Cinta yang Buta, Kegembiraan yang Menyatukan

Oleh: 

AKU jatuh cinta pada sepak bola seperti aku jatuh cinta kepada perempuan. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba, tak dapat diterangkan dalam kata. Otak yang kritis berhenti seketika. Aku tak berpikir sama sekali tentang kesakitan dan kekacauan yang mungkin terjadi karenanya.

Itulah kata Nick Hornby, warga Inggris, penggila bola dan penulis buku terkenal tentang bola. Ungkapan itu tak terbantahkan. Di mana-mana bola membuat orang terjerumus ke dalam cinta buta. Demikian juga kali ini ketika hampir semua mata manusia mengarah ke Brasil, tempat dihelat pesta akbar Piala Dunia 2014.

Nai vai ter copa! Tak akan ada Piala Dunia! Kata-kata ini digemborkan oleh para pemrotes yang tak setuju Brasil jadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Maklum, ekonomi Brasil tidak terlalu baik. Masih banyak orang miskin di sana, mengapa uang dihamburkan untuk Piala Dunia? Memang, Piala Dunia terganggu karena berbagai protes itu. Namun, diperkirakan orang Brasil yang menolak itu segera lupa akan protes mereka begitu peluit Piala Dunia ditiup dan para pemain Brasil berlari di lapangan menghibur mereka. Bola selalu bisa menciptakan kejutan dan kejutan itu bisa membuat orang Brasil terlena dari persoalan dan beban hidup mereka.

Maka, kali ini pun orang-orang Brasil tetap mengharapkan kejutan yang bisa menggembirakan mereka seperti yang terjadi dalam Piala Dunia 1958 di Swedia. Menjelang Piala Dunia 1958, Brasil terseok-seok, baik dalam hal bola maupun ekonomi. Persatuan sepak bola Brasil di bawah Joao Havelange nyaris memutuskan Brasil tidak usah ikut Piala Dunia. Lebih baik tinggal di rumah daripada bikin malu negara.

Namun, Havelange berubah pikiran dan membuat putusan mengejutkan dengan menunjuk Vicente Fiola jadi pelatih. Padahal, nama Fiola sudah dicoret. Fiola sendiri mengambil langkah tak terduga. Ia membawa Garrincha dan Pele. Keputusan itu dikecam habis-habisan. Alasannya, Pele yang baru berumur 17 tahun itu masih bau kencur, sedangkan Garrincha, si kaki pengkor, terlalu bodoh untuk dibawa.

Nyatanya penonton di Swedia terpesona. Pele dan Garrincha bermain bola dengan sangat indah dan tak ada duanya. Sampai penonton berkata, kedua pemain itu, juga pemain Brasil lainnya, bukanlah makhluk-makhluk bola dari dunia ini. Mereka seperti malaikat dari langit yang bermain bola di dunia. Brasil bukan hanya keluar sebagai juara, melainkan juga terkenal dengan sepak bola indahnya. Jogo bonito lahir! Orang-orang Brasil pun melupakan segala masalah mereka. Kiranya itu pula yang bakal terjadi jika Brasil menjadi juara di Piala Dunia tahun ini.

Di Tanah Air tercinta kita ini pun orang-orang sedang ditimpa cinta buta terhadap bola. Tidak hanya mereka yang berada, tetapi juga warga sederhana bahkan miskin sedang dilanda gila bola. Tukang becak, buruh bangunan, pensiunan, dan warga kampung padat penduduk, semua menanti pesta akbar itu. Di emperan toko, di gardu ronda, di stasiun, bahkan di desa terpencil, orang-orang siap mendiskusikan dan mengevaluasi pertandingan, meramalkan siapa menang, siapa kalah.

Dalam hal menghibur, bola memang adil. Kaya atau miskin, di rumah mewah atau di pondok sederhana, di kafe mahal atau di gardu kampung, semua orang, tak terkecuali, bisa dan boleh menonton Piala Dunia 2014, dari awal sampai final. Dalam hal bola, si kaya atau si miskin sama-sama mengalami kenikmatan. Hiburan dan kenikmatan bola tidak hanya jadi monopoli mereka yang kaya. Yang miskin pun boleh bersenang-senang seperti yang kaya. Begitulah, karena pemerataannya itu, bola mengikat manusia dalam persatuan, bukan hanya persatuan di masyarakat atau negara, melainkan juga kesatuan yang global dan mendunia.

