Tanjung Balai: Kota Yang Belum Dilahirkan

Perahu-perahu nelayan yang tertambat pada pagi hari di Sungai Asahan, Tanjung Balai. ( WordPress/Ogy Febri Adlha.)
Perahu-perahu nelayan yang tertambat di Sungai Asahan, Tanjung Balai. (WordPress/ Ogy Febri Adlha.)

Oleh: John Ferry Sihotang

Kota ini berada di sisi paling timur Sumatera Utara. Ia dijuluki kota kerang. Kerang yang rindu menemukan ukuran dan bulu versi terbaiknya. Kadang ia dipanggil kota pelabuhan. Setiap hari ratusan kapal dan perahu bersandar murung di sana.

Namun, tak usah heran. Jika suatu waktu kau datang ke Tanjung Balai, kau tidak akan dapat memutuskan pelabuhan mana yang lebih menderita. Ia memang seperti sebuah kota yang belum dilahirkan, namun sudah dipenuhi kesedihan.

Kota kecil ini disesaki tumpukan pakaian bekas dari luar negeri; mengubah wajah kota jadi rombengan kumuh berbau asing sepenuhnya. Tanpa bentuk. Tanpa rupa. Berjalanlah di sepanjang lorong kota, lalu terus ke utara. Akan kau temukan got-got mampat menelan tikus-tikus raksasa yang mati tua karena bulu-bulu kucing pun gentar padanya. Akan kau temukan juga nyamuk-nyamuk berukuran sebesar lalat dewasa; membuat kota ini riuh oleh dengung yang sia-sia.

Dengung nyamuk-nyamuk itu seolah menyiratkan alam bawah sadar kota ini. Ia ada di mana-mana. Ia mengendap di tubuh-tubuh asin buruh yang bekerja dengan kepalan tinju, karena setiap hari harus bertarung melawan perasaan tertindas yang tak mudah dipahaminya. Ia, dengung itu, juga berdiam di rumah-rumah panggung kayu, yang deritnya bikin ngilu sekitar. Menggeliat di gerobak-gerobak sampah, di pondok-pondok kumuh sepanjang rel kereta. Ia juga lindap di “kafe-kafe” tak bernama; tepatnya gubuk berdinding muram namun berdesah basah — membuat anak-anak sekolah, yang baru disinggahi bulu aneh di selangkangannya, jadi dewasa seketika. Ia juga meniupkan gelagat putus asa lewat kepulan asap lintingan daun-daun ganja, lewat pecahan botol-botol vodka, di pekuburan-pekuburan kota.

Ia, dengung itu, adalah suara kaum tak bersuara. Menyimpan dendam rawa-rawa, sewaktu-waktu bisa meledak mengubah kota. Karena dendam itu mengkristal dari realitas kemiskinan, ketakberdayaan, kesenjangan, pengangguran yang sudah begitu getirnya; diperparah pula sekian lama diabaikan pemerintah.

Memang, Tanjung Balai sudah lama yatim piatu. Dulu pernah berjaya sebagai bandar dagang Asia Tenggara, kini nyaris tak kenal apa itu negara. Kalaupun dikatakan punya negara, kehadirannya cuma sekadar soal KTP, SIM, dan katebelece tak penting. Selebihnya hanya sebuah dusta bersama. Berlubang, berbaubusuk, bersampah, berairmata, di mana-mana. Kotamadya ini sudah lupa kapan kali terakhir punya wali kota. Anehnya, kota ini selalu bersemangat memilih gubernurnya meski tak pernah hapal nama lengkapnya kecuali ketika sang gubernur masuk penjara. Dan itu sungguh sapi sekali. Kota ini benar-benar sebatang kara, berjalan gontai dengan daya seadanya, mencari titik-titik kesetimbangannya, sendiri.

