembangkan cerita, pengarang kurang menarik dengan tegas garis-garis yang tajam, antara berbagai kejadian yang pernah dialami Bilyarta dengan saat Mangun berkarya untuk kaum miskin dan terpinggirkan di pinggir Kali Code, maupun pembelaan terhadap korban proyek Kedung Ombo. Romo Mangun dan kawan-kawan bukan melawan rencana pembangunan waduk, tetapi menggugat cara dan pemberian ganti rugi yang layak bagi penduduk.

Pengarang kurang menceritakan garis yang tegas bahwa benih kepedulian Romo Mangun terhadap penghargaan harkat dan martabat kemanusiaan yang dijalaninya lewat berbagai bidang itu dipicu kasus kakek tua. Bisa saja pengarang tidak memperhatikan dengan harapan pembaca sendiri tahu. Padahal, justru dengan penajaman kembali kedua peristiwa itu, sosok Romo Mangun sebagai pejuang manusia dan kemanusiaan akan lebih menonjol dan bernas.

Pengarang perlu diapresiasi berhasil membangun dan mengembangkan karakter tokohnya, selain tokoh utama Romo Mangun. Wahono, misalnya, karena inklinasi buku-buku bacaan dan minatnya, membuat bingung seorang Bilyarta kecil tentang pernyataan Tuhan itu candu (hal 56-59). Apa yang disampaikan Wahono berbeda dengan pengetahuan yang diperolehnya selama ini dari kedua orangtuanya. Atau juga sosok Darman dan Pujiono, teman-teman seperjuangan sebagai anggota Tentara Pelajar.

Banyak sudah warisan Romo Mangun untuk bangsa ini, puluhan judul buku ditulis tentang sosok berikut warna-warni hidupnya. Novel ini lain sebab mengisahkan salah satu sisi perjuangan Romo Mangun sebagai pejuang harkat dan martabat manusia dalam bentuk fiksi. Jaya Suprana dalam diskusi bedah buku di Jakarta, akhir Agustus lalu, mengatakan, “Gus Dur adalah Romo Mangun-nya Islam, sedangkan Romo Mangun adalah Gus Dur-nya Katolik, ya, bisa dibilang gitu kira-kira”. Difilmkan untuk legacy (warisan) Romo Mangun bagi bangsa ini? Mengapa tidak?


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 24 dengan judul “Romo Mangun,Pejuang Kemanusiaan”.

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s