Dewasa ini kesatuan lokal dan global sedang terancam untuk terpecah-pecah. Entah karena perbedaan ideologi, agama, atau budaya, entah karena jurang antara kaya dan miskin, entah karena egoisme individu atau kelompok. Memang sulit mengidentifikasi faktor penyebab perpecahan itu. Mungkin karena kesulitan mengidentifikasi itu, legenda bola Franz Beckenbauer pernah melukiskan, kemanusiaan di bumi sedang terancam untuk dihancurkan oleh makhluk-makhluk alien dari luar planet kita. Apakah kita akan selamat? Apakah bumi ini masih akan ada?

Kita sungguh sedang menghadapi masalah serius. Dan, menurut Beckenbauer, kita hanya mempunyai satu kesempatan, yakni menantang musuh bumi kita itu bertanding bola. Itulah pertandingan final antara manusia di bumi dan makhluk di luar bumi. Jika kita menang melawan agresor, kita akan selamat. Jika kalah, ya, kita mesti mengucapkan ”selamat malam”, dan selesai sudah riwayat kita. Maka, kata Beckenbauer, ”We have no chance, we have to win,” dan hanya bola yang dapat menyelamatkan dunia. Kata-kata Beckenbauer dianggap sangat pas bagi posisi bola di dunia yang terancam terpecah belah ini. Tak heran jika sebuah perusahaan di Korea Selatan memakai kata-kata itu sebagai reklamenya menjelang Piala Dunia 2014.

Kini, negeri kita juga terancam oleh alien yang memecah belah kita dengan kampanye hitam dan menajamkan perbedaan dua kelompok yang saling bersaing menjelang pemilu presiden, Juli. Syukur di tengah ancaman ini kita disatukan dalam kegembiraan Piala Dunia 2014. Biarlah kegembiraan dan fairness bola yang adil, merata, dan tak membeda-bedakan itu menyatukan kita dalam satu kata we have no chance, we have to win terhadap siapa pun lawan yang hendak menghancurkan kesatuan kita sebagai bangsa.

Sumber: Kompascetak, 11 Juni 2014

Mengartikan Revolusi Mental

1f5a67af-6b59-4eb4-95f9-0b46740f2eec

Oleh Karlina Supelli [1]

Perkenankan saya terlebih dulu menegaskan bahwa kehadiran saya di sini adalah sebagai seorang undangan yang diminta untuk mengartikan istilah “Revolusi Mental” yang dikemukakan oleh Joko Widodo (Jokowi) dan Tim. Penegasan ini saya kemukakan karena cara kita memahami sekarang ini diwarnai dengan kecenderungan untuk mengambil apa yang kita lihat dan dengar hanya menurut apa yang kita suka, atau menafsirkannya sesuai kepentingan kita. Cara pikir ini cenderung mengabaikan substansi. Substansi inilah yang akan saya bicarakan. [2]

Memahami Istilah

1. Untuk itu, pertama-tama perlu saya sampaikan bahwa istilah ‘Revolusi Mental’ banyak dipakai dalam sejarah pemikiran, manajemen, sejarah politik dan bahkan sejarah musik. Penggunaan itu terjadi baik di dunia Barat maupun Timur, baik oleh pemikir Islam, Kristiani, Hinduisme maupun (Zen) Buddhisme. Bung Karno pun pernah menggunakan istilah ini dalam pidato 17 Agustus 1956.

2. Istilah ‘mental’ adalah nama bagi genangan segala sesuatu menyangkut cara hidup – misalnya: ‘mentalitas zaman’. Di dalam cara hidup ada cara berpikir, cara memandang masalah, cara merasa, mempercayai/meyakini, cara berperilaku dan bertindak. Namun kerap muncul anggapan bahwa ‘mental’ hanyalah urusan batin yang tidak terkait dengan sifat ragawi tindakan dan ciri fisik benda-benda dunia. Daya-daya mental seperti bernalar, berpikir, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan memang tidak ragawi (tidak kasat mata), tetapi dunia mental tidak mungkin terbangun tanpa pengalaman ragawi. Pada gilirannya, daya-daya mental pun dibentuk dan menghasilkan perilaku serta tindakan ragawi. Kelenturan mental, yaitu kemampuan untuk mengubah cara berpikir, cara memandang, cara berperilaku/bertindak juga dipengaruhi oleh hasrat (campuran antara emosi dan motivasi).

