Chairil dalam Kardus Masa Kini

Oleh Afrizal Malna

Chairil memasuki pergaulan seni rupa yang menurut saya menarik. Ada beberapa pelukis penting yang berhubungan erat dengannya, yaitu Affandi, S Sudjojono, Basuki Resobowo, dan Nashar. Dalam sebuah puisinya, Chairil menyebut salah satu lukisan Raden Saleh, ”Kebakaran di Hutan”. Ilustrasi dalam buku puisi Chairil terbitan Dian Rakyat, juga dibuat perupa penting yang pernah menyatakan ”seni rupa Indonesia tidak ada”, Oesman Effendi.

Lukisan Affandi tentang Chairil, yang dirampungkan pada saat penyair itu dimakamkan, memperlihatkan penglihatan pergaulan seniman dalam lingkungan sosialisme dan eksistensialisme pada masanya: warna-warna keras, tajam, kelam, dan bergelombang. Tubuh Chairil melompat (seperti terbang), jari-jari tangannya terbuka antara menggapai dan akan mencengkeram. Kebinatangan yang dibiarkan menjadi luapan energi pada tubuhnya.

Lukisan itu ikut menarasikan sosok kepenyairan dan bagaimana seorang seniman memandang kehidupan. Narasi yang menjadi legendaris tentang kesunyian, individualisme, pemberontakan yang mewarnai identitas seniman-seniman modernis pada masanya. Masa di mana pertemuan antara sastra dan seni rupa saling membentuk narasi untuk imaji-imaji di sekitar dunia seni dan seniman. Bayangannya ikut menciptakan ilusi dari bagaimana seni dan sastra mengisi arus internalisasi dari kebudayaan baru untuk Indonesia baru.

Menjadi menarik kalau kita menatap lukisan itu melalui salah satu puisi Chairil yang ditulisnya untuk Affandi ”Kepada Pelukis Affandi”: Dan tangan ’kan kaku, menulis berhenti. Kecemasan derita, kecemasan mimpi. Berilah aku tempat di menara tinggi. Dimana kau sendiri meninggi. Antara Chairil dan Affandi, keduanya saling mengambil posisi monumental dalam membangun personifikasi dari bentuk kemanusiaan yang mereka idealkan. Kemanusiaan yang berusaha keluar dari setting bangsa inlander yang telah mengoloni tubuh-kolonial dalam pergaulan setelah kemerdekaan. Aku binatang jalang tidak hanya perlawanan politik tubuh dari kolonialisme antropologi atas bangsa-bangsa terjajah. Tatapan monumental ini, yang banyak memenuhi bahasa visual dalam puisi-puisi Chairil, kadang menjadi sangat karikaturalistik dalam penggambaran kepahlawanan. Terutama dalam puisinya tentang Dipo Negoro: Pedang di kanan, keris di kiri. Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Puisi itu tidak terlalu jauh dari bagaimana Raden Saleh menafsirkan kembali adegan penangkapan Diponogoro yang memperlihatkan komposisi politik tubuh antara tubuh-kolonial dan tubuh-penjajah. Lukisan yang mengubah perjuangan Diponogoro yang tanahnya telah dirampas menjadi ikon perlawanan nasionalisme yang heroik. Puisi Chairil yang lain, ”Betinanya Affandi”, juga untuk Affandi, menarik untuk dilihat dalam konteks lukisan Affandi tentang Chairil maupun paradoks identitas Barat dan Timur yang masih menjadi wacana besar pada masa mereka: … jika di barat nanti menjadi gelap. Turut tenggelam sama sekali. Juga yang mengendap. Di mukamu tinggal bermain Hidup dan Mati.

Permainan rima antara gelap, tenggelam dan mengendap merupakan khas Chairil membuat majas dalam puisi-puisinya. Gelap dan tenggelam menjadi visual ketika dimasukkan unsur mengendap dalam puisinya. Mengendap menghasilkan gambaran antara kemanusiaan, kerawanan dan kecemasan sekaligus, tetapi juga unsur gerak yang disembunyikan.

Gramatika

Chairil juga membuat puisi untuk pelukis Basuki Resobowo dalam tiga versi. Puisi yang memberi pembacaan kritis terhadap cara-cara agama melukiskan surga melalui bidadari dan sungai susu. Penghadiran sosok nenek dalam puisi ini digunakan Chairil untuk memunculkan ruang dongeng dari kebiasaan bahwa neneklah yang selalu menceritakan dongeng. Sosok yang memenuhi unsur ruang dan waktu sebagai narasi di luar pengalaman investigatif.

Pergaulan seni rupa yang dilakukan Chairil terlihat hasilnya yang lebih konkret pada gramatika puisi yang tidak lagi melayani gramatika bahasa Indonesia. Gramatika puisi Chairil mematahkan unsur linieritas bahasa melalui kerja ”menatap” yang banyak dilakukan dalam puisi-puisinya: Dan bara kagum menjadi api/ Berselempang semangat yang tak bisa mati//

Mampus kau dicabik-cabik sepi// Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulan terbuang// Sedang dengan cermin, aku enggan berbagi// Aku bercermin tidak untuk ke pesta.

Gramatika itu membuat dinamika baru antara subyek dan predikat. Majas yang tidak lagi melakukan hiperbola pada umumnya, seperti cara-cara penggambaran kecantikan perempuan dengan ”bulan purnama”. Melainkan majas yang dilakukan dalam lingkungan semiotik dari subyek yang diangkat, seperti antara bara dan api (Dan bara kagum menjadi api). Bara dan api mengalami visualisasi baru dengan memasukkan kata kagum dalam puisi ini. Faktor kagum yang dengan tegas menghasilkan tubuh pada bara dan api. Chairil memasukkan faktor tubuh dalam bahasa puisinya yang tidak lazim dalam puisi-puisi dari generasinya: Mampus kau dicabik-cabik sepi. Sepi dihadirkan sebagai makhluk yang buas.

Dalam dunia patung, kerja monumental umumnya dilakukan melalui pilihan materi-materi berat seperti logam, batu, dan beton. Menggunakan ukuran besar yang tidak bisa diatasi tubuh. Ditempatkan di ruang outdoor yang bisa terlihat dari berbagai arah. Dalam puisi Chairil, kerja monumental itu bisa menjadi sangat internal: sesuatu yang terjadi di dalam, melainkan tetap bisa dilihat dari luar. Dalam puisi ”Lagu Biasa” itu, unsur eksternal dalam setting internal terjadi dengan menghadirkan faktor orkes dan nyanyian ”Ave Maria” yang dibuat paradoks antara religiusitas dan tindakan romantik lelaki perempuan.

