Slenco

Oleh Sindhunata

Mas kangmaas namine sinten

Sakniki dintene Sabtu

Mas kangmas kesah teng pundi

Sapi kulo pun manak pitu

Duh aduh jenengan pripun

Sakniki pun mboten ngalor

Dene menopo kok wangsul ngidul

Kulo niki namine sinten

(Mas kangmas namanya siapa

Sekarang hari Sabtu

Mas kangmas pergi ke mana

Sapi saya sudah beranak tujuh

Duh aduh kamu bagaimana

Sekarang sudah tidak ke utara

Lha kenapa kok ke selatan

Saya ini namanya siapa)

”Slenco”, karya Cak Diqin

Dari sepenggal isinya, lagu ”Slenco” yang dinyanyikan bergantian cewek-cowok ini berarti enggak nyambung. Namun, slenco tidak sesederhana itu. Slenco punya makna, masalah, dan hubungan sebab-akibat jauh lebih kaya dari yang kita duga.

Itulah yang digali 65 perupa dalam pameran di Jakarta, menyambut ulang tahun ke-30 Bentara Budaya 26 September 2012. Sesekali kita perlu menyimak parodi para perupa tentang slenco- nya negara tercinta ini.

Iklan kain kafan

Inilah transaksi slenco di supermarket Indongaret, Jalan Macet 69X Ubud-Bali (AS Kurnia). Tercetak di slip pembayaran: apel malang 1 kg, 24.450; apel washington 1 kg, 22.950; sayur banggar, 18.950; ham balang 1 kg, 88.000; century black label, 75 cl, 400.000. Ditambah nyam-nyam 170 gr, 37.250, dan lain-lain, total jadi 782.250. Cash, 800.000, kembali 17.750. Kembalian berupa permen, tidak ada koin receh.

Slenco telah menggubah bahasa harian jadi bahasa koruptor. Korupsi dibahasakan dalam jual-beli buah-buahan, ham, dan minuman keras. Korupsi di satu pihak tersembunyi, di lain pihak menjadi transaksi sehari-hari. Kembalian pun dikorupsi jadi permen. Padahal, koin receh bisa dikumpulkan untuk naik angkot atau urunan membangun gedung KPK.

Bahkan, koruptor yang telah ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) muncul bak selebritas. Menampilkan busana dan dandanan mewah, menjinjing tas mahal harganya. Ke sidang seperti mau shooting film, ditunggu fans berbondong-bondong.

Pernah ada wacana seragam khusus bertulisan ”tahanan KPK” agar koruptor malu. Namun apa daya, koruptor terlalu gendut bagi seragam KPK yang super-kecil dan sempit (Bambang AW). Sesungguhnya ini sindiran pahit bahwa KPK telah menjadi lembaga yang tak berdaya.

Sudah banyak pejabat korup tertangkap KPK. Toh korupsi makin merajalela. Urusan KPK makin banyak, namun tak punya gedung memadai. Banyak perkara korupsi belum ditangani, eh, Mabes Polri malah menarik 20 penyidiknya dari KPK. Jika itu terjadi, KPK lumpuh kehilangan seperempat tenaganya.

Di negara ini polisi menjadi bagian dari ke-slenco-an (Budi Ubrux). Polisi seharusnya jadi pengayom, tetapi malah paling ditakuti rakyat. Orang takut berhadapan dengan polisi karena berarti ”uang damai”. Kesalahan sering dicari-cari oleh polisi. Inilah aktor korupsi harian.

Korupsi tidak hanya mewabah, tetapi menjadi life style (Sinik). Sebagai gaya hidup, korupsi mempunyai nilai iklan, seperti mode dan aksesori kekenesan. Coba iklankan baju tahanan KPK lengkap dengan borgolnya. Orang akan segera menyukainya.

Tiap hari kita menyimak berita sidang korupsi. Kita melihat bagaimana para koruptor menghias diri. Pengacaranya fasih membela klien korup dengan segala silat lidah kepokrolan. Kita dengar, bagaimana akhirnya majelis hakim membuat antiklimaks dengan vonis amat ringan terhadap penilep miliaran uang rakyat itu. Hukuman kadang jauh lebih ringan dari maling motor. Bukankah ini membuat korupsi jadi iklan life style menarik?