3. Karena itulah kita memakai istilah ‘mentalitas’ untuk menggambarkan dan juga mengkritik “mentalitas zaman”. Ada mentalitas petani, mentalitas industrial, mentalitas priyayi, mentalitas gawai (gadget), dsb. Mentalitas priyayi tentu bukan sekadar perkara batin para priyayi, melainkan cara mereka memahami diri dan dunia, bagaimana mereka menampilkan diri dan kepercayaan yang mereka yakini, cara berpakaian, bertutur, berperilaku, bertindak, bagaimana mereka memandang benda-benda, ritual keagamaan, seni, dsb.

4. Kekeliruan memahami pengertian mental (dan bahkan ada yang menyempitkannya ke kesadaran moral) membuat seolah-olah perubahan mental hanyalah soal perubahan moral yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal ragawi seperti soal-soal struktural ekonomi, politik, dsb. Padahal kesadaran moral, atau hati nurani yang mengarahkan orang ke putusan moral yang tepat, hanyalah salah satu buah daya-daya mental yang terdidik dengan baik.

5. Kekeliruan ini muncul dari perdebatan menyangkut kaitan kebudayaan, struktur sosial dan pelaku. Kekeliruan itu terungkap dalam omongan kita sehari-hari: “Wah, itu masalah mental pelakunya!”, atau: “Tidak, itu masalah struktur!” Akibatnya, interaksi keduanya terasa putus. Pokok ini tidak perlu diurai panjang lebar di sini. Cukuplah disebut bahwa kesesatan itu melahirkan pandangan seakan-akan ‘kebudayaan’ berurusan hanya dengan ranah subyektif pelaku, sedangkan ‘struktur sosial’ berurusan dengan ranah obyektif tindakan. Dan keduanya tidak berhubungan. Itu pandangan primitif dan sesat.

6. Bagaimana kesesatan itu dikoreksi? Jawabnya: hubungan integral antara “mental pelaku” dan “struktur sosial” terjembatani dengan memahami ‘kebudayaan’ (culture) sebagai pola cara- berpikir, cara-merasa, dan cara-bertindak yang terungkap dalam praktik kebiasaan sehari-hari (practices, habits). Di dunia nyata tidak ada pemisahan antara ‘struktur’ sebagai kondisi material/fisik/sosial dan ‘kebudayaan’ sebagai proses mental. Keduanya saling terkait secara integral.

7. Corak praktik serta sistem ekonomi dan politik yang berlangsung tiap hari merupakan ungkapan kebudayaan, sedangkan cara kita berpikir, merasa dan bertindak (budaya) dibentuk secara mendalam oleh sistem dan praktik habitual ekonomi serta politik. Tak ada ekonomi dan politik tanpa kebudayaan, dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa ekonomi dan politik. Pemisahan itu hanya ada pada aras analitik. Pada yang politik dan ekonomi selalu terlibat budaya dan pada yang budaya selalu terlibat ekonomi dan politik.

8. Selain sebagai corak/pola kebiasaan, tentu kebudayaan juga punya lapis makna yang berisi cara masyarakat menafsirkan diri, nilai dan tujuan-tujuan serta cara mengevaluasinya. Kebudayaan juga punya lapis fisik/material karya cipta manusia termasuk sistem pengetahuan yang melandasinya. Namun dalam praktek sehari-hari ketiganya tidak terpisah secara tajam.

9. Contohnya adalah bagaimana selera dan hasrat terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang kita peroleh melalui struktur lingkungan. Konsumerisme sebagai gejala budaya lahir dari perubahan struktur lingkungan yang memaksakan hasrat tertentu agar menjadi kebiasaan sosial. Misalnya, kebiasaan berbelanja sebagai gaya hidup dan bukan karena perlu, atau menilai prestise melalui kepemilikan benda bermerek luar negeri.

