Review Buku: Jurnal yang Melampaui Jurnalisme

Oleh Taufik Rahzen

Dalam naskah klasik Nagara Krtagama (1365 M), Mpu Prapanca dengan rendah hati menyebutkan bahwa apa yang dibabarkannya hanyalah catatan perjalanan sang Prabu Hayam Wuruk mengelilingi dan melihat keragaman desa (Desawarnana).

Pada bagian akhir pupuh 375-6, ada tambahan bahwa penggambaran tentang desa dan desa semata tidaklah lengkap dan belum selesai. Ia harus dirampungkan dengan catatan tentang sang kala dan pengetahuan tentang lambang (citra, patra).

Banyak pihak mengandaikan naskah Nagara Krtagama (Desawarnana) sebagai naskah jurnalistik pertama Nusantara karena syarat dasar 5W1H (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana) terekam jelas. Naskah ini membalikkan tradisi penulisan yang berpusat pada dewa dan kahyangan menjadi catatan perjalanan manusia dan desa di bumi. Waktu sejarah disusupkan dalam peristiwa keseharian, dicatat dan diberi tanda.

Jika demikian adanya, agaknya hampir tujuh abad, harapan Mpu Prapanca dapat digenapkan oleh himpunan catatan perjalanan Ekspedisi Cincin Api, yang dirangkum dalam bentuk buku oleh Ahmad Arif dengan judul Ekspedisi Kompas: Hidup Mati di Negeri Cincin Api. Buku itu akan diluncurkan Rabu malam ini di Bentara Budaya Jakarta.

Desa, kala, patra

Mengikuti Ekspedisi Cincin Api yang ditampilkan secara reguler di koran, melalui daring sosial, dan Kompas TV, ternyata berbeda dengan membaca bukunya. Keserentakan, kebaruan, dan watak media—meski mewartakan hal yang sama—justru melahirkan sensasi pengalaman yang berbeda.

Melalui buku, kita diajak untuk terlibat sekaligus mengambil jarak. Pembacaan teks menuntut sebuah bingkai dan cara pandang, sesuatu yang tak diperlukan saat menonton di multimedia. Buku memadatkan semua pengalaman bersama dan rangkaian peristiwa sebagai pengalaman eksistensial. Masa yang jauh ditarik dalam perbincangan sehari-hari, sementara sebuah tempat tidaklah diwakili dengan nama saja, tetapi berubah sebagai sebuah tanda, sebuah torehan dalam sejarah.

Dalam buku ini, Tambora, Krakatau, dan, Toba misalnya, tidaklah merujuk pada sebuah tempat atau lanskap geologis. Nama itu mewakili sebuah peristiwa, sebuah penanda dalam waktu, yang mengawali atau mengakhiri sebuah masa.

Ekspedisi ini membawa para ahli arkeologi, botani, geologi, antropologi, bahasa, dan sejarah dalam suatu karnaval untuk membuat peta baru. Peta yang ditenun dari pengetahuan dan ingatan, dari penelitian dan dugaan, dari keyakinan dan mitos. Membaca ekspedisi Cincin Api dengan kekayaan sejarah alamnya menyadarkan kita bahwa hiruk pikuk politik hanyalah pernik atau kebetulan dalam sejarah.

Dengan caranya sendiri, ekspedisi mengajak pembacanya untuk melakukan penziarahan bersama dalam melacak sekaligus menyusun identitas diri. Bahwa kita mewarisi tanah dan air yang mudah goyah dan dibentuk setiap saat, mewarisi gairah untuk mati dan gairah untuk hidup yang sama besarnya.

Karena itu, jurnalisme yang melatari dan menghasilkan Cincin Api bukanlah jurnalisme biasa. Berbeda dengan jurnalisme investigatif yang berusaha menyingkap hubungan kausal peristiwa dengan kritis dan mendalam. Juga bukan jurnalisme baru yang mengembalikan narasi dan bahasa pada kehangatan hidup manusia.