Sungguh-sungguh slenco! Tak mungkin korupsi yang teramat slenco diatasi dengan nalar sehat. Untuk membasminya, gunakanlah taktik slenco pula, misalnya dengan iklan khusus koruptor (Najib Amrullah). Koruptor rakus akan segalanya. Kain kafan pun akan dikonsumsi jika dikemas menarik. Maka buatlah iklan kubur yang memikat. ”Kain kafan berbahan halus dan tak mudah terbakar, membuat para malaikat ramah menjemput, dan membebaskan dari siksa kubur”.

Saking slenco-nya, koruptor pasti tertarik untuk membeli dan memakai kain kafan itu. Tetapi ingatlah, siapa memakai kain kafan, dia pasti mati! Pendeknya, biarlah dia terbujuk untuk mau mati terlebih dahulu. Setelah itu, biarkan dia sendiri mempertanggungjawabkan siksa kuburnya.

Kain kafan khusus koruptor adalah akal-akalan rakyat yang sudah putus asa menghadapi jahatnya korupsi karena segala upaya dan akal manusiawi sudah menemui jalan buntu.

Salah kostum

Slenco tak hanya terjadi dalam hal korupsi, tetapi secara luas dalam tata politik kita. Kita tidak mempunyai pelaksana eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang pas. Kita ibarat anak-anak dalam lintasan lari. Mestinya, kita adalah atlet pelari. Ternyata seorang anak memakai sarung tinju dan memukul KO temannya yang berkostum kiper sepak bola. Inilah adegan sport yang slenco. Lebih slenco lagi, datang seorang anak berseragam polisi, berlagak sebagai wasit sepak bola. Inilah the wrong man in the wrong place, at the wrong time and the wrong costume too (Yuswantoro Adi).

Memang politik kita sedang benar-benar slenco. Saat terancam kekerasan dan perpecahan bangsa, kita butuh pemimpin yang tegas. Eh, kita malah mempunyai pemimpin lembek. Demokrasi kita jadi liar. Jangan-jangan kita sedang saltum (salah kostum) dengan demokrasi kita. Kita berada pada era yang benar- benar slenco: semua serba salah, salah orang, salah tempat, salah waktu, salah kostum pula.

Wakil rakyat pun sangat tidak tepat. Itu tampak dalam wajah mereka yang berkarakter banyak. Seperti satu lukisan wajah, tetapi terdiri dari petak-petak visual wajah, yang jika diamati benar tidak bersambung satu dengan lainnya. Wajah pelbagai sifat, sehingga tak jelas identitasnya (Komunitas Seni Rupa Cibubur).

Kupingnya kelihatan dua, tapi yang satu berbeda dari lainnya, mungkin yang satu untuk mendengar kebenaran, yang lain untuk mendengar kebohongan. Hidungnya pun seakan tempelan. Ia beralis mata, tapi tidak simetris. Ia sungguh berwajah karakter rupa-rupa: pribadi yang kacau.

Tak jelas, apakah dia wakil rakyat pengantuk atau perampok yang pura-pura punya integritas, padahal dia tidak jujur dan penipu. Apalagi jika dilihat matanya: sekejap-kejap memantulkan bayang-bayang perempuan erotis nyaris telanjang. Mana mungkin pandangan mata yang masih terkotorkan libido ini bisa melihat penderitaan, kemiskinan, dan kesengsaraan rakyatnya. Mata itu hanya akan melihat apa yang memuaskan nafsunya. Itulah slenco-nya wakil rakyat kita.

Indra mereka juga slenco. Kadang mereka menutup telinga, sementara mulutnya berteriak keras-keras. Kadang mereka menutup mulut rapat-rapat, sementara mereka membuka telinga (Bambang Pramudiyanto). Mereka tidak mau mendengar jeritan rakyat, tapi sok lantang menjadi pahlawan rakyat. Mereka seakan mau mendengar perkara salah dan mesti diluruskan, tapi mulutnya bungkam. Mereka hanya mencari selamat sendiri.

Mereka sungguh pribadi yang oportunis. Jika indera wakil rakyat slenco, bagaimana jeritan rakyat bisa didengar atau dikumandangkan? Kita seakan punya wakil rakyat tuli tetapi pinter omong dan tidak tuli tetapi bisu.

Mungkin karena slenco DPR kehilangan pamor. Ada masalah serius di tengah bangsa ini: DPR menjadi lembaga yang enggak nyambung lagi dengan rakyat. Slenco-nya wakil rakyat sungguh bahaya karena rakyat bisa menganggap demokrasi parlementer itu salah kostum.

