Takar Buku: Catatan Tentang Muak dan Mual

catatan-bawah-tanah

Catatan dari Bawah Tanah

by Fyodor Dostoyevsky, Asrul Sani (translator)

Published: 1992 by Pustaka Jaya (first published 1861)

Details: Paperback, 171 pages

Oleh: John Ferry Sihotang

“Aku sakit… Aku orang pendendam. Aku orang yang tidak menarik. Aku yakin hatiku mengindap penyakit.”

Begitulah buku Catatan dari Bawah Tanah dibuka penulisnya, Fyodor Dostoyevsky, raksasa sastra dan seorang pemikir (eksistensialis) besar Rusia pada abad ke-19. Prosa terjemahan Asrul Sani ini adalah cerita tentang seorang lelaki “aku”, pesakitan yang mencoba mewaraskan diri dengan menulis catatan. Catatan katarsis! Di mana ia menuangkan segala isi hatinya dengan bebas. Catatan itu mengendap hitam selama 40 tahun, dari rasa muak dan mual pada dunia. Seperti seorang psikopat jenius, “aku” meradang di pojok sepinya, menulisi kata-kata yang sakit, sarkas, dan mengerang, tentang pergulatan batinnya di tengah kemelut zamannya; sembari tak lupa mengolok-olok diri sejadi-jadinya, sebagai yang teralineasi.

Novel– lebih tepatnya disebut novelet atau bahkan cerpen yang panjang —  setebal 171 halaman ini ditulis intens, tertata sedemikian rupa, dan mampu mengaduk-ngaduk emosi pembaca. Dostoyevsky mencoba mengangkat perenungan besar tentang kecemasan, kejahatan, kesemuan, kegilaan, dan kesakitan manusia modern. Kendati tokoh imajiner “aku” digambarkan anonim dan berkarakter negatif (tak punya watak moral), buku ini tetaplah menawarkan kemungkinan baru pengayaan makna, berkaitan dengan situasi eksistensial manusia yang gamang berhadapan dengan dunianya.

Sedikit Eksistensialis

Buku tipis ini hanya terdiri dari dua bab, dengan alur mundur. Dalam bab pertama, tokoh “aku” digambarkan sebagai lelaki berumur 40 tahun, menulis serentak meracau dalam bentuk monolog: bagaimana ia akan merasakan kesenangan yang dalam sekali bila berhasil membuat orang susah; bagaimana ia seorang yang lebih unggul dalam hal inteligensia,namun ditolak lingkungan sosialnya; bagaimana ia mudah kesal, benci, dan dendam pada segala hal; dll. Karakter yang aneh, memang.

Karakter “aku”, sebagai tokoh sentral sekaligus narator dalam novelet ini, adalah”aku” dalam arti eksistensialis; pengarang Dostoyevsky adalah eksistensialis dalam sastra, dan konon, filsuf eksistensialis cum sastrawan Jean Paul Sarte adalah penggemar Dosto. Tokoh “aku”, (seperti galibnya novel-novel eksistensialis?), adalah manusia pesakitan, tak jelas identitas, gembel, namun begitu memuja rasio; mirip “tokoh kita” dalam novel-novel Iwan Simatupang. Tokoh “aku” ini seorang pemuda penuh kebencian dan dendam. Tak jelas apa yang membuatnya benci dan dendam terhadap segala hal, bahkan terhadap dirinya sendiri; boleh jadi karena filsafatnya sendiri, seperti ditulisnya:

“Ya, lelaki abad ke-19 harus menjadi dan terutama memiliki moral orang yang tidak punya watak sama sekali; manusia berwatak, manusia yang gesit, pada dasarnya adalah seorang manusia terbatas.” Di sinilah letak dilema, ambiguitas, dan paradoks kecacatan manusia dalam jubah modernitas. Tokoh “aku” unggul dalam hal intelektual, juga pecinta kebenaran, keadilan, dan kejujuran; namun gagal dalam pergaulan, pun dalam cinta. Ia benci kepada kepura-puraan, kekenesan, kesantuan… benci akan semua hal — bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia lebih suka menikmati kemurungan,  kesendirian, lalu meminum racun kesepiannya, sendiri, di ruang bawah tanah.

Di dalam bab ini juga, Dosto seolah ingin membuat distingsi dua jenis manusia. Manusia atas dan manusia lemah. Manusia atas terbebas dari nilai-nilai, hukum tak berlaku untuk mereka, dan boleh berbuat sesukanya, walaupun kejam, tak boleh disebut kejahatan, karena itu dilakukan untuk kebaikan banyak orang; watak yang terkesan membanggakan, bahkan menyombongkan, penyakitnya sendiri. Sedangkan Manusia lemah adalah manusia-manusia yang ikut arus mainstream, cecunguk penuh kepura-puraan, manusia kerumunan yang tak jelas eksistensinya. “Aku satu, mereka semua,” kata Dosto melukiskan kedua jenis manusia ini. Tokoh”aku”, dengan segala irasionalitasnya, boleh kita lihat sebagai jenis manusia pertama.