10. Implikasi dari kekeliruan memahami gejala yang disebut pada butir 5 dan 6 di atas sangat besar.

Pernyataan-pernyataan publik seperti pendekatan ekonomi dan politik sudah gagal sehingga diperlukan jalan kebudayaan adalah contoh kekeliruan memahami hubungan integral struktur, kebudayaan, dan pelaku. Kekeliruan itu juga melahirkan anggapan seakan-akan urusan perubahan mental akan menciutkan masalah-masalah kemiskinan dan korupsi sebagai perkara moral bangsa – “kalau moral berubah, selesailah masalah!”. Sungguh keliru anggapan itu.

Operasionalisasi Revolusi Mental

1. Dengan paparan di atas, bagaimanakah kita mengartikan ‘Revolusi Mental’? Revolusi Mental melibatkan semacam strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan berisi haluan umum yang berperan memberi arah bagaimana kebudayaan akan ditangani, supaya tercapai kemaslahatan hidup berbangsa. Strategi berisi visi dan haluan dasar yang dilaksanakan berdasarkan tahapan, target setiap tahap, langkah pencapaian dan metode evaluasinya.

2. Tetapi karena ‘kebudayaan’ juga menyangkut cara kita berpikir, merasa dan bertindak, ‘revolusi mental’ tidak bisa tidak mengarah ke transformasi besar yang menyangkut corak cara-berpikir, cara-merasa dan cara-bertindak kita itu. Kebudayaan hanya dapat “di-strategi-kan” [3] jika kita sungguh memberi perhatian pada lapis kebudayaan tersebut. Karena itu, kunci bagi ‘Revolusi Mental’ sebagai strategi kebudayaan adalah menempatkan arti dan pengertian kebudayaan ke tataran praktek hidup sehari-hari.

3. Jadi, untuk agenda ‘Revolusi Mental’, kebudayaan mesti dipahami bukan sekadar sebagai seni pertunjukan, pameran, kesenian, tarian, lukisan, atau celoteh tentang moral dan kesadaran, melainkan sebagai corak/pola cara-berpikir, cara-merasa, dan cara-bertindak yang terungkap dalam tindakan, praktik dan kebiasaan kita sehari-hari. Hanya dengan itu ‘Revolusi Mental’ memang akan menjadi wahana melahirkan Indonesia baru.

4. Apa yang mau dibidik oleh ‘Revolusi Mental’ adalah transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas (lihat butir 4 untuk pengertian ini), cara berpikir, cara merasa dan cara mempercayai, yang semuanya menjelma dalam perilaku dan tindakan sehari-hari. Etos ini menyangkut semua bidang kehidupan mulai dari ekonomi, politik, sains-teknologi, seni, agama, dsb. Begitu rupa, sehingga mentalitas bangsa (yang terungkap dalam praktik/kebiasaan sehari- hari) lambat-laun berubah. Pengorganisasian, rumusan kebijakan dan pengambilan keputusan diarahkan untuk proses transformasi itu.

5. Di satu pihak, pendidikan lewat sekolah merupakan lokus untuk memulai revolusi mental. Di lain pihak, kita tentu tidak mungkin membongkar seluruh sistem pendidikan yang ada. Meski demikian, revolusi mental dapat dimasukkan ke dalam strategi pendidikan di sekolah. Langkah operasionalnya ditempuh melalui siasat kebudayaan membentuk etos warga negara (citizenship). Maka, sejak dini anak-anak sekolah perlu mengalami proses pedagogis yang membuat etos warga negara ini ‘menubuh’. Mengapa? Karena landasan kebangsaan Indonesia adalah kewarganegaraan. Indonesia tidak berdiri dan didirikan di atas prinsip kesukuan, keagamaan atau budaya tertentu.

6. Karena itu, pendidikan kewarganegaraan perlu diperkenalkan kepada siswa mulai dari usia dini. Dalam menjalankan Revolusi Mental, pendidikan kewarganegaraan merupakan tuntutan yang tidak dapat diganti misalnya dengan pelajaran agama. Sebaliknya, pelajaran agama membantu pendidikan kewarganegaraan.

7. Untuk keperluan pendidikan kewarganegaraan kita dapat menyusun pertanyaan:

a. Keutamaan/karakter baik (virtue) apa yang harus dipelajari oleh siswa agar menjadi warga negara yang baik?
b. Sebagai infrastuktur kultural, keutamaan/karakter baik (virtue) apa yang perlu dipelajari siswa untuk “menemukan kembali” Indonesia yang dicita-citakan bersama?