Jurnalisme Cincin Api mencoba membabarkan sekaligus melampaui peristiwa, sebuah rekaman yang bersifat antisipatoris. Ia meletakkan alam, benda- benda, peristiwa, ingatan, pengetahuan, bencana, dan daya hidup dalam sistem kesadaran bersama. Masa lampau yang panjang dan masa kini dipadatkan untuk menyusun tindakan bagi mereka yang belum lahir.

Jurnalisme ini memadukan dengan organik, kesatuan antara desa (ruang, alam); kala (waktu, bencana); dan patra (lambang, logos). Dengan memadukan kecerdasan kolektif dengan teknologi digital, kita sedang menyaksikan apa yang sementara ini disebut beyond journalism atau jurnalisme yang melampaui.

Gunung dan samudra

Berbeda dengan ekspedisi Kompas sebelumnya, Anyer-Panarukan, Bengawan Solo, Kapuas, ataupun Nusa Tenggara yang menggunakan pendekatan investigatif dalam pelaporan jurnalistiknya, Ekspedisi Cincin Api, sesuai dengan namanya, memilih gunung dan samudra sebagai desa penjelajahan.

Dalam kepercayaan Nusantara, gunung bukanlah tempat netral, melainkan pusat jagat tempat pertemuan dunia atas dan bawah, pertemuan antara yang sakral dan profan, antara kehidupan dan kematian. Masyarakat Nusantara percaya adanya Dewa Gunung, sebagai dewa tertinggi yang mengatasi dewa yang datang kemudian. Hyang Acalapati pada masa Hayam Wuruk atau Parwataraja pada masa Airlangga (Kakawin Arjunawiwaha) atau Parwatandtha (Nagara Krtagama) dan Girindtha (Sutasoma).

Namun, gunung tidaklah berdiri sendiri, tetapi berpasangan secara organis dengan samudra, yang kemudian melahirkan konsep dasar Segara-Giri sebagai rujukan istilah tanah dan air.

Membaca catatan perjalanan tentang Tambora (1815), Krakatau (1883), Agung (1963), Merapi (2010), dan Gamalama, sama memukaunya dengan pemaparan tentang tsunami Aceh, Padang, atau Pangandaran. Semuanya mengantar pada kesadaran betapa ringkihnya kita hidup dalam sabuk bencana. Namun dengan caranya sendiri, masyarakat mampu mengelola kecemasan dan harapannya.

Saya tergoda untuk membandingkan, apa yang dilakukan oleh Ekspedisi Cincin Api ini dengan perjalanan Danhyang Nirartha yang melakukan penziarahan dari gunung ke gunung dan memperindah samudra.

Saat mulai runtuhnya Majapahit dengan mulai bangkitnya Islam, Rsi Nirartha melakukan perjalanan Dharmayatra (1489 M) dari Semeru, Bromo, Blambangan, Agung, Rinjani, dan Tambora selama 20 tahun. Ia berinteraksi sekaligus membangun komunitas. Jika di gunung ia meninggalkan pura pemujaan yang indah dan komunitas plural yang kuat, di pantai samudra ia meninggalkan warisan yang kita kenal saat ini dengan Tanah Lot, Uluwatu, Ponjok Batu, Sakenan, dan puluhan pura indah lainnya sepanjang perjalanan. Ia jadikan tempat penziarahannya sebagai sistem pengetahuan yang dapat dinikmati bergenerasi-generasi.

Bagi Nirartha, tujuan perjalanan sesungguhnya bagaimana mengabadikan candi sastra, di mana keindahan, kebenaran, keabadian, dan kesucian dapat dialami bersama dalam komunitas. Hal itu dapat dicapai melalui penerapan keseimbangan rasa, basa, masa, dan yasa. Keserasian rasa seni, bahasa pengetahuan, masa sejarah, dan monumen karya yang berpadu pada keseimbangan yang hidup yang menjadikan abadi dan bermakna.