Kerja monumental seperti yang dilakukan Chairil itu, dengan latar modernisme yang bunyinya tidak hanya keras untuk bahasa Indonesia, tetapi juga untuk Indonesia sebagai pembentukan bangsa dan negara baru, merupakan latar yang kini sulit kita temukan. Kerja monumental semakin tergantikan dengan realitas fragmentaris yang berlangsung di sekitar kita. Realitas yang pecah, masa kini yang realitasnya selalu kehilangan bingkainya sendiri. Pergeseran pasar dan modal, pergantian produk-produk konsumsi yang masif dan cepat, mobilisasi ruang dan waktu yang cepat, migrasi identitas yang masif melalui globalisasi, salah satu di antara faktor yang tidak lagi memungkinkan menggunakan kerja monumental dalam politik identitas kita di masa kini.

Globalisasi dengan unsur utamanya dalam kontrol keuangan internasional, pada satu sisi memang masih menggunakan maksimalisasi dari kerja monumental melalui pembesaran modal, pasar, dan produk-produk massal. Tetapi semuanya dilakukan dengan materi yang lebih cepat rusak dan hancur untuk menghasilkan perputaran yang lebih cepat. Mengecoh penguasaan di atas fondasi yang tidak permanen, melainkan mobil untuk percepatan, perubahan, dan pemindahan.

Kardus merupakan materi yang tepat untuk realitas masa kini. Kardus digunakan untuk menyimpan dan melindungi. Tetapi sifatnya sementara, tidak seperti penggunaan peti besi. Sementara cermin, yang banyak digunakan Chairil dalam puisinya, kini menghasilkan ruang maya yang baru melalui media digital, TV, maupun internet. Tidak satu pun puisi Chairil pada masanya yang menggunakan materi kardus, dan memperlihatkan bagaimana dunia pengemasan pada masa Chairil memang masih berada dalam ilusi cermin: aku bisa melihat diriku dengan posisi di depan cermin. Cermin seakan-akan telah mengembalikan aku kepada diriku sebagai ”aku yang terlihat”. Tetapi aku dalam cermin itu, adalah aku yang tidak bisa dimasuki.

Afrizal Malna Penyair

Sumber: Kompascetak, 28 April 2013

Bulan Bujur Sangkar

Drama Satu Babak

Bulan Bujur Sangkar

karya Iwan Simatupang 

 

ADEGAN 1

 

 

ORANG TUA (Sibuk Menyiapkan Tiang Gantungan).

Kau siap. Betapa megah. Hidupku seluruhnya kusiapkan untuk mencari jenis kayu termulia bagimu. Mencari jenis tali termulia. Enam puluh tahun lamanya aku mengelilingi bumi, pegunungan, lautan, padang pasir. Harapan nyaris tewas. Enam puluh tahun bernapas hanya untuk satu cita-cita. Akhirnya kau ketemu juga olehku. Kau kutemukan jauh di permukaan laut. Setangkai lumut berkawan sunyi yang riuh dengan sunyinya sendiri. Kau kutemui jauh tinggi. Sehelai jerami dihimpit salju ketinggian, yang bosan dengan putihnya dan tingginya. Kau siap! Kini kau bisa memulai faedahmu!

MASUK PEMUDA, BERTAMPANG LIAR, LETIH, DAN MENENTENG MITRALIUR. IA KAGET, MELIHAT TIANG GANTUNGAN DAN ORANG YANG BERDIRI TENANG DI SAMPINGNYA. IA MENODONGKAN MITRALIURNYA.

ORANG TUA:

Tunggu! Jangan tergesa. Mari kita tentukan dulu tegak kita masing-masing. Agar jangan silap menafsirkan peran kita masing-masing. Yang mematikan atau yang dimatikan.

ANAK MUDA: 

Maksud Bapak?

ORANG TUA   

Tingkah laku harus senantiasa sesuai dengan watak yang ingin digambarkan.

(Ia bisa mengambil mitraliur dari tangan anak muda)

 

Sifat lahir harus sesuai dengan sifat rohani, agar …

(Anak muda sadar dan mendepak mitraliur. Terdengar serentetan tembakan).

 

… agar dicapai kesatuan waktu, kesatuan ruang, kesatuan laku.

ANAK MUDA   

Bapak ingin bunuh saya?

ORANG TUA   

Siapa hendak bunuh siapa?

ANAK MUDA   

Bapak ingin bunuh saya.

ORANG TUA   

Membunuh kau? Aku? Hendak bunuh kau?

ANAK MUDA   

Ya, Bapak hendak bunuh saya!

 

ORANG TUA   

Mengapa? Dengan alasan apa? Dengan tujuan apa aku harus membunuh kau?

 

ANAK MUDA   

Jahanam! Alasan! Tujuan!

IA MENYERGAP ORANG TUA ITU. ORANG TUA MENGELAK.

 

ORANG TUA   

Tunggu dulu! Jangan tergesa. Tiap laku harus mentaati suatu gaya.

 

ANAK MUDA   

Laku? Gaya? Persetan semuanya! Yang penting bagiku adalah kesudahan lakon. Berakhir! Alangkah bahagianya aku bila aku tahu, akulah pembuat keakhiran itu.

LAGI IA MENYERGAP. ORANG TUA MENGELAK SIGAP.

ORANG TUA   

Maksudmu?

ANAK MUDA   

Lakon Bapak berakhir kini! Kini! Akulah yang mengakhirinya.

ORANG TUA   

Lakon tak dapat diakhiri, tapi mengakhiri diri sendiri. Tenaga lakon sudah hadir dalam dirinya, sejak semula. Adegan demi adegan, babak demi babak.

ANAK MUDA   

Tapi, sekali ia toh mesti tamat?

ORANG TUA   

Tamat? Betapa kerap tamat justru berarti permulaan? Pengarang melukiskan pada akhir lakonnya kata-kata “layar turun”. Apa nyatanya? Layar turun, ruang pertunjukan terang kembali. Barulah lakon sesungguhnya mulai bagi penonton. Ia pulang ke rumah, meletakkan dirinya di ranjang untuk menggoreskan titik ke dalam kelam biliknya. Apa selanjutnya terjadi, sesudah layar turun untuk kali penghabisan tadi?

ANAK MUDA   

Tanya yang bukan tanya; bila “tamat” berarti “mati”. Ha ha ha. Apa yang terjadi sesudah mati? Tentu tak apa-apa, sebab mati adalah keakhiran mutlak.

MENYERGAP.

Mutlak!

ORANG TUA   

Alangkah simpelnya, menganggap mati sebagai keakhiran mutlak. Kata siapa? Lihat setiap agama, satu per satu mereka memperoleh rangsang asasinya dalam rumus “Maut sebagai Awal mutlak”.

ANAK MUDA   

Kesudahan dan kemulaan, sama saja. Pokok. Mutlak.

 

ORANG TUA   

Apa maksudmu dengan “Maut Multak” itu?

ANAK MUDA   

Lawan dari “Kehidupan Mutlak”.

ORANG TUA   

Maksudmu?

ANAK MUDA   

Kita. Bapak, aku. Aku yang hendak bunuh Bapak.

 

ORANG TUA   

Sedang tadi?

 

ANAK MUDA   

Tadi? Tadi … Bapak yang hendak bunuh aku.

 

ORANG TUA   

Bagus! Bagaimana hal ini dapat kau jelaskan?

ANAK MUDA   

Entah. Mungkin karena waktu.