Aku pun sering bertanya, apa sesungguhnya syarat atau ukuran sebuah kota itu. Apakah hanya soal kepadatan pemukiman, pertokoan, kendaraan dan jalan-jalan, membedakannya dari kampung atau desa? Bila ukurannya adalah taman terbuka, sarana rekreasi, sebuah mall atau tertib berlalu lintas… percayalah, semua itu takkan kau temukan di Tanjung Balai. Hiburan paling beradab di kota ini hanyalah pasar malam, di mana keributan dan kesementaraan dirayakan berduyun-duyun.

Masuklah ke tengah kota, dan lihatlah. Di sana hanya ada beberapa rumah orang kaya, sebuah jembatan tua, sisanya adalah pasar-pasar berlumpur yang tak pernah mandi bertahun-tahun dengan pakaian rombeng yang itu-itu lagi. Gedung paling mewah justru tempat ibadah, dengan segala ornamennya. Kubah-kubah masjid, patung-patung vihara, dan lonceng-lonceng gereja adalah benda seni dan arsitektur paling paripurna di kota ini. Semuanya berdampingan, atau berhadap-hadapan, di tepi jalan. Rumah-rumah ibadah itu selalu tabah, setia dan terbuka, menawarkan keteduhan, atau untuk sekadar melupakan kesedihan, sekaligus merekatkan semua warga kota jadi tetangga dan saudara.

Begitulah Tanjung Balai yang kukenal sejak keluargaku meninggalkan kampung halaman dan memutuskan mengadu nasib di kota ini pada tahun berkobarnya bakar binakar atau kekejian 1998. Orangtuaku terpaksa harus melupakan profesi warisan leluhur: sebagai kaum bercocok-tanam. Orang tani di desa kami, sebagaimana di desa-desa lain di Tanjung Balai dan Asahan, telah dipaksa kalah oleh keadaan. Kaum tani di sana hanya bisa andalkan hujan karena seolah dikutuk untuk tak pernah kenal apa itu saluran irigasi. Kaum marhaen itu cuma diberi pilihan permanen: setengah tahun galengan-galengan sawah penuh padi sejauh mata memandang, lalu setengah tahun kemudian hanya bisa menonton tumpukan jerami yang dibakar di mana-mana.

Setelah delapan belas tahun tinggal di kota ini, ingatan akan aib yang keji itu kembali mengulang tanda, dengan luka dan rupa hampir sama. Puluhan kuil vihara, klenteng dan yayasan sosial milik umat Buddha dirusak dan dibakar massa tepat di jantung kota. Membuat kesedihan kota ini kian berlipat ganda. Kebarbaran itu sekaligus menampar-nampar sebuah negara, dan wajah kita semua.

Sudah kuceritakan sedikit soal keadaan Tanjung Balai di atas. Masihkah kau berpikir bahwa kekejian itu semata-mata disebabkan toa, patung, atau media sosial? Mungkinkah kebiadaban itu terjadi begitu saja karena sebuah salah paham belaka? Duh. Kok rasanya remeh sekali, seremeh buih di lautan yang dasarnya bergolak penuh dendam dan amarah. Kalau kau mengenal sedikit saja tentang kota ini, kau akan dipahamkan bahwa apa yang ditulis media belumlah mencukupi. Kiranya kita bisa belajar dari kota Tanjung Balai: Bahwa ketika kemiskinan dan ketertindasan sudah meriap di mana-mana, ketika pengangguran dan kejahatan sudah merajalela; maka kota itu, dan kita yang berdiam di dalamnya, hanyalah tumpukan jerami yang mudah terbakar.

Aku tak tahu kapan Tanjung Balai ini akan dilahirkan sebagai kota seutuhnya, menurut ukuran atau versi terbaiknya. Tapi orang-orang di kota ini, entah kenapa, selalu percaya: Bahwa sang waktu akan menyusun kesedihan-kesedihan mereka menjadi ladang kebahagiaan, suatu saat nanti. Hal itulah yang membuat kota ini tetap berdenyut, bersenyum, berpengharapan, meski kemiskinannya, kesedihannya, ketimpangannya sudah tak tertahankan, di seluruh kota.***