Situasi semua slenco membuat wajah orang bertopeng berlapis- lapis (I Putu Edy Asmara Putra). Satu topeng dilepas, masih ada topeng lain. Kita bersalaman, seakan berkomunikasi, padahal wajah kita tersembunyi satu sama lain. Komunikasi kita tidak pernah jujur dan tulus. Kita bersilaturahmi tanpa wajah asli. Silaturahmi slenco.

Gusdurian

Slenco telah menjadi situasi dan kondisi kita. Untuk membenahi, kita mau tak mau harus menerimanya dulu. Ibaratnya, bendera nasional kita harus kita hormati walau miring tiangnya (Sigit Santosa). Untuk menghormatinya, kepala dan badan kita harus ikut miring. Itulah ironi slenco: Apa boleh buat, bendera kita miring karena bangsa kita juga tengah miring. Tapi slenco negara ini tak boleh menyurutkan nasionalisme dan patriotisme kita: right or wrong is my country. Walau karena slenco, kita tidak tahu, apakah negara kita sedang miring ke kanan atau ke kiri. Left or right is my country!

Berani menerima slenco, tapi kemudian berupaya keluar dari slenco, sikap itulah yang ditunjukkan oleh almarhum Gus Dur. Ibaratnya Gus Dur tahu, durian itu tajam kulitnya, tapi buahnya enak dimakan. Keduanya bertentangan, tapi tak bisa dipisahkan. Itulah kebijakan ”Gusdurian” (Hadi Soesanto). Sehari-hari Gus Dur mempraktikkan ideologi ”gusdurian” itu. Tak heran ia sering kelihatan slenco. Di balik ke- slenco-annya, orang selalu bisa meraba kebenaran yang hendak diperjuangkannya.

Ketika jadi presiden, Gus Dur tidak duduk di atas takhta yang empuk, tapi di singgasana berduri tajam. Dengan ideologi ”gusdurian”-nya ini, Gus Dur seakan hendak mempraktikkan kebijaksanaan Jawa: ”Satria bertapa di pucuk pedang”. Artinya, jadi satria jangan diam bersemadi di tempat sunyi seperti pendeta, tapi harus terus berjuang, bertempur membela negara. Memang itulah yang dikerjakan Gus Dur. Ia melanggar semua formalitas istana agar tetap bisa merakyat. Ia mengabaikan semua prosedur birokrasi yang bertele-tele agar permasalahan bisa cepat selesai.

”Gitu aja kok repot”, itulah ringkasan ideologi ”gusdurian”. Negara ini sudah banyak repot, mengapa harus dibikin lebih repot. Gus Dur mengambil langkah yang tidak usah repot-repot. Sesungguhnya, di balik semboyan ”gusdurian”—gitu aja kok repot— tersembunyi keberanian untuk dengan tegas mengambil langkah dan keputusan. Keputusan itu mungkin mendebarkan karena kelihatan slenco dengan keadaan dan pendapat umum orang. Namun terbukti sekarang, banyak keputusan Gus Dur adalah benar dan tepat, lebih-lebih dalam hal keutuhan bangsa, toleransi dan perlindungan pada minoritas.

Sebisa-bisanya slenco memang harus ditata kembali (Sugiyo Dwiharso). Slenco adalah sebuah puzzle. Keping-keping puzzle tersusun rapi, sesuai dengan urutan angkanya. Namun, susunan keping-keping yang teratur itu ternyata tidak berhasil menyusun gambaran manusia yang seharusnya dihasilkan oleh puzzle itu. Puzzle sosial kita tepat dan benar dalam hal angka, statistik, norma dan aturan, tapi berantakan dalam menyusun realitas masyarakat yang kita cita-citakan. Demokrasi kita mungkin sudah benar secara prosedural, tapi gagal secara material. Akibatnya, kita punya demokrasi slenco.

Gambaran slenco sebagai puzzle sosial yang gagal dan berantakan kiranya boleh mendekatkan kita pada teori komunikasi filsuf Jürgen Habermas. Menurut Habermas, sebagai fakta, komunikasi belum atau tidak pernah ada. Maksudnya, secara faktual kita tidak pernah memperoleh pengertian yang utuh dan benar tentang sesama kita ketika kita menjalankan komunikasi. Maka keliru jika kita memahami komunikasi itu seakan-akan sebuah fakta. Yang benar, komunikasi adalah suatu proses dan cita- cita, yang harus terus-menerus kita wujudkan.