ORANG TUA   

Karena waktu? Maksudmu?

ANAK MUDA   

Kelanjutan waktu mengantar Bapak ke taraf di mana kematian bagi Bapak bukan tak mungkin menjadi kenyataan. PAUSE. Tapi karena taraf itu ikut dalam kelanjutan waktu, maka kematian Bapak itu mengantar dirinya sendiri ke muka. Di sini ia sudah bukan kematian lagi.

ORANG TUA   

Bukan kematian lagi? Lalu apa?

ANAK MUDA   

Kematian Bapak mengimbangi dirinya sendiri.

ORANG TUA   

Lalu?

ANAK MUDA   

Kematian Bapak menjadi kehidupan.

ORANG TUA   

Kematianku menjadi kehidupan? Oh, alangkah indahnya kematian kalau begitu.

MEREKA BERPELUKAN.

 

ANAK MUDA   

Ini tiang gantungan. Bukankah begitu, Pak?

ORANG TUA   

Seperti kau lihat. Indah, bukan?

 

ANAK MUDA   

Punya siapa?

ORANG TUA   

Saya

ANAK MUDA   

Sendiri?

ORANG TUA   

Ya, sendiri.

ANAK MUDA   

Bapak seorang algojo?

 

ORANG TUA   

Jelaskan dulu, apa yang kaumaksud dengan algojo itu?!

ANAK MUDA   

Pelaksana hukuman mati, kalau tidak salah.

 

ORANG TUA   

Dari mana kau menarik kesimpulan bahwa aku punya sangkut paut tertentu dengan hukum, dengan hukuman, dan terlebih dengan hukuman mati?! Aku tak menyukainya!

ANAK MUDA   

Kalau begitu, apakah arti tiang gantungan ini? Fungsinya?

ORANG TUA   

Kau telah mengatakan setepatnya Fungsi! Apakah mesti sama arti fungsi dengan mencipta perbedaan antara sesama manusia? Yang menghukum lawan yang dihukum, yang menggantung lawan yang digantung.

ANAK MUDA   

Saya tak mengerti lagi. Bapak dirikan tiang gantungan. Tentu maksud Bapak nanti akan ada seseorang atau lebih yang digantung di sini, hingga mati. Bukankah begitu? Saya tak dapat menerima anggapan, Bapak dirikan tiang gantungan di kaki gunung sini sekadar iseng saja atau sekadar menggantung orang hingga separuh mati saja.

ORANG TUA   

Tentu saja tidak. Tiang gantungan ini merupakan mahkOTa cita-cita yang dianut sepanjang suatu hidup penuh, 60 tahun. Dari semula sudah sejelasnya tafsiran ini pada diri saya.

ANAK MUDA   

Apakah tafsiran itu?

 

ORANG TUA   

Bahwa pada mulanya, pada akhirnya, hidup adalah maut juga.

ANAK MUDA   

Sungguh menarik. Sungguh menarik. Tapi, apakah ini Asli?

ORANG TUA   

Tidak. Bahkan sudah sebaliknya, Basi.

ANAK MUDA   

Jadi penganut cita yang Basi? Adakah ini sesuai dengan apa yang disebut sebagai Cita?

ORANG TUA   

Tidak. Oleh sebab itulah aku merencanakan sesuatu yang asli padanya.

ANAK MUDA   

Apakah itu?

ORANG TUA

Mempraktekkannya.

ANAK MUDA   

Caranya?

ORANG TUA   

Mematikan yang hidup, sudah tentu.

 

ANAK MUDA   

Ha ha ha. Apakah ini juga Asli? Saya khawatir, Bapak sedemikian menggolongkan diri ke dalam barisan pembunuh-pembunuh yang memenuhi penjara-penjara. Sedangkan Bapak adalah Seniman. Seorang seniman besar!

ORANG TUA   

Tentu saja aku tak ingin menyamakan diri dengan mereka. Tidak. Sungguh tepat penamaan yang kauberi tadi. Pembunuhan yang kurencanakan ini adalah seni. Ya, aku seniman. Seniman besar.

ANAK MUDA   

Akan jadi seniman.

ORANG TUA   

Kau benar. Akan jadi seniman.

ANAK MUDA   

Dan bila bapak berniat benar? Jadi seniman itu?

ORANG TUA   

Pada saat ia, yang hidup, yang akan kumatikan, menyatakan kehadirannya padaku.

ANAK MUDA   

Ia Bapak gantung begitu saja.

ORANG TUA   

Maksudmu?

ANAK MUDA   

Tanpa basa-basi lebih dulu? Tanpa tanya apa rela ia dimatikan?

ORANG TUA   

Tentu! Tentu. Ia tak akan menolak. Segalanya punya taraf.

ANAK MUDA   

Bapak yakin ia akan menjawab “Ya.”

ORANG TUA   

Tentu

ANAK MUDA   

Alasannya?

ORANG TUA   

Kau bertanya alasannya?

ANAK MUDA   

Ya, alasannya!

ORANG TUA   

Oleh sebab itu ia, seperti kukatakan tadi, dari semula adalah maut.

ANAK MUDA   

Ia pasti tak akan ajukan protes? Protes terhadap subtitusi kedua kondisinya itu?

ORANG TUA   

Aku tak melihat alasan kuat yang menyebabkan ia mesti protes terhadap kematiannya.

ANAK MUDA   

Menurut Bapak, bukan tak mungkin saya korban itu.

ORANG TUA   

Ha ha ha. Bukan tak mungkin!

ANAK MUDA   

Adakah saya akan menjawab “Ya.”

 

ORANG TUA   

Pertanyaan ini untukku atau untukmu?

ANAK MUDA   

Menurut Bapak?

ORANG TUA   

Untuk kau sendiri.

 

ANAK MUDA   

Bila saya menjawab “Tidak.”

ORANG TUA   

Ya atau Tidak, sama saja bagiku. Yang penting nilainya! Kematian berguna bagi aku. Sederhana, bukan?

ANAK MUDA   

Bapak ingin memaksa saya? Ini membunuh saya namanya. Sedang rencana Bapak itu bertolak dari kemauan bebas.

ORANG TUA   

Bukankah Maut adalah Pembebasan?

ANAK MUDA   

Kebebasan maksud Bapak?

ORANG TUA   

Apa bedanya?

ANAK MUDA   

Kebebasan –dari semula. Pembebasan, masih harus lagi.

ORANG TUA   

Ah, sama saja. Lagipula bagaimana mungkin Maut dapat digambarkan sebagai sifat Semula?

ANAK MUDA   

Soal ini bagi saya atau Bapak?

ORANG TUA   

Menurut kau untuk siapa?

ANAK MUDA   

Untuk Bapak.

ORANG TUA   

Pertanyaan itu bukan soal.

 

ANAK MUDA   

Sungguh suatu Soal. Itulah hakikat cita Bapak itu. Oleh sebab ituh saya protes terhadapnya. Ia dapat dijadikan dalil kesewenangan.