Setahun lalu, saat memperingati hari Jurnalistik Indonesia, 7 Desember 2011, Newseum Indonesia memberikan Anugerah Tirto Adhi Soerjo untuk Ekspedisi Cincin Api atas pencapaiannya yang menggetarkan dalam tradisi jurnalistik. Ekspedisi ini secara kreatif melanjutkan tradisi besar Prapanca dan Nirartha, tetapi sekaligus membuka pemahaman baru terhadap diri kita, komunitas, dan lingkungan di mana kita bertahan hidup.

Taufik Rahzen Pendiri Newseum Indonesia; Dewan Kurator Anugerah Tirto Adhi Soerjo

 

Sumber: Kompascetak, 12 Desember 2012

Tagihan Kebudayaan Kasus Munir

Oleh Usman Hamid

Hari ini, 8 Desember, adalah hari kelahiran Munir. Akan tetapi, perayaan ulang tahun Munir yang diperingati dua hari berturut-turut di Kota Batu, Jawa Timur, pada 2-3 Desember lalu, benar-benar terasa istimewa.

Perayaan khidmat, haru, dan jenaka mengisi alun-alun Kota Batu yang dikelilingi pemandangan indah: gunung, langit cerah, tanaman hijau asri, dan udara sejuk. Pantas saja Munir amat membanggakan Kota Batu, tempat ia lahir dan dibesarkan, serta hendak menghabiskan masa tuanya di Kota Batu.

Minggu pagi, peringatan dimulai dengan kegiatan ziarah ke makam Munir. Menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya”, menaikkan bendera Merah Putih, dan menurunkan bendera hitam pertanda duka. Ziarah ini ditutup dengan doa oleh putra Munir, Soultan Alief Allende. Alief bermunajat, ”Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada para pembunuh Abah Munir untuk sadar dan mau mengakui perbuatannya.”

Dalam orasi budayanya, Goenawan Mohamad mengatakan, jika Munir masih ada, barangkali ia sudah meraih Nobel Perdamaian dunia. Budayawan lainnya melukis spontan, menyemprot kaus-kaus peserta dengan wajah Munir. Djaduk Ferianto tampil dalam pertunjukan musik yang mengkritik sikap negara yang tak menuntaskan kasus Munir.

Sketsa Munir yang diwarnai ribuan pelajar sekolah dasar se- Kota Batu telah terpampang di sudut-sudut kota. Pembaca puisi kenamaan Sitok Srengenge menciptakan puisi mengenang Munir, cinta dan keadilan yang diperjuangkannya.

Duta universal

Semua yang pernah bekerja bersama Munir pasti terkesan. Ia sangat aktif, cepat geraknya, tajam analisisnya, tak pernah bosan membantu orang-orang yang butuh pertolongannya, tak kenal lelah, apalagi takut. Pemimpin besar NU, KH Abdurrahman Wahid, pernah berkata, ”Saya belajar banyak dari Munir. Kerjanya Munir itu, ya, menolong orang.” Sementara pemimpin besar Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, menulis: ”Munir itu duta universal Islam.”

Dalam kesaksian itu Munir menjadi sosok manusia biasa, sama seperti kita. Kelebihannya adalah menjadi humanis sekaligus berjiwa resi karena satunya kata dan tindakan. Profetik!

Ungkapan Gus Dur dan Buya Maarif membuat saya berpikir, mungkin ini yang membuat SBY dalam kapasitasnya sebagai presiden menyatakan penyelesaian kasus Munir adalah ”the test of our history”, ujian sejarah bangsa ini! Nah, apakah dalam ujian ini Bapak Presiden sudah lulus?

Saya terpukau oleh keterlibatan para budayawan yang diprakarsai pelukis Kota Batu, Koeboe Sarawan, dan budayawan Butet Kartaredjasa. Begitu pula dengan kehadiran Djoko Pekik, Nasirun, Ong Harry Wahyu, Alit Ambhara, serta seniman, perupa, dan budayawan lain yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta, Jakarta, hingga Bandung.