8. Sebagai contoh, jika gagasan tentang Indonesia yang mau dikembangkan adalah Indonesia yang bebas korupsi, maka keutamaan yang dididik adalah kejujuran; jika sasarannya adalah kebinekaan, maka yang dididik adalah pengakuan dan hormat pada keragaman budaya, agama, suku/etnisitas, dll; jika kepemimpinan, maka yang dikembangkan adalah tanggungjawab; dst.

9. Tampaknya memang tidak ada yang baru dari hal-hal yang disebut di atas. Dengan memusatkan perhatian pada perubahan kebiasaan sehari-hari yang punyai dampak kebaikan publik, kebaruan terletak pada cara mendidik. Proses pendidikan mesti bermuara ke corak kebiasaan bertindak. Artinya, pendidikan diarahkan ke transformasi dari pengetahuan diskursif (discursive knowledge) ke pengetahuan praktis (practical knowledge). Pengetahuan diskursif tentu sangat dibutuhkan dalam mengawal secara kritis kehidupan berbangsa-bernegara, namun biarlah sementara ini itu jadi urusan para intelektual/cendekia. Bagi agenda ‘Revolusi Mental’, yang paling dibutuhkan adalah pengetahuan praktis – transformasi pada tataran kebiasaan bertindak sehari-hari para warga negara dalam lingkup dan skala seluas bangsa.

10. Keutamaan (virtue) adalah pengetahuan praktis. Ini berarti bahwa dalam proses pendidikan, Revolusi Mental adalah membuat bagaimana kejujuran dan keutamaan lain-lainnya itu menjadi suatu disposisi batin ketika siswa berhadapan dengan situasi konkret. Ketika berhadapan dengan kesulitan saat ulangan, misalnya, siswa tidak lagi melihat kejujuran sebagai hal terpisah dari dirinya. Dia tidak lagi berpikir apakah akan mencontek atau tidak, karena kejujuran sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi habit. Kejujuran mengalir dari dirinya. Ibarat seseorang yang mahir berenang, dia tidak lagi perlu memikirkan ritme gerakan tangan dan kakinya. Gerakan itu menjadi bagian dirinya ketika dia berada di air.

11. Contoh lain bisa kita ambil dari Skandinavia dimana kesetaraan (equality) diajarkan sejak anak- anak. Itulah mengapa sistem welfare state menjadi mungkin di Negara-negara Skandinavia. Kendati dikenai pajak progresif, warga memahami arti dan keutamaannya karena kesetaraan sudah menjadi sikap dasar (dan tentu saja juga karena penyelenggara negara yang akuntabel dan tidak korup). Di Jepang, sikap stoic (Jepang: gaman) sudah diajarkan sejak usia 3 – 6 tahun sampai menjadi kebiasaan dan sikap hidup sehari-hari. Kita tentu masih ingat reaksi tenang, rasional, terkendali dan hening masyarakat Jepang yang banyak dibahas media internasional ketika terjadi tragedi nuklir 2011.

Kantung-kantung Perubahan

1. Pendidikan di sekolah hanyalah bagian saja dari proses pendidikan warga negara. Padahal kalau sungguh mau dilaksanakan, Revolusi Mental harus menjadi gerakan kolosal berskala nasional. Gerakan itu mencakup masyarakat seluas bangsa agar perilaku sosial setiap individu menjadikan keutamaan warga negara sebagai kebiasaan.

2. Untuk itu, kita tidak perlu menunggu adanya kebijakan. Silakan memulai dengan membangun kantung-kantung perubahan dan menyusun siasat yang berfokus pada transformasi cara hidup sehari-hari kelompok-kelompok warga negara. Siasat itu melibatkan gerakan rutin dalam bentuk langkah-langkah konkret untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang punya dampak terhadap terwujudnya kebaikan hidup berbangsa dan bernegara.