ORANG TUA   

Ha ha ha. Apakah anak hendak meyakinkan aku? Tampang kau dengan rambut  panjang kusut begini, dengan pakaian rimba, dengan senjata pencabut nyawa, dengan dua mata yang menyinarkan keadaan di perbatasan dua bumi, dengan nada-nada suara yang mendambakan penjungkiran seluruh alam. Bukankah ini tampang seorang anarkis?

ANAK MUDA   

Kesenangan tidak sama dengan Anarkis.

 

ORANG TUA   

Tapi sama-sama memuja kemutlakan tiada batas.

ANAK MUDA   

Dapatkah penampilan batas dicerca, bila batas sudah tidak dapat lagi dialami sebagai jaminan mungkinnya keyakinan dan khayal?

 

ORANG TUA   

Dicerca mungkin tidak, tapi dikasihani mungkin ya!

ANAK MUDA   

Bapak lebih buas dari sangkaku semula.

ORANG TUA   

Mengapa? Karena aku tak dapat meyakini citamu yang mencari batas di tempat persembunyiannya, di keterasingan tingginya pegunungan? Tidak, nak. Aku tak ada melihat kebulatan caramu itu. Pada hakikatnya kau adalah pengnut batas juga. Penganut tata tertib, tata krama, tata negara.

ANAK MUDA   

Bapak tidak?

ORANG TUA   

Apa kau kira hakikat tiang gantungan ini?

(Di kejauhan terdengar tembakan, disusul suara-suara. Salah satunya menyerukan perintah)

 

“Mat! Kau tempuh jalan yang mendaki lereng gunung itu. Mungkin ia mendaki. Mungkin ia menempuh itu. Begitu kau lihat dia, tembak! Kita akan bertemu di lereng sana.”

(Suara lain)

 

“Saya, Pak.”

LALU SUARA-SUARA ITU MENDEKAT.

ANAK MUDA   

Nah, Pak. Para pemuja batas itu sudah menyusul aku. Aku mesti pergi lagi. Mereka belum boleh mendapatkan aku. Selamat tinggal algojoku.

ORANG TUA   

Mengapa batas yang kaucari itu, tak ingin kautemui saja pada tali ini. Ia terbuat dari tali jenis bangsawan. Dari bawah salju puncak tertinggi di dunia. Lekas! Waktu tak banyak lagi bagi kau.

 

ANAK MUDA   

Tidak, Pak! Pun tali ini terlalu lurus. Terlalu licin seperti tata tertib, tata krama, tata negara. Batas yang kau cari itu menolak tiap yang lurus, yang licin, yang bagus, yang sopan, yang indah, yang beradab, yang berkebudayaan.

DERAP SEPATU MAKIN MENDEKAT.

ANAK MUDA   

Jangan menangis, Algojo; ingat, tingkah laku harus sesuai dengan….

ORANG TUA   

… dengan watak yang ingin dilukiskan

 

ANAK MUDA   

Bagus! Bagus! Buat apa menangis; Ayo berpestalah! Berhari besarlah! Rayakan keberangkatan suatu watak ke kerajaannya. Kerajaan dari tiada batas.

ORANG TUA   

Ya, pesta hari besar.

ANAK MUDA   

Selamat tinggal.

ORANG TUA   

Watak, Besar.

ADEGAN II

 

SUARA SEPATU MENDEKAT. TEMBAKAN. PERGULATAN. LANTAS SENYAP. PANGGUNG TERANG. PADA TIANG GANTUNGAN TERAYUN-AYUN MAYAT BERPAKAIAN DINAS, LENGKAP DENGAN SENJATANYA.

ORANG TUA   

Hari Besar. Hari ini aku merayakan berangkatnya suatu watak besar ke kerajaan tiada batas. Watak kecil harus selamat tinggal. Peranannya terdiri atas cuma mengucapkan kata-kata “Selamat tinggal!” saja. Sesudah itu ia mesti menghilang lagi. Lari ke belakang layar, terus ke jalan raya. Di situlah wajahnya. Sesekali ia memperkenankan dirinya libur ke kakilima-kakilima, menyorakkan “eli eli lama sabachtani” kepada setiap orang yang lalu, yang berangkat.

(Pause).

 

Itulah duka ceritamu, Pahlawan. Kau tak lagi puas dengan ukuranmu yang kecil. Kau ingin memperbesarnya dengan menyatukan diri dengan pengertian-pengertian, seperti “mengejar”, “memburu”. Darimana kauperoleh hak berbuat demikian, sedang “mengikut” saja tak pernah kaulakukan? Tidak, Pahlawan. Mengejar, bahkan mengikuti dari belakang adalah hak-hak istimewa yang hanya dikaruniakan dewa-dewa kepada mereka yang sudah mengalami kenikmatan berangkat. Dari mengucapkan “selamat tinggal”. Tahukah kau, bagaimana sikap seseorang yang berangkat? Ia menjabat tangan-tangan kerdil kOTor dan berbau kesetiaan harian dari mereka yang tinggal. Bila perlu, ini dilakukannya dengan iringan senyum palsu di mulutnya. Senyum ini perlu untuk menenteramkan mereka agar sabar dengan hasilnya. Kedok seperti ini perlu bagi mereka yang tinggal. Sebab segera ia berangkat, manusia-manusia yang tinggal ini meletuskan perang saudara. Kedok itu mereka perebutkan. Bila Magrib tiba, pulanglah mereka ke rumahnya masing-masing. Sambil membaca mantera-mantera dan jampi-jampi, mereka gulung sobekan-sobekan kedok tadi menjadi azimat. Azimat baru! Bila anjing melengkingkan gonggongan terakhirnya, mengantar binatang berangkat dini hari, dengan rahasia digoreskannyalah sebuah kata pada azimat itu.

(Kepada mayat.)

 

Tahukah kau, Pahlawan! Kata apa? “Selamat Tinggal!” Ha ha ha. “Selamat Tinggal!” Tapi aku telah hindarkan penggulungan azimatmu.

(Memegang jari mayat).

 

Tangan dan jari-jari yang kaubikin kasar bentuknya dengan kesibukan mengejar dan mencabut nyawa ini, tidak perlu kausiksa lebih lama lagi dengan memegang kalam untuk menuliskan “Selamat Tinggal!” Ha ha ha. Aku telah muncul di panggung. Berangkatmu dari bumi adalah berangkat tanpa selamat tinggal. Berangkat yang human, humanitis, psikologis, social paedagogis, sosiologis, ekonomis; berangkat yang prosais, puitis, liris, ritmis.

(Pause)

 

Berangkat yang hina. Tanpa rasa puas dari seorang yang telah memperolokkan orang lain; memperolokkan masyarakat; memperolokkan umat manusia. Berangkatmu adalah persis jatuhnya cangkir yang sudah punya retak, diletakkan tak hati-hati di pinggir meja. Kau jatuh berserakan. Nyonya rumah menjawab tuan rumah “O, hanya mangkok yang sudah retak itu, Pak; ia toh sudah lama hendak kubuang saja.” Tahu apa kata tuan rumah? “Bagus. O, Mien. Bawakan aku lagi teh secangkir, tapi dalam mangkok porselin yang baru kita beli itu, hmm?” Kau dicampakkan dalam tong sampah oleh seorang babu pengomel. Ha ha ha. Tong sampah! Selamat tinggal. Ha ha ha.