Sebuah momen berharga untuk memaknai Munir lewat ungkapan-ungkapan seni dan kebudayaan. Itu terlihat dari gambar- gambar yang telah diwarnai oleh pelajar-pelajar SD se-Kota Batu.

Munir itu sosok yang menyukai seni, lukis ataupun musik. Saya beberapa kali melihat Munir mengoleksi lukisan, termasuk diajaknya membeli karya teman senimannya. Saya tanya, berapa harganya, Cak? ”Terserah saja, berapa yang kita pikir pantas menilainya.”

Munir bayar tanpa menawar. Nominalnya besar. Waktu itu saya masih berstatus relawan, batal membeli lukisan yang begitu saya sukai karena khawatir jika dinilai tidak menghargai karya lukis. Setelah akhirnya dapat gaji pun, belum bisa membeli lukisan dengan harga yang pantas.

Mengapa Munir suka seni? Hidup Munir sendiri penuh karisma etik dan karakter estetik. Tajam, lugu, lugas, dan jenaka. Seperti karya seni, hidup Munir berwarna-warni. Ia menyukai seni bukan sekadar medium ekspresi atau kesenangan diri akan sesuatu yang indah. Munir percaya, seni itu menyimpan energi besar yang dapat mencerahkan, membebaskan, bahkan melahirkan perubahan sosial.

Dalam membela orang-orang hilang, Munir terinspirasi sekali perjuangan Amerika Latin. Di sana, banyak bukti sejarah tentang peran seni dan budaya dalam perubahan sosial atau revolusi di dunia. Dari kota Buenos Aires di Argentina, Caracas di Venezuela, seperti di Paris, Perancis, atau kota Kairo, Mesir, di musim semi Arab. Mungkin ke depan, dari prakarsa Kota Batu saat ini akan lahir satu revolusi. Tak harus fisik, tetapi yang utama mengubah cara pandang, revolusi epistemik. Perubahan, kata Munir, tak cukup dengan menjatuhkan diktator, tetapi mengubah cara pandang hidup kita sebagai bangsa.

Seperti seni, Munir menghargai beragam pandangan berbeda. Seperti Munir, seni tak hendak bermaksud memberikan jawaban pasti. Di sini, ia menjadi suatu cara mengajukan pertanyaan, yang disebut oleh Butet sebagai gerakan ”debt collector cultural”, menagih utang kasus Munir dengan cara berbudaya.

Usman Hamid Direktur Change.org

Sumber: Kompascetak, 08 Desember 2012

Inspirasi Kompas: Gestur Politik

 Oleh Yasraf Amir Piliang

Wajah politik di negara kita hari-hari ini diramaikan oleh hiruk-pikuk permainan bahasa dan gestur sebagai bagian dari wacana politik.

Mulai dari para politisi yang meyakinkan kita bahwa dia ”siap digantung di Monas”; hingga yang mengingatkan ”Indonesia bubar!” bila kasus korupsi dibongkar, yang menengarai adanya para ”penumpang gelap” dalam pesta demokrasi; yang mencibir anggota DPR sebagai ”para pemeras”; yang berteriak lantang ”mafia narkoba telah memasuki istana!”

Melalui gestur politik, para politisi ingin menegaskan, memperkuat dan meyakinkan kita tentang pesan, ideologi, dan makna yang disampaikan: melalui gestur, seorang tersangka korupsi meyakinkan kita bahwa ia tak bersalah; melalui gestur, seorang tertuduh menuduh balik penuduhnya sedang merangkai ”karangan fiksi”.

Gestur mempertegas apa yang tak dapat ditegaskan melalui ucapan, meyakinkan kita tentang apa yang tak dapat diyakinkan melalui bahasa. Karena itu, gestur bersifat ”yang etis” sekaligus ”yang politis” (the political).

