SBY yang Tak Selesai

Oleh John Ferry Sihotang

Saya cukup sering mengikuti pendapat Pak Susilo Bambang Yudhoyono di media cetak dan daring, khususnya setelah beliau turun dari takhta kepresidenan. Saya kagum membaca solusi-solusi yang ditawarkan Pak SBY atau Pak Beye. Beliau cukup bersemangat menyoroti dan menganalisa soal-soal kebijakan pemerintahan Joko Widodo. Dan, seperti biasanya, kata-kata Pak Beye tetap optismistis dan berpengharapan. Wajarlah, karena beliau presiden keenam RI; pernah menyelamatkan pelemahan rupiah, mengatasi kebakaran hutan, dan menyelesaikan beragam persoalan lain dengan segala terobosan atau kebijakan.

Saya apresiasi pilihan Pak Beye yang rela turun tangan. Terlibat dalam pusaran persoalan bangsa. Kebetulan saya penggemar kredo yang sekaligus menjadi judul buku Pak Beye: “Selalu Ada Pilihan”. Saya kira siapa pun tak rela negeri ini ditimpuki banyak persoalan, demikian pula dengan Pak Beye. Karena itu beliau memilih berbagi pengalaman, menawarkan jalan keluar, untuk membantu pemerintah kita mengatasi krisis. Pilihan Pak Beye ini bikin saya kagum.

Sayangnya, kekaguman saya hanya berumur pendek. Karena hari-hari ini saya gagap membedakan apakah Pak Beye sedang beropini sebagai mantan presiden atau sebagai ketua Partai Demokrat.

Saya agak heran, cenderung sebal. Uraian dan tanggapan Pak Beye di media, bagi saya, cukup mengganggu. Terkesan ‘meributi’ rezim sekarang. Rasa-rasanya beliau kok masih pengin nyari panggung, ya. Saya kira itu bukan jalan yang bijak untuk seorang negarawan. Mestinya Pak Beye sudah tak perlu capek-capek mengusik atau berkomentar soal ini itu karena beliau sudah banyak berkarya untuk negeri ini.

Bukankah negeri ini pun tak pernah lelah melahirkan komentator dan/atau kritikus? Ya. Rizal Ramli, misalnya, meski sudah jadi Menko Kemaritiman, ia masih tetap mengusung jurus rajawali ngepret-nya, bahkan wapres pun dikritik dan ditantang berdebat. Dari kalangan legislatif sudah ada duet terbising abad ini, yaitu Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Dan masih banyak yang lain. Pun di Facebook dan Twitter, tak terkira banyaknya kritikus dan komentator, dengan segala kedalaman dan kedangkalannya.

Tapi Pak Beye jelas tidak lagi selevel dengan para kritikus itu. Sudah tidak selevel dengan Rizal, Fahri, dan Fadli. Apakah Pak Beye tak mau kalah dari barisan kelas menengah bising jagat maya? Wajar kalau mereka cerewet, selain umumnya jauh lebih muda dari Pak Beye, mereka juga belum pernah jadi presiden. Saya termasuk di dalam barisan manusia cerewet itu. He-he-he.

Saya jadi menduga-duga, jangan-jangan Pak Beye ini orang tua yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Cobalah dulu kita cermati. Apakah etis Pak Beye mengomentari rezim Pak Joko sementara dulu beliau sudah sepuluh tahun di posisi itu? Apakah dulu di masa Pak Beye berkuasa ada perubahan yang membuat kita terus mengenangnya?

Saya tak menampik pandangan beberapa kawan di media sosial yang mengatakan bahwa siapa pun diharapkan berkontribusi untuk memberi solusi atas masalah-masalah di Tanah Air. Karena itu mereka juga mengapresiasi segala sorotan dan masukan Pak SBY pada rezim saat ini. Saya sih tidak terlalu keberatan sebenarnya. Tapi kok rasanya kurang pantas, ya.

George W. Bush melakukan langkah tepat. Mungkin Pak SBY mengikuti langkah mantan presiden AS itu. Seburuk-buruknya ia di mata rakyat Amerika, beliau tak pernah mencampuri pemerintahan Obama. Ia menghormati Pak Obama sebagai pemimpin tertinggi di negerinya. Ia sadar, sekarang ia cuma rakyat biasa. Ia percaya kepada Obama dan generasinya dalam menjalankan pemerintahan, dengan segala kapitalisma liberalisma sekularisma ndasma mamarikanya.

Saya hakulyakin bahwa Pak Beye juga kenal benar dengan Pak Habibie yang jenius itu. Pak Beye mestinya bisa mengikuti jejak Pak Habibie, yang memilih benar-benar pensiun dari dunia politik begitu turun takhta. Ia menarik diri dari panggung selebritas. Ia pilih jalan hening. Tak pernah ia ributi pemerintahan Gus Dur, Mbak Mega, Pak Beye, sampai Pak Joko sekarang. Pak Habibie memilih paripurna sebagai negarawan.

Alangkah bijak bila Pak Beye memberi kesempatan kepada generasi sekarang untuk mengelola pemerintahan, seperti yang dilakukan George W. Bush kepada generasi Obama. Biarkan Pak Joko beserta para pembantunya, dan para pengkritiknya, membangun sejarah mereka sendiri, dengan caranya sendiri. Biar sejarah mencatat segala kegagalan dan keberhasilan mereka kelak. Dan saya kira, ketika rezim sekarang butuh petunjuk atau nasehat atas persoalan kebangsaan, mereka akan datang sendiri ke Pak Beye.

Sekadar saran, selain menimang cucu, alangkah kerennya bila Pak Beye fokus menekuni hobi saja di masa pensiun ini. Bikin buku puisi kedua, misalnya, dengan baris-baris yang digenangi air mata. Atau bikin sekuel atau trilogi buku ‘Selalu Ada Pilihan’ yang setebal bantal guling itu. Yang paling makjleb, tentu saja, bikin album baru! Saya yakin, pasti akan jauh lebih bagus kualitasnya dari album-album yang ditelurkan semasa beliau jadi presiden.***

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s