SEORANG PEREMPUAN MASUK. USIANYA LEBIH KURANG 25 TAHUN. WAJAHNYA KUATIR, LETIH. MELIHAT MAYAT DIGANTUNG IA TERKEJUT. ORANG TUA MELIHATNYA, TERUS TERBAHAK, DAN SESEKALI MENERIAKKAN “SELAMAT TINGGAL!”

PEREMPUAN  

Selamat petang!

ORANG TUA   

Selamat….

PEREMPUAN  

… petang!

ORANG TUA   

Siapa kau?

PEREMPUAN  

Aku?

ORANG TUA   

A….

PEREMPUAN  

… ku!

DI KEJAUHAN TERDENGAR LETUSAN-LETUSAN SENAPAN, SAHUT MENYAHUT. SESUDAH MITRALIUR BERUNTUN, IA TAMPAK LEGA. SAMBIL MENGUCAPKAN SYUKUR, IA TERISAK-ISAK. MENANGIS.

 

ORANG TUA

Syukurlah, ia masih hidup. Teriakannya yang terakhir tadi belum akhir baginya. Akhirnya ia sampai juga ke kerajaannya.

 

PEREMPUAN  

Bapak mengenalnya.

ORANG TUA   

Siapa tak mengenalnya!? Itulah cacat dari tiadanya batas. Garis yang membulatkan diri kita tak ada. Kita hanya lobang saja di udara.

PEREMPUAN  

Ia singgah di sini?

ORANG TUA   

Di mana dia tak singgah? Lobang ada di segala, ada di tiada. Baginya tak ada perairan. Teritorial. Ia dapat berlabuh di mana ia suka. Yang penting baginya adalah singgah. Itu pengertian gaib antara Tiba dan Berangkat.

 

PEREMPUAN  

Bila ia tiba di sini?

 

 

ORANG TUA   

Pada saat ia berangkat lagi.

PEREMPUAN  

Bila ia berangkat dari sini?

ORANG TUA   

Pada saat ia hendak tiba lagi.

PEREMPUAN  

Ia baru saja dari sini. Baunya masih mengendap di sini. Bagaimana rupanya kini, Pak? Kuruskah? Gemukkah? Masih utuhkah tubuhnya? Belum pincang? Tuli? Buta? Adakah masih tahi lalat pada keningnya atas alis matanya sebelah kiri? Tahi lalat sebesar biji delima? Tahi lalat berwarna ungu tua, sandaran bibirku di kala rindu. Tahi lalat, bukit dalam impianku, dari balik mana Bulan Bujursangkar terbit. Tapi kini, kebun belakang rumah kami habis dirusak babi hutan berturunan dari pegunungan. Delima habis mereka injak-injak, bijinya berserakan. Bulan Bujursangkar tak muncul lagi. Ke mana bibirku harus kusandarkan?

ORANG TUA   

Ke mari.

MENUNJUK TIANG GANTUNGAN.

PEREMPUAN  

Agar ia menjadi bibir yang hilang montoknya, hilang merahnya?

ORANG TUA   

Apa kurangnya bibir yang tak punya sifat-sifat yang kausebut itu?

PEREMPUAN  

Adakah yang lebih jelek daripada Garis Lurus? Bibir yang mencari sandaran pada tiang gantungan adalah Garis Lurus.

ORANG TUA   

Mengapa?

PEREMPUAN  

Bibir mayat. Hendak ke mana segalanya yang serba lurus ini mengunjuk?

ORANG TUA   

Hampir lupa aku, kau adalah tunangannya.

(Menunjuk gunung di kejauhan).

 

Tunangan seorang penantang yang serba lurus.

PEREMPUAN  

Cinta kami bukan pertemuan Dua Garis Sejajar.

ORANG TUA   

Tentu. Kau bukan pencipta Ilmu Ukur baru.

PEREMPUAN  

Cinta kami bukan persilangan

ORANG TUA   

Bukan Salib?!

 

PEREMPUAN  

Bukan! Bukan Salib! Sama sekali bukan Salib!

ORANG TUA( mengejek).

Salib adalah cinta dengan huruf besar.

PEREMPUAN  

Kata siapa?

(Orang tua hendak menjawab).

 

Cinta di seberang sana dari Maut.

ORANG TUA   

Coba sebutkan perasaan besar manusia, yang bukan tegak di seberang sana dari maut.

PEREMPUAN  

Kata siapa kita mesti menyeberang?

ORANG TUA   

Mesti tidak! Tapi sebaiknya!

PEREMPUAN  

Sebaiknya? Adakah tiang gantungan ini bapak dirikan berasas Susila yang dikandung pengertian “Sebaiknya” ini juga? Saya kuatir, sampai kiamat tak akan ada orang yang Bapak gantung.

ORANG TUA ( menunjuk mayat. )

Dan ini?

PEREMPUAN  

Ia Bapak paksa, Bapak bunuh!

ORANG TUA   

Kata siapa?

PEREMPUAN  

Kesimpulan satu-satunya yang dapat ditarik dari keadaan di sini.

ORANG TUA   

Kau hamba logika.

PEREMPUAN  

Justru algojonya.

ORANG TUA   

Jadi, menurut pendapat kau, akulah pembunuh pahlawan kita yang mencoba melakukan tugasnya ini? Begitulah jadinya, kalau kau terlalu lama jadi ditelan filsafat.

PEREMPUAN  

Bapak rupanya sarjana, ya?

ORANG TUA   

Persetan sarjana. Kesarjanaan! Ha ha ha. Mari kita bangun kembali peristiwa ini.

(Menunjuk mayat).

Ia datang ke mari untuk apa?

PEREMPUAN  

Melakukan kewajibannya.

ORANG TUA   

Bagus. Bagaimana ia kini?

PEREMPUAN  

Mati digantung.

ORANG TUA   

Bagus. Apa kesimpulannya?

PEREMPUAN (sinis)

Berkewajiban berarti dibunuh.

ORANG TUA   

Bagus! Bagus!

PEREMPUAN  

Adakah penolakan terhadap kesarjanaan itu berarti Bapak lalu menganut kepura-puraan.

ORANG TUA   

Persetan Sofisme. Pahlawan kita ini harus berterima kasih padaku. Ia telah kubebaskan dari peranannya yang pelik. Yakni mempunyai kewajiban. Kewajiban membuat kita terlalu sadar akan diri sendiri. Kita menjadi angkuh. Bila ukuran watak yang  mendukungnya tak seberapa, maka celakalah. Kewajiban itu lalu menjadi bentuk tertentu dari kesewenangan. Ya, tunanganmu tadi menolak dalilku yang menyatakan bahwa kesewenangan sama saja dengan Anarki.

PEREMPUAN  

Tapi….