Sedikit Sosialis

Bab kedua tentang aib yang keji, (tentang salju yang basah, kata naratornya), yang membuat tokoh “aku” meracau di bab pertama. Cerita aib ini terjadi 16 tahun sebelumnya, saat tokoh “aku” berumur 24 tahun. Bab ini kian menegaskan keterasingan tokoh “aku” dari dunia kerja, dari persahabatan, dari lingkungan kontrakan busuknya, dengan dialog-dialog yang kuat. Ia sungguh telah terisolasi dari seluruh dunia luar.

Cerita tentang aib yang keji itu cukup sederhana. Suatu hari tokoh “aku” dan beberapa kawan sekolahnya mau mengadakan pesta perpisahan kecil kepada seorang kawan yang akan pindah tugas kemiliteran ke kota lain, padahal ia tak suka pesta. Saat pesta berlangsung, dia malah kesal bukan main karena tak diberitahu kalau acara mundur, lalu mulai menguji kecerdasannya dengan menembakkan kritik pada kemunafikan, kekenesan, dan keinginan semu para kawannya. Semua orang, kecuali dia, bersenang-senang dengan botol-botol minuman. Tokoh aku hanya terabaikan. Untuk menarik perhatian, ia mengajak tengkar semuanya — yang akhirnya meninggalkannya sendirian. Ia pun hanya bisa memaki-maki semua yang pergi, juga memaki-maki dirinya karena tak pernah bisa berdamai dengan apa pun. Ia kejar “gerombolan” itu, bersama makian dan umpatan, sampai ke tempat pelacuran.

Meski terkesan sakit jiwa,  tokoh “aku” adalah seorang humanis, atau mungkin lebih tepat sedikit sosialis. Dan tampaknyaia mengagungkan cinta, atau mungkin menganggap cinta itu adalah Tuhan yang nyata. Tak disangka-sangka, si manusia pesakitan ini bisa juga jatuh cinta! Kepada seorang pelacur muda pula! Rupanya cinta itu lahir di sembarang tempat, seperti kata Phutut EA. Setelah perkelaminan absurd, ia memberi nasehat dengan bercerita tentang nasib seorang pelacur tua yang membusuk di sudut kota; lalu ia menawarkan si perempuan muda supaya meninggalkan lembah pelacuran, dan datang ke rumahnya (sebagai “pemilik” rumah cinta sesungguhnya). Kata-kata tokoh “aku”, misalnya, “kepedihan pun akan terasa manis karena adanya cinta,” begitu berkesan pada si pelacur muda, hingga membuat perempuan itu haru, menuang air mata penuh-penuh. Tapi, tentu saja, kata-kata cemerlang itu dikatakannya dalam keadaan mabuk; tak lama setelah tokoh aku menenggak alkohol penuh-penuh ke mulutnya, lalu mengejar “gerombolan” itu untuk menuntaskan dendam dan kebenciannya.

Akhir cerita, si pelacur muda datang. Tokoh aku justru panik. Ia malah kehilangan kepercayaan diri dengan kegembelan dan kekumuhan kontrakannya, lalu membuat perang kata-kata dengan pengurus kontrakan tersebut. Dalam sadarnya, ternyata, ia menyesali wejangan yang pernah diucapkannya pada pelacur muda itu. Ia justru tak bisa membayangkan hidup dengan cinta. Ia paranoid dengan idea kehidupan rumah tangga. Ia sebenarnya mau, tapi tak sanggup. Atau ia sanggup, tapi tak bisa. Entahlah. Ia malah bertingkah seaneh-anehnya agar si pelacur segara minggat; meski sesudahnya ia coba mengejar kembali, tapi sia-sia. Ia hanya mampu kembali meringkuk di sudut kamarnya, di sudut sesal dan sakitnya, di sudut mual dan isengnya, di bawah tanahnya yang suram.

Dunia yang Sakit

Demikian cerita singkat tentang aib yang keji itu, tentang keterasingan yang pahit itu.Tentang seseorang yang kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai oleh manusia di lingkungan pergaulannya. Aib yang kemudian dipahatkannya menjadi catatan katarsis, catatan dari bawah tanah–boleh jadi sebagai metafor alam bawah sadar manusia, “id”, istilah psikologinya.

Karena itu pula buku ini terkesan, atau boleh dimasukkan, sebagai karya sastra psikologi, karena mampu menyusuri lorong-lorong gelap jiwa manusia. Akan tetapi, Dosto tak pernah mau disebut seorang psikolog. Ia justru mengaku sebagai realis, seperti pernah ditulisnya dalam catatan hariannya: “I am called a psychologist, it’s not true, I am only a realist in the highest sense, i.e. I depict all the deepths of the human soul.”

Entah jenis karya sastra apa pun ini, buku kecil ini adalah gambaran dunia kita, “dunia yang sakit”, dunia patologis. Dunia yang tak pernah sehat, apalagi sempurna. Dunia di mana kesempurnaan hanyalah ilusi kekanak-kanakan yang kekal. Dunia yang selalu cacat. Dunia yang tak pernah cukup besar hati untuk memberikan kebahagiaan penuh bagi penghuninya. Dunia yang selalu iri pada cinta dan keharmonisan. Dunia yang menyimpan cemburu, benci, dan dendam pada kesementaraan. Ya, dunia yang tak pernah terpahamkan.***

PS: Bacalah buku ini, ketika kamu sudah mulai muak dengan buku-buku penuh moral, atau buku-buku megalomania yang ditimpa waham kebesarannya sendiri.

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s