Tagihan Kebudayaan Kasus Munir

Oleh Usman Hamid

Hari ini, 8 Desember, adalah hari kelahiran Munir. Akan tetapi, perayaan ulang tahun Munir yang diperingati dua hari berturut-turut di Kota Batu, Jawa Timur, pada 2-3 Desember lalu, benar-benar terasa istimewa.

Perayaan khidmat, haru, dan jenaka mengisi alun-alun Kota Batu yang dikelilingi pemandangan indah: gunung, langit cerah, tanaman hijau asri, dan udara sejuk. Pantas saja Munir amat membanggakan Kota Batu, tempat ia lahir dan dibesarkan, serta hendak menghabiskan masa tuanya di Kota Batu.

Minggu pagi, peringatan dimulai dengan kegiatan ziarah ke makam Munir. Menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya”, menaikkan bendera Merah Putih, dan menurunkan bendera hitam pertanda duka. Ziarah ini ditutup dengan doa oleh putra Munir, Soultan Alief Allende. Alief bermunajat, ”Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada para pembunuh Abah Munir untuk sadar dan mau mengakui perbuatannya.”

Dalam orasi budayanya, Goenawan Mohamad mengatakan, jika Munir masih ada, barangkali ia sudah meraih Nobel Perdamaian dunia. Budayawan lainnya melukis spontan, menyemprot kaus-kaus peserta dengan wajah Munir. Djaduk Ferianto tampil dalam pertunjukan musik yang mengkritik sikap negara yang tak menuntaskan kasus Munir.

Sketsa Munir yang diwarnai ribuan pelajar sekolah dasar se- Kota Batu telah terpampang di sudut-sudut kota. Pembaca puisi kenamaan Sitok Srengenge menciptakan puisi mengenang Munir, cinta dan keadilan yang diperjuangkannya.

Duta universal

Semua yang pernah bekerja bersama Munir pasti terkesan. Ia sangat aktif, cepat geraknya, tajam analisisnya, tak pernah bosan membantu orang-orang yang butuh pertolongannya, tak kenal lelah, apalagi takut. Pemimpin besar NU, KH Abdurrahman Wahid, pernah berkata, ”Saya belajar banyak dari Munir. Kerjanya Munir itu, ya, menolong orang.” Sementara pemimpin besar Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, menulis: ”Munir itu duta universal Islam.”

Dalam kesaksian itu Munir menjadi sosok manusia biasa, sama seperti kita. Kelebihannya adalah menjadi humanis sekaligus berjiwa resi karena satunya kata dan tindakan. Profetik!

Ungkapan Gus Dur dan Buya Maarif membuat saya berpikir, mungkin ini yang membuat SBY dalam kapasitasnya sebagai presiden menyatakan penyelesaian kasus Munir adalah ”the test of our history”, ujian sejarah bangsa ini! Nah, apakah dalam ujian ini Bapak Presiden sudah lulus?

Saya terpukau oleh keterlibatan para budayawan yang diprakarsai pelukis Kota Batu, Koeboe Sarawan, dan budayawan Butet Kartaredjasa. Begitu pula dengan kehadiran Djoko Pekik, Nasirun, Ong Harry Wahyu, Alit Ambhara, serta seniman, perupa, dan budayawan lain yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta, Jakarta, hingga Bandung.

Sebuah momen berharga untuk memaknai Munir lewat ungkapan-ungkapan seni dan kebudayaan. Itu terlihat dari gambar- gambar yang telah diwarnai oleh pelajar-pelajar SD se-Kota Batu.

Munir itu sosok yang menyukai seni, lukis ataupun musik. Saya beberapa kali melihat Munir mengoleksi lukisan, termasuk diajaknya membeli karya teman senimannya. Saya tanya, berapa harganya, Cak? ”Terserah saja, berapa yang kita pikir pantas menilainya.”

Munir bayar tanpa menawar. Nominalnya besar. Waktu itu saya masih berstatus relawan, batal membeli lukisan yang begitu saya sukai karena khawatir jika dinilai tidak menghargai karya lukis. Setelah akhirnya dapat gaji pun, belum bisa membeli lukisan dengan harga yang pantas.

Mengapa Munir suka seni? Hidup Munir sendiri penuh karisma etik dan karakter estetik. Tajam, lugu, lugas, dan jenaka. Seperti karya seni, hidup Munir berwarna-warni. Ia menyukai seni bukan sekadar medium ekspresi atau kesenangan diri akan sesuatu yang indah. Munir percaya, seni itu menyimpan energi besar yang dapat mencerahkan, membebaskan, bahkan melahirkan perubahan sosial.

Dalam membela orang-orang hilang, Munir terinspirasi sekali perjuangan Amerika Latin. Di sana, banyak bukti sejarah tentang peran seni dan budaya dalam perubahan sosial atau revolusi di dunia. Dari kota Buenos Aires di Argentina, Caracas di Venezuela, seperti di Paris, Perancis, atau kota Kairo, Mesir, di musim semi Arab. Mungkin ke depan, dari prakarsa Kota Batu saat ini akan lahir satu revolusi. Tak harus fisik, tetapi yang utama mengubah cara pandang, revolusi epistemik. Perubahan, kata Munir, tak cukup dengan menjatuhkan diktator, tetapi mengubah cara pandang hidup kita sebagai bangsa.

Seperti seni, Munir menghargai beragam pandangan berbeda. Seperti Munir, seni tak hendak bermaksud memberikan jawaban pasti. Di sini, ia menjadi suatu cara mengajukan pertanyaan, yang disebut oleh Butet sebagai gerakan ”debt collector cultural”, menagih utang kasus Munir dengan cara berbudaya.

Usman Hamid Direktur Change.org

Sumber: Kompascetak, 08 Desember 2012

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s