ORANG TUA   

Tunggu. Ha ha ha. Mengapa aku hampir lupa, cinta kadang-kadang berarti kesamaan-kesamaan. Dalilku tak mengandung arti meremehkan Anarki maupun kesewenangan. Aku hanya ingin mengemukakan hierarki dari pengertian-pengertian saja. Anarki hanyalah sebagian kecil dari kesewenangan.

PEREMPUAN  

Atau sebaliknya?

ORANG TUA   

Tidak. Hingga kini, anarki hanya dapat mempertahankan dirinya lewat rasa tak puas, lapar, rapat-rapat rahasia, sabOTase, peledakan-peledakan bom waktu, dan penyebaran pamflet-pamflet gelap. Penghadapan wajah ke bawah tanah inilah yang senantiasa tak dapat kusetujui. Bagaimana bahagia di atas tanah dapat diperjuangkan di bawah tanah? Tidak! Bahagia adalah juga masalah sinar matahari. Masalah harmoni.

PEREMPUAN  

Bapak seorang klasikus juga.

ORANG TUA   

Karena harmoni yang kukatakan itu? Aku bahkan terus bertarung melawan klasikisme. Aku ingin memancungnya bila saja, di mana saja kutemui.

PEREMPUAN  

Mengapa?

ORANG TUA   

Karena ia memperkenankan dirinya menciptakan pada manusia kini rasa asing terhadap dirinya sendiri. Masa kita kini adalah masa yang justru mengabdi kepada yang serba tak harmonis. Disharmoni. Demikian ibadah zaman baru. Lihat saja seni … musik modern, sastra modern, drama modern.

 

PEREMPUAN  

Bapak seorang modernis?

ORANG TUA   

Tidak!

PEREMPUAN  

Mengapa?!

ORANG TUA   

Modernisme juga cuma satu istilah saja.

PEREMPUAN  

Apakah kalau begitu paham Bapak?

ORANG TUA   

Ketiadanamaan, yang mencoba sinonimnya pada tiang gantungan.

SUARA-SUARA RIMBA, TANDA PETANG MENJELANG. AGAK DEKAT, ALUNAN SERUNAI MEMAINKAN SEBUAH LAGU RAKYAT YANG SANGSAI. SESEKALI SERUNAI ITU BERHENTI, LALU TERDENGAR SUARA GEMBALA KECIL, 15 TAHUN UMURNYA, MENYERU-SERUKAN DOMBANYA AGAR TIDAK TERLALU JAUH.

PEREMPUAN  

Siapa itu?

ORANG TUA   

Harmoni.

PEREMPUAN  

Menyatakan dirinya lewat siapa?

ORANG TUA   

Seorang gembala cilik. Tiap hari ia ke lereng gunung ini menjagai domba-dombanya. Anak haram jadah?!

PEREMPUAN  

Mengapa Bapak marah?!!

ORANG TUA   

Sawangku menjadi olehnya.

PEREMPUAN  

Karena nada-nada serunai itu terlalu harmonis?

ORANG TUA   

Ya, setiap kali ia kudengar, aku selalu dan seolah dihadapkan dengan sebuah lukisan yang oleh suatu prasangka tertentu dalam diriku tak kusukai.

PEREMPUAN  

Adakah lukisan itu jelek?

ORANG TUA   

Tidak.

 

PEREMPUAN  

Warna-warnanya barangkali tak sesuai? Pelukisnya tak tahu membagi bidang? Tak pernah mempelajari psikologi dalam filsafat warna? Bingkainya barangkali terlalu menyolok!

ORANG TUA   

Ia sama sekali tak berbingkai.

PEREMPUAN  

O, jadi, lukisan yang bertemakan keabadian?

ORANG TUA   

Bukan! Bukan! Bukan!

PEREMPUAN  

Siapa pelukisnya?

ORANG TUA   

Aku tak tahu.

PEREMPUAN  

Dugaan Bapak?

ORANG TUA   

Aku tidak tahu.

PEREMPUAN  

Tentang apa lukisan itu?

ORANG TUA   

Aku tidak tahu.

PEREMPUAN  

Dugaan Bapak?

ORANG TUA   

Sorga.

PEREMPUAN  

Alasan Bapak?

ORANG TUA   

Terlalu damai.

PEREMPUAN  

Alasan Bapak.

ORANG TUA   

Tanpa konflik.

(Suara serunai. Sesekali gembala menyeru dombanya. Orang tua gelisah).

 

Stop! Hentikan!

SERUNAI TERHENTI. ORANG TUA BINGUNG. SERUNAI MULAI LAGI. TERHARU, DIAM-DIAM PEREMPUAN PERGI

 

 

 

ADEGAN III

 

ORANG TUA BERHENTI MENANGIS.

ORANG TUA   

Haaaaai!!!

(Gaung bersahutan.)

Haaai! Siapa perempuan muda tadi. Ia cuma menyebut dirinya Aku. Haai Akuuu!!

 

(Gaung kembali bersahutan).

 

Ke mana ia pergi? Mengapa ia pergi? Bodoh aku ini. Kubiarkan ia pergi. Sedang kesempatan sudah begitu bagusnya. Aku ngomong saja tentang lobang, peraturan teritorial, tahi lalat, warna ungu tua, bulan bujursangkar, delima, celeng, ilmu ukur baru. Ia perempuan cantik. Begitu cantik. Buah dadanya, buah dadanya! Ia akan kurebahkan di sini. Ah, peduli apa kalau pun ada orang melihatnya. Dan apabila ia meronta? Tentu saja ia meronta. Ronta keperawanan. Tiap terjang tumitnya di dadaku ini, merupakan medali cinta tertinggi bagiku. Kebetinaan harus ditemui di balik kerusakan. Di balik kutang dan celana sutra yang dirobek paksa. Di balik rintih penyerahan tubuh dengan paksa. Tanpa kekerasan segalanya hanya akan menjadi masalah garis lurus. Mengapa aku harus enggan memperkosanya? Aku, yang sudah berusia 60 tahun. Yang tak pernah berani membuka hatiku kepada kejelitaan jenis betina dari umat manusia. 60 tahun adalah usia yang patut diakhiri. Atas kehendak  bebasku, siapa sanggup melarangnya? Seperti juga, siapa yang sanggup melarang aku memperkosa perempuan tadi, andai ia masih di sini sekarang. Dan mesti dia orangnya. Gadis, remaja, jelita, cendekia, jenial, setia, penuh cita-cita. Pendeknya perempuan sempurna. Dan dia ini tunangan dari pemuda sempurna. Laki-laki sempurna. Gagah, tampan, jujur, berani, berperadaban jasmani dan rohani yang tinggi, suka malam sunyi dengan gonggong anjing di kejauhan. Suka memandangi bintang-bintang. Suka puisi, suka drama, suka segala yang indah. Pendeknya laki-laki sempurna, Perempuan sempurna dengan laki-laki sempurna.

DI KEJAUHAN TERDENGAR LETUSAN-LETUSAN SENAPAN. LANTAS DIBALAS SEBUAH MITRALIUR. LANTAS SORAK KEMENANGAN.