Dengan kata lain, kita selalu slenco dalam memahami yang lain, demikian pula yang lain terhadap kita. Kendati demikian, kata Habermas, kita mesti terus menjalankan komunikasi untuk mencapai kesepakatan yang bisa diukur kebenarannya. Kebenaran di sini bukanlah melulu rasional: kebenaran itu adalah ketersambungan antara apa yang telah kita sepakati secara rasional dan fakta nyata perbuatan kita. Maka komunikasi harus selalu mengarah pada tindakan dan buah perbuatan nyata. Kalau tidak, kita akan terus menerus slenco.

”Sedhengan”

Menurut khazanah kebatinan Jawa, sejauh manusia masih kadunungan raga (mempunyai raga), ia masih bisa slenco. Batin atau roh manusia memang mengarah pada satu-satunya kenyataan yang diidam-idamkannya, yakni manunggaling kawula- Gusti, persatuan diri dengan Tuhannya. Tapi raga manusia sering membuatnya sasap-sisip, menyimpang ke sana kemari. Itulah yang membuat slenco.

Maka, agar tidak terus slenco, manusia diminta untuk mewaspadai raganya. Maksudnya, ia diminta untuk tidak menuruti segala nafsu nikmat raganya. Nafsu nikmat ragawi itu memang tak mengenal batas, padahal raga manusia itu sesungguhnya amat kecil dan terbatas. Maka, agar tidak slenco dengan raganya, manusia harus rumangsa karo ragane (tahu diri dengan raganya). Karena itu ada petuah kebatinan Jawa demikian: Merasa besar itu salah, merasa kecil juga keliru. Yang baik adalah sedhengan (cukupan). Sebab, sedhengan itu bisa masuk dalam nalar hati siapa saja. Dan pas, tidak kebesaran, tidak juga kekecilan.

Jelas pada akhirnya slenco berkenaan dengan sikap hidup yang tahu diri. Agar kita tidak slenco, kita harus menjadi sedhengan, pas, ugahari, dan sederhana. Bukankah kita slenco karena serakah, ingin memiliki dan menikmati yang lebih dan menjadi diri yang lebih dari kita sendiri?

Betapa sederhana sebenarnya soal kita: kita slenco karena kita tidak mau hidup sederhana.

Sindhunata Kurator Bentara Budaya

Review Buku: Ayat-ayat Api, Ayat-ayat Penyadaran

Ayat-Ayat Api: Kumpulan Sajak

Oleh John Ferry Sihotang

Ayat-Ayat Api: Kumpulan Sajak
by: Sapardi Djoko Damono
Published : 2008 by Pustaka Utama Grafiti (first published 2000)
Details: Paperback, 2nd ed., 149 pages
ISBN13: 9789794444375

Selain duka-Mu abadi dan Hujan Bulan Juni, Ayat-ayat Api adalah buku kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang paling kusuka. Boleh jadi ini satu-satunya buku puisi Sapardi yang khusus mendedah komentar sosial, seperti peristiwa bakar-binakar tragedi Mei 1998 yang terjadi di Jakarta dan di sejumlah kota lain menjelang Sang Jendral lengser keprabon.

Kata “ayat” — yang akrab dalam kitab suci agama Islam dan Kristen itu — bukan lagi sekadar berarti “kalimat”. Ayat sudah menjadi tanda. Ayat-ayat api pun menjadi tanda-tanda kehidupan (bdk. Bakdi Soemanto, 2006). Seperti bunyi puisi Sapardi ini: “Api adalah lambang kehidupan, itu sebabnya kita luluhlantak/ dalam kobarannya (p.133).” Itulah ayat-ayat Sapardi, mengusung ambiguitas dan ironi tak terampuni.

Buku antologi ini terdiri dari tiga bab: Ayat-ayat Nol, Ayat-ayat Arloji, dan Ayat-ayat Api – sebagai tema sentralnya.

Ayat-ayat Nol

Bab ini berbicara tentang keberadan manusia yang adalah dari nol, dan kembali menjadi nol, menjadi seorang anak kecil; seperti nada puisi “Catatan Masa Kecil” berikut:

“Ia tak sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan setiap kali menghitung dua tambah tiga kali empat kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhumah neneknya dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

“Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.” (1984)

Puisi yang sangat cair di atas mengembalikan kenangan pada masa kecil yang polos dan jujur itu, masa-masa ngompol itu. Tak ada memang yang lebih nikmat dari “kencing saja di kasur” itu. Perilaku si anak kecil yang “menjadi Nol” itu seolah hendak mengatakan: Hidup ini seperti hitungan yang memiliki ketidakpastian (kebetulan) dalam kepastianya. Tentu, situasi ini membingungkan, bagi orang dewasa sekalipun. Tak heran kalau dia hanya percaya angka “nol”, pada hati nuraninya.