Akan tetapi, di dalam politik abad informasi, fungsi gestur politik telah beralih dari memperkuat bahasa politik menjadi kekuatan politik itu sendiri.

Gestur politik kini tak memperkuat makna dan pesan politik, tetapi mendistorsinya, dengan menampakkan dirinya lebih esensial ketimbang ide, makna, dan ideologi politik sendiri. Inilah gesturisasi politik, yang melencengkan gestur sebagai penguat wacana politik, menjadi bagian substansialnya—the gesturisation of politics.

Gestur politik

Politik tak dapat dilepaskan dari gestur karena di dalam politik ada fungsi komunikasi untuk meyakinkan publik. Setiap potensi tubuh (body) dikerahkan untuk menegaskan pesan, ideologi, makna, dan nilai-nilai politik. Melalui gestur politik para politisi mengerahkan segala potensi tanda tubuh (body signs) —mata, mulut, tangan, jari—sebagai bagian ”multimodal” untuk memperkuat pesan dan makna politik.

Gestur adalah tindakan atau praksis khusus bersifat ”membawa”, ”menjaga”, dan ”mendukung” bahasa. Gestur berada di antara ”cara” (means) dan ”tujuan” (ends), tetapi ia sendiri bukan tujuan. Melalui gestur, pesan, dan makna diperkuat, tetapi ia sendiri bukan makna. Ia berfungsi menampakkan sesuatu sebagai ”pengantaraan” (mediality), yaitu menengahi: gestur memungkinkan ekspresi bahasa verbal, tetapi ia sendiri bukan ekspresi bahasa verbal (Agamben, 2007).

Gestur merupakan bagian sentral dari multimodal dalam konteks bahasa komunikasi dan wacana politik (political discourse): ucapan, tulisan, sentuhan, dan benda-benda—yang masing- masing memiliki fungsi semiotik, tetapi secara bersama-sama membangun komunikasi bermakna (vanLeeuwen, 2005).

Fungsi gestur adalah memperkuat ekspresi, tekanan, dan kekuatan bahasa komunikatif verbal sehingga dapat melipatgandakan efek komunikasi (amplifying-effect).

Gestur politik diperlukan ketika para politisi berada dalam situasi pertarungan bahasa, yang mengharuskan mereka terlibat dalam permainan bahasa (language game). Melalui gestur, para politisi mempertegas pandangan etika dan posisi ideologisnya.

Oleh karena itu, pernyataan ”penumpang gelap”, ”mafia narkoba” atau ”para pemeras” dari seorang politisi sekaligus menempatkan dirinya secara ideologis di dalam sebuah ”posisi ideologi” tertentu: ”penumpang resmi”, ”antimafia”, atau ”anti-pemerasan”.

Politik adalah sebuah gestur dan cara murni (pure means), yaitu praksis yang memungkinkan ideologi politik dimanifestasikan. Politik adalah ”penggesturan” (gesturality) manusia politik. (Agamben, 2000). Urusan politik adalah menampilkan gerak gerik politik, sementara urusan ideologi adalah memberinya makna.

Akan tetapi, kecenderungan penggesturan politik yang melampaui telah menyebabkan praksis politik tercabut dari ideologi politik.

Tercabutnya praksis politik dari ideologi, gestur dari makna bahasa, tanda dari realitas, menciptakan kondisi di mana gerak-gerik politik dan gestur politik lebih dirayakan ketimbang ideologi dan makna politik. Energi, pikiran, dan kesadaran para politisi terkuras dalam memikirkan penampakan luar (citra, gaya, dan gestur) sebagai cara dalam menarik perhatian dan meyakinkan publik sehingga tak ada lagi ruang bagi pemikiran dan perjuangan ideologi politik.