ORANG TUA   

Sempurna.

(Terdengar Serunai).

 

Gembala jahanam. Stop! Hentikan!

(Serunai Berhenti).

 

Akhirnya ia berhenti juga. Akhirnya ada manusia yang mematuhi aku. Berhentiiii.

(Gaung Bersahutan).

 

Nah, aku kini beroleh titik mula. Hai bimbang, enyah kau! Serunai dan gembala telah tunduk. Aku kini mulai dengan babak pertama pelaksanaan citaku. Apa kata filsuf Perancis yang kenes itu? Cogito… Persetan bahasa latin. Biar kucoba dengan bahasa ibuku sendiri. Aku membunuh oleh sebab itu aku ada!!! Nah, itu dia. Aku membunuh oleh sebab itu aku ada! Ayo para sarjana, catat filsafat baru ini. Lekas tulis buku-buku pengantar tentangnya. Filsafat sekarang adalah “Filsafat pengantar filsafat” saja. Itulah daya maksimum manusia – pengantar. Mengantar hingga sampai pintu tertutup saja. Apa di balik pintu tertutup itu? Kamar kosong. Pada kuncinya tersangkut sobekan kertas karton kecil dengan tulisan eli eli lama sabachtani. Ha ha ha. Eli eli lama sabachtani.

SUARA SERUNAI KEMBALI. ORANG TUA BERHENTI TERTAWA. GEMBALA KECIL MUNCUL, IA KAGET MELIHAT MAYAT TERGANTUNG, DAN HENDAK PERGI.

ORANG TUA   

Ada apa, Nak?

GEMBALA       

Ada prajurit. Banyak prajurit! Mereka mengusung sebuah mayat.

 

ORANG TUA   

Mayat? Mayat siapa?

 

GEMBALA       

Seorang laki-laki.

ORANG TUA   

Pemuda? Rambutnya panjang? Pakaiannya macan loreng? Tahi lalat atas alis sebelah kiri? Berwarna ungu tua? Di mana ia sekarang?

GEMBALA       

Di sana.

ORANG TUA   

Beristirahat?

GEMBALA       

Bukan. Menurunkan mayat lain dari pohon.

ORANG TUA   

Mayat lain? Mayat siapa?

GEMBALA       

Seorang perempuan yang menggantung dirinya di atas pohon.

ORANG TUA   

Bagaimana rupanya?

GEMBALA       

Ia telanjang.

ORANG TUA   

Telanjang?

GEMBALA       

Pakaiannya dirobek-robek jadi tali gantungannya.

ORANG TUA   

Apakah ia masih gadis? Buah dadanya! Buah dadanya!

GEMBALA PERGI DIAM-DIAM. SUARA BELANTARA MAKIN RAMAI.

ORANG TUA    (Berbisik).

Babi hutan berturunan dari pegunungan. Buah delima habis mereka injak-injak. Bulan bujursangkar tak terbit lagi. Tak terbit lagi. PAUSE. Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada. Aku yang menyumbangkan bab terakhir pada ilmu filsafat. Haai sarjana-sarjana filsafat, catat ini Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada.

SAYUP-SAYUP SUARA SERUNAI. LAGU RAKYAT. AMAT SANGSAI.

ORANG TUA  MENGAKHIRI HIDUPNYA.  Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada. 

 

PANGGUNG GELAP

 

Disalin dari Majalah Siasat Tahun XIV No 667, 23 Maret 1960

Semarang 17 Maret 2002 Diketik ulang oleh Ema CH

Takar Buku: Catatan Tentang Muak dan Mual

catatan-bawah-tanah

Catatan dari Bawah Tanah

by Fyodor Dostoyevsky, Asrul Sani (translator)

Published: 1992 by Pustaka Jaya (first published 1861)

Details: Paperback, 171 pages

Oleh: John Ferry Sihotang

“Aku sakit… Aku orang pendendam. Aku orang yang tidak menarik. Aku yakin hatiku mengindap penyakit.”

Begitulah buku Catatan dari Bawah Tanah dibuka penulisnya, Fyodor Dostoyevsky, raksasa sastra dan seorang pemikir (eksistensialis) besar Rusia pada abad ke-19. Prosa terjemahan Asrul Sani ini adalah cerita tentang seorang lelaki “aku”, pesakitan yang mencoba mewaraskan diri dengan menulis catatan. Catatan katarsis! Di mana ia menuangkan segala isi hatinya dengan bebas. Catatan itu mengendap hitam selama 40 tahun, dari rasa muak dan mual pada dunia. Seperti seorang psikopat jenius, “aku” meradang di pojok sepinya, menulisi kata-kata yang sakit, sarkas, dan mengerang, tentang pergulatan batinnya di tengah kemelut zamannya; sembari tak lupa mengolok-olok diri sejadi-jadinya, sebagai yang teralineasi.

Novel– lebih tepatnya disebut novelet atau bahkan cerpen yang panjang —  setebal 171 halaman ini ditulis intens, tertata sedemikian rupa, dan mampu mengaduk-ngaduk emosi pembaca. Dostoyevsky mencoba mengangkat perenungan besar tentang kecemasan, kejahatan, kesemuan, kegilaan, dan kesakitan manusia modern. Kendati tokoh imajiner “aku” digambarkan anonim dan berkarakter negatif (tak punya watak moral), buku ini tetaplah menawarkan kemungkinan baru pengayaan makna, berkaitan dengan situasi eksistensial manusia yang gamang berhadapan dengan dunianya.

Sedikit Eksistensialis

Buku tipis ini hanya terdiri dari dua bab, dengan alur mundur. Dalam bab pertama, tokoh “aku” digambarkan sebagai lelaki berumur 40 tahun, menulis serentak meracau dalam bentuk monolog: bagaimana ia akan merasakan kesenangan yang dalam sekali bila berhasil membuat orang susah; bagaimana ia seorang yang lebih unggul dalam hal inteligensia,namun ditolak lingkungan sosialnya; bagaimana ia mudah kesal, benci, dan dendam pada segala hal; dll. Karakter yang aneh, memang.

Karakter “aku”, sebagai tokoh sentral sekaligus narator dalam novelet ini, adalah”aku” dalam arti eksistensialis; pengarang Dostoyevsky adalah eksistensialis dalam sastra, dan konon, filsuf eksistensialis cum sastrawan Jean Paul Sarte adalah penggemar Dosto. Tokoh “aku”, (seperti galibnya novel-novel eksistensialis?), adalah manusia pesakitan, tak jelas identitas, gembel, namun begitu memuja rasio; mirip “tokoh kita” dalam novel-novel Iwan Simatupang. Tokoh “aku” ini seorang pemuda penuh kebencian dan dendam. Tak jelas apa yang membuatnya benci dan dendam terhadap segala hal, bahkan terhadap dirinya sendiri; boleh jadi karena filsafatnya sendiri, seperti ditulisnya:

“Ya, lelaki abad ke-19 harus menjadi dan terutama memiliki moral orang yang tidak punya watak sama sekali; manusia berwatak, manusia yang gesit, pada dasarnya adalah seorang manusia terbatas.” Di sinilah letak dilema, ambiguitas, dan paradoks kecacatan manusia dalam jubah modernitas. Tokoh “aku” unggul dalam hal intelektual, juga pecinta kebenaran, keadilan, dan kejujuran; namun gagal dalam pergaulan, pun dalam cinta. Ia benci kepada kepura-puraan, kekenesan, kesantuan… benci akan semua hal — bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia lebih suka menikmati kemurungan,  kesendirian, lalu meminum racun kesepiannya, sendiri, di ruang bawah tanah.

Di dalam bab ini juga, Dosto seolah ingin membuat distingsi dua jenis manusia. Manusia atas dan manusia lemah. Manusia atas terbebas dari nilai-nilai, hukum tak berlaku untuk mereka, dan boleh berbuat sesukanya, walaupun kejam, tak boleh disebut kejahatan, karena itu dilakukan untuk kebaikan banyak orang; watak yang terkesan membanggakan, bahkan menyombongkan, penyakitnya sendiri. Sedangkan Manusia lemah adalah manusia-manusia yang ikut arus mainstream, cecunguk penuh kepura-puraan, manusia kerumunan yang tak jelas eksistensinya. “Aku satu, mereka semua,” kata Dosto melukiskan kedua jenis manusia ini. Tokoh”aku”, dengan segala irasionalitasnya, boleh kita lihat sebagai jenis manusia pertama.

Sedikit Sosialis

Bab kedua tentang aib yang keji, (tentang salju yang basah, kata naratornya), yang membuat tokoh “aku” meracau di bab pertama. Cerita aib ini terjadi 16 tahun sebelumnya, saat tokoh “aku” berumur 24 tahun. Bab ini kian menegaskan keterasingan tokoh “aku” dari dunia kerja, dari persahabatan, dari lingkungan kontrakan busuknya, dengan dialog-dialog yang kuat. Ia sungguh telah terisolasi dari seluruh dunia luar.

Cerita tentang aib yang keji itu cukup sederhana. Suatu hari tokoh “aku” dan beberapa kawan sekolahnya mau mengadakan pesta perpisahan kecil kepada seorang kawan yang akan pindah tugas kemiliteran ke kota lain, padahal ia tak suka pesta. Saat pesta berlangsung, dia malah kesal bukan main karena tak diberitahu kalau acara mundur, lalu mulai menguji kecerdasannya dengan menembakkan kritik pada kemunafikan, kekenesan, dan keinginan semu para kawannya. Semua orang, kecuali dia, bersenang-senang dengan botol-botol minuman. Tokoh aku hanya terabaikan. Untuk menarik perhatian, ia mengajak tengkar semuanya — yang akhirnya meninggalkannya sendirian. Ia pun hanya bisa memaki-maki semua yang pergi, juga memaki-maki dirinya karena tak pernah bisa berdamai dengan apa pun. Ia kejar “gerombolan” itu, bersama makian dan umpatan, sampai ke tempat pelacuran.

Meski terkesan sakit jiwa,  tokoh “aku” adalah seorang humanis, atau mungkin lebih tepat sedikit sosialis. Dan tampaknyaia mengagungkan cinta, atau mungkin menganggap cinta itu adalah Tuhan yang nyata. Tak disangka-sangka, si manusia pesakitan ini bisa juga jatuh cinta! Kepada seorang pelacur muda pula! Rupanya cinta itu lahir di sembarang tempat, seperti kata Phutut EA. Setelah perkelaminan absurd, ia memberi nasehat dengan bercerita tentang nasib seorang pelacur tua yang membusuk di sudut kota; lalu ia menawarkan si perempuan muda supaya meninggalkan lembah pelacuran, dan datang ke rumahnya (sebagai “pemilik” rumah cinta sesungguhnya). Kata-kata tokoh “aku”, misalnya, “kepedihan pun akan terasa manis karena adanya cinta,” begitu berkesan pada si pelacur muda, hingga membuat perempuan itu haru, menuang air mata penuh-penuh. Tapi, tentu saja, kata-kata cemerlang itu dikatakannya dalam keadaan mabuk; tak lama setelah tokoh aku menenggak alkohol penuh-penuh ke mulutnya, lalu mengejar “gerombolan” itu untuk menuntaskan dendam dan kebenciannya.

Akhir cerita, si pelacur muda datang. Tokoh aku justru panik. Ia malah kehilangan kepercayaan diri dengan kegembelan dan kekumuhan kontrakannya, lalu membuat perang kata-kata dengan pengurus kontrakan tersebut. Dalam sadarnya, ternyata, ia menyesali wejangan yang pernah diucapkannya pada pelacur muda itu. Ia justru tak bisa membayangkan hidup dengan cinta. Ia paranoid dengan idea kehidupan rumah tangga. Ia sebenarnya mau, tapi tak sanggup. Atau ia sanggup, tapi tak bisa. Entahlah. Ia malah bertingkah seaneh-anehnya agar si pelacur segara minggat; meski sesudahnya ia coba mengejar kembali, tapi sia-sia. Ia hanya mampu kembali meringkuk di sudut kamarnya, di sudut sesal dan sakitnya, di sudut mual dan isengnya, di bawah tanahnya yang suram.

Dunia yang Sakit

Demikian cerita singkat tentang aib yang keji itu, tentang keterasingan yang pahit itu.Tentang seseorang yang kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai oleh manusia di lingkungan pergaulannya. Aib yang kemudian dipahatkannya menjadi catatan katarsis, catatan dari bawah tanah–boleh jadi sebagai metafor alam bawah sadar manusia, “id”, istilah psikologinya.

Karena itu pula buku ini terkesan, atau boleh dimasukkan, sebagai karya sastra psikologi, karena mampu menyusuri lorong-lorong gelap jiwa manusia. Akan tetapi, Dosto tak pernah mau disebut seorang psikolog. Ia justru mengaku sebagai realis, seperti pernah ditulisnya dalam catatan hariannya: “I am called a psychologist, it’s not true, I am only a realist in the highest sense, i.e. I depict all the deepths of the human soul.”

Entah jenis karya sastra apa pun ini, buku kecil ini adalah gambaran dunia kita, “dunia yang sakit”, dunia patologis. Dunia yang tak pernah sehat, apalagi sempurna. Dunia di mana kesempurnaan hanyalah ilusi kekanak-kanakan yang kekal. Dunia yang selalu cacat. Dunia yang tak pernah cukup besar hati untuk memberikan kebahagiaan penuh bagi penghuninya. Dunia yang selalu iri pada cinta dan keharmonisan. Dunia yang menyimpan cemburu, benci, dan dendam pada kesementaraan. Ya, dunia yang tak pernah terpahamkan.***

PS: Bacalah buku ini, ketika kamu sudah mulai muak dengan buku-buku penuh moral, atau buku-buku megalomania yang ditimpa waham kebesarannya sendiri.