Ayat-ayat Arloji

Sedangkan bab Ayat-ayat Arloji ini berbicara tentang waktu yang kerap terlupa. Amat kuat terlihat dalam “Dongeng Marsinah” (1993-1996) yang terkenal itu. “Marsinah buruh pabrik arloji,/ mengurus presisi:/ merakit jarum, sekrup, dan roda gigi…” tulis sapardi di pada bagian /1/ membuka puisi ini. “Marsinah itu arloji sejati,/ tak lelah berdetak memintal kefanaan/ yang abadi:/ “kami ini tak banyak kehendak,/ sekedar hidup layak,/ sebutir nasi (p.27).”

Puisi satu ini memang begitu sadis dan ironis. Pada bagian /3/ dan /4/ berbunyi: “Di hari baik bulan baik,” Marsinah dijemput, lalu kemudian disiksa. Bahkan di hari baik dan bulan baik itu, “Marsinah diseret/ dan dicampakkan –/ sempurna, sendiri (p.29-30).” Duh.

Puisi protes sosial Dongeng Marsinah begitu lekat di hati. Bahkan saya anggap sebagai puisi terbaik sapardi dalam buku kumpulan ini. Patutlah pula kita mengenang Marsinah, buruh pabrik arloji itu. “Marsinah itu arloji sejati/ melingkar di pergelangan/ tangan kita ini (p.32),” tulis Sapardi, menutup kisah tentang ketidakadilan, kekejaman, dan keserakahan manusia.

Ayat-Ayat Api

Ayat-ayat api merupakan salah satu judul puisi Sapardi dalam buku ini, dan diangkat menjadi judul buku. Menjadi pertanyaan tentunya: mengapa Sapardi mengangkat “api” menjadi tema sentral buku ini. Padahal mungkin lebih dari 35.7% puisi-puisi Sapardi, sejak awal, senantiasa menyinggung tentang hujan, tulis Bakdi. Boleh jadi, keheranan itu menjadi daya tarik tersendiri dalam buku ini.

Buku Ayat-ayat Api berhasil menghadirkan puisi-puisi imajis profesor tua ini tentang merahnya api pada tragedi Mei yang masih meninggalkan trauma panjang bagi kita, khususnya bagi Etnis Cina atau Tionghoa. Peristiwa berdarah ini menjadi salah satu sejarah terkelam republik ini. Di mana lorong-lorong kota menjelma tarian naga meliuk merah diiringi pekik anak dara yang belum lulus esde, tulis Hanna Fransisca dalam Konde Penyair Han.

Rupanya peristiwa itu bukan sekadar lakon Anoman obong dalam dongengan Ramayana, namun benar-benar terjadi di negeri ini. Kisah pewayangan ini sangat kuat digambarkan romo Sindhunata dalam novel terkenalnya, Anak Bajang Menggiring Angin.

Alkisah, Anoman, si kerah putih itu, diutus oleh Prabu Ramajaya untuk melihat keadaan Dewi Sinta yang ditawan Rahwana di negeri Alengka. Setelah berhasil menjenguk Sinta, Anoman tertangkap. Tumpukan kayu disediakan di alun-alun Alengka. Anoman hendak dibakar di sana. Namun begitu api menyala, Anoman melepaskan diri. Kera sakti itu lalu terbang, dan membakar semua rumah di Alengka.

Juga pada tahun 1997, mungkin masih lekat dalam ingatan kita akan lagu Anoman Obong yang digubah oleh Ranto Edi Gudel, dan menjadi hit terlaris saat itu — melebihi lagu pop lain. Boleh jadi lagu ini sebagai isyarat akan datangnya tragedi besar. Menyata pula ‘ramalan’ dalam lagu ini setahun kemudian, yakni pada Mei kelabu 1998. Kota Jakarta, Solo, Surakarta dan kota-kota lain benar-benar menjadi lautan api, seperti Alengka yang kobong; terlihat dalam lirik Anoman Obong berikut:

Anoman, si kethek putih/ sowan taman, Sinta diajak mulih/ konangan Indrajit lan putih/ ning