3. Jadi, ‘Revolusi Mental’ bukanlah urusan membikin panggung di mana para selebriti mencari sorak dan puja-puji. Transformasi sejati terjadi dalam kesetiaan bergerak dan menggerakkan perubahan dalam hal-hal yang rutin. Hanya melalui kesetiaan inilah ‘Revolusi Mental’ akan terjadi. ‘Revolusi Mental’ juga tidak akan terjadi hanya dengan khotbah tentang kesadaran moral, serta tidak terjadi dengan pelbagai seminar dan pertunjukan. Semua itu cenderung jadi panggung slogan. Agar ‘Revolusi Mental’ menjadi siasat integral tranformasi kebudayaan, yang dibutuhkan adalah menaruh arti dan praksis kebudayaan ke dalam proses perubahan ragawi menyangkut praktik dan kebiasaan hidup sehari-hari pada lingkup dan skala sebesar bangsa. Arah itu juga merupakan resep bagi masyarakat warga untuk ikut terlibat secara ragawi dalam memulai dan merawat revolusi mental.

4. Jika pada awal Reformasi kita banyak membicarakan civil society, maka inilah arti civil society yang sebenarnya: civil society adalah gerakan para warga negara (citizens) untuk melaksanakan transformasi secara berkelanjutan bagi pemberadaban hidup bersama yang bernama Indonesia. Itulah ‘Revolusi Mental’.

***


[1] 
Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.
[2] Apa yang saya sampaikan di sini merupakan endapan pemikiran yang sumber-sumbernya belum saya cantumkan sehingga tulisan ini belum memenuhi kelayakan publikasi.

[3] Kebudayaan tentu bukan bidang yang dengan kaku dapat dikemas ke dalam kotak strategi. Oleh karena itu, pengertian “strategi” di sini lebih berfungsi sebagai semacam peta, jalan-jalan yang akan kita tempuh/hindari untuk menjelmakan visi kebaikan hidup bersama.

”Torero” dari Belanda

Andaikan sepak bola seperti tinju, Belanda sudah berkali-kali juara. Dalam tinju, penantang langsung menyandang sabuk juara bila ia mengalahkan juara bertahan. Dalam sepak bola, Belanda sering mengalahkan juara bertahan Spanyol. Namun, karena bola bukan tinju, mereka pun tak bisa mengangkat piala juara.

Sejak 1974, ketika Johan Cruyff dan kawan-kawan menurunkan Brasil dari takhta juara dunia dengan skor 2-0 (satu-satunya kekalahan Brasil di putaran kedua Grup A yang membuat Brasil gagal ke final), dalam 10 pertandingan berikutnya melawan juara dunia, 4 kali Belanda menang, 6 kali seri, dan tak pernah kalah. Kendati sudah menggebuki juara dunia, selama kurun 40 tahun itu, Belanda toh tak pernah jadi juara dunia.

Tragisnya, tiga kali mereka menapakkan kaki dalam pertandingan final, tiga kali itu pula Belanda gagal menjadi juara. Belanda lalu terkenal sebagai spesialis juara kedua. Syukur tragika mereka itu masih disertai dengan kebanggaan lain, yakni ”pembunuh juara dunia”. Predikat ini ternyata terbukti sekali lagi ketika tanpa ampun mereka melindas Spanyol, juara dunia 2010, telak, 5-1.

Mimpi buruk bagi juara dunia. Belanda telah menempeleng kami. ”Penghinaan terhadap Juara Dunia di Hadapan Dunia Global”. ”Awal Terjelek dalam Sejarah Sepak Bola Spanyol”. Demikian komentar-komentar pers Spanyol terhadap kekalahan telak ”La Furia Roja” dalam laga pertama Grup B Brasil 2014 di Stadion Salvador, Jumat (13/6) malam.

Memang malam itu Spanyol bagaikan banteng yang jinak
di hadapan Belanda. Dan siapakah el torero, sang petarung, paling gagah yang dapat menjinakkan banteng itu? Dia adalah Robin van Persie. Melihat aksi Van Persie, pantas jika ada fans Belanda menggambarkan Van Persie sebagai torero dan Spanyol sebagai banteng. Banteng itu diselubungi bendera Spanyol dan Van Persie berkostum torero menggoda banteng itu dengan kibaran bendera oranye, sampai kelihatan si banteng kelelahan dan kehabisan daya.

Karena sundulan maut, disertai aksi terbang yang fantastis, Van Persie juga mendapat julukan baru: the flying dutchman. Dia burung atau pesawat terbang? Begitu puja-puji fans ”Oranye”. Memang pada menit ke-44 itu penonton disuguhi pemandangan spektakuler.