Ekstasi politik

Politik yang telah direduksi menjadi gestur menyebabkan fungsi penampakan luar, citra, dan tanda menjadi sentral, mengambil alih fungsi ideologi dan keyakinan. Akibatnya, terjadi substitusi tanda-tanda yang nyata dengan citra dan gestur. Tanda dan gestur yang sebelumnya menjadi representasi realitas politik kini ia dilihat sebagai realitas itu sendiri. Realitas direduksi menjadi tanda. Gestur direduksi sebagai kebenaran (Baudrillard, 1981).

Dalam dominasi gestur dan tanda, komunikasi politik terputus dari pesan dan ideologi politik karena ia merupakan gestur dari pesan-pesan yang nonpolitik (nyanyian, tarian, dan pantomim) sebagai cara menarik perhatian massa. Komunikasi politik berubah menjadi ”komunikasi untuk komunikasi” atau disebut juga ”ekstasi komunikasi”, di mana komunikasi telah kehilangan tujuan ideologisnya dan terperangkap di dalam model-model komunikasi populer (Baudrillard, 1987).

Politik lalu kehilangan fungsi representasi, yaitu fungsi reproduksi ide dan gagasan realitas politik melalui aneka tanda, sebagai mirror image realitas. Di sini ada relasi simetris antara tanda dan realitas, antara gestur dan ideologi, antara gerak-gerik politik dan keyakinan politik. Ketika politik kehilangan fungsi representasi, fungsi gestur berubah menjadi fungsi mitos, bukan untuk menegaskan ide dan ideologi, tetapi justru mendistorsi dan mengaburkannya melalui permainan tanda-tanda.

Kini, wacana politik didominasi ”penanda hampa” (empty signifier) yang terputus dari realitas, di mana selalu ada dinding pemantul (reflector) antara tanda dan dunia realitas. Misalnya, pernyataan dan gestur politisi: ”kasus korupsi ini harus diusut tuntas dan secepat mungkin” adalah penanda hampa karena tak mungkin ”menuntaskan” jejaring korupsi yang rumit dan kompleks ”secepat mungkin!”.

Kemasan sebuah gestur tidak mencerminkan isi dan realitasnya. Gestur selalu memantul kembali ke dalam jagat tanda karena ia tidak didukung oleh realitas.

Gestur politik hanya menampilkan ”derealisasi tanda” (derealisation of sign), di mana ide dan konsep di balik tanda terputus dari dunia realitas. Misalnya, gestur Nazaruddin yang dengan percaya diri menyatakan ”Indonesia bubar” bila kasus korupsi yang menimpa dirinya dibongkar, didukung oleh bukti-bukti meyakinkan; sementara tuduhan Anas Urbaningrum terhadap pernyataan Nazaruddin sebagai karangan fiktif adalah sebuah ”derealisasi tanda” karena tak didukung bukti meyakinkan, setidaknya di mata publik.

Permainan tanda dan gestur di dalam wacana politik menimbulkan persoalan serius pada kebenaran politik karena permainan tanda tak pernah dapat diuji secara definitif di dalam pengujian dunia realitas sebab ia selalu menolak proses penilaian. Gestur selalu ”berkilah” dan ”menghindar” untuk diuji kebenarannya karena fungsi gestur kini adalah ”menutupi” kebenaran itu. Akibatnya, ”momen kebenaran” (moment of truth) tak ada lagi dalam wacana politik, diambil alih ”momen citra” (moment of image).

Politik yang kehilangan fondasi, kini terperangkap di dalam permainan bebas citra dan gestur, di dalam sebuah proses ”imagisasi” (imagisation) dan ”gesturisasi” (gesturisation) dunia realitas politik, di mana yang dikejar di dalamnya bukan momen kebenaran, melainkan momen kekuasaan murni (pure power) dengan memanipulasi tanda dan gestur untuk menyembunyikan kebenaran agar tak tampak di mata publik. Gestur kini tak lagi berfungsi memperkuat makna politik, tetapi mengaburkannya.

Yasraf Amir Piliang, Pemikir Sosial dan Kebudayaan

Sumber: Kompascetak, 05 Desember 2012