Daley Blind berlari membawa bola ke tengah, lalu mengumpan lambung jauh ke depan. Didorong oleh intuisinya yang tajam, Van Persie melakukan sprint, melompat, lalu menyorongkan tubuh sambil kepalanya menanduk bola umpan. Aksinya selaksana terbang. Kemudian ia ”mendarat”, tak tahu apa yang terjadi, tapi ketika mendongak sedikit, ia melihat sundulannya telah berbuah menjadi gol. Ia pun lari menghampiri pelatih Louis van Gaal. Mereka pun saling memberi toss kemenangan.

”Belanda bermain dengan sensasional. Gol Van Persie adalah bukti, ia mempunyai kepercayaan diri luar biasa,” komentar mantan pemain Inggris yang kini menjadi analis bola, Alan Shearer. Menurut Shearer, di samping Van Persie dan Arjen Robben, Daley Blind harus disebut sebagai pemain yang brilian. ”Pertandingan malam itu sesungguhnya bisa berakhir 7-1 atau 8-1 untuk Belanda,” tambah Shearer.

”Saya tahu, kami akan menang. Tapi saya sendiri tidak mengira, kami akan menang dengan demikian banyak gol,” kata Louis van Gaal dengan penuh percaya diri. Van Gaal sangat bahagia karena dengan kemenangan yang spektakuler itu, ia sekaligus telah membungkam para pengkritiknya selama ini.

Dengan berani, Van Gaal meninggalkan permainan klasik Belanda yang 4-3-3. Ini berarti, ia tidak lagi bertumpu pada sistem sepak bola yang total menyerang. Sistem yang khas Belanda itu digantinya dengan sistem 5-3-2 yang mengunggulkan pertahanan dan membangun serangan secara bertahap.

Seperti ditulis oleh kolumnis Christian Eichler, putusan Van Gaal ini dikecam keras, misalnya oleh Ronald Koeman, libero Belanda yang meraih Piala Eropa 1988, dan Arie Haan, gelandang tim legendaris Belanda di Piala Dunia 1974. Van Gaal dianggap telah melakukan ”dosa asal”, kesalahan yang tak terampuni, karena melanggar dogma sepak bola Belanda. Haan menuntut Van Gaal untuk kembali kepada sistem 4-3-3 dan mempertahankan total football-nya.

”Dengan memainkan sistem itu, kami kembali pada identitas kami. Sejak 1974, sepak bola Belanda dikenal dengan tata sistemnya yang ofensif, dan sungguh suatu dosa asal, bahwa 40 tahun kemudian sistem yang khas kami itu dibuang begitu saja ke luar jendela,” kata Haan.

Kendati muncul pelbagai kritik, Van Gaal bergeming pada keputusannya. ”Sistem yang saya ambil adalah sistem yang memperhitungkan kekuatan dan kelemahan para pemain saya,” katanya. Menurut dia, sistem itu cocok untuk kesebelasannya karena secara faktual, dalam beberapa dekade ini, para pemain Belanda hanya rata-rata kemampuannya.

Melawan Spanyol di Piala Dunia 2014, kesebelasan Belanda memang memperlihatkan watak berbeda. Pertahanan mereka sangat kokoh, dan kelihatan bagaimana Robben dan Sneijder dengan cepat berbalik ke belakang begitu pertahanan mereka digedor oleh Iniesta dan kawan-kawannya. ”Saya tidak tergoda oleh kritik yang menantang kami untuk bermain ofensif. Saya ingin agar kesebelasan saya bermain kompak. Bagi saya, soalnya tidak terletak pada sistem, tapi pada pemberian diri setiap pemain, yang menjalankan sistem yang telah kami pilih,” kata Van Gaal.

Van Gaal sangat kukuh pendiriannya. Pantas jika pers mengatakan Van Gaal telah mendengarkan opini banyak pakar bola, tapi baginya hanya ada satu pakar bola yang harus ia patuhi, dan pakar bola itu tak lain adalah Louis van Gaal.

Sampai saat ini Van Gaal hanya bisa dibenarkan. Pantas jika karena kemenangannya yang gemilang atas Spanyol, fans Belanda menggambarkan dirinya dan memberinya nama: Jesus van Gaal.

Sumber: Kompascetak, 15 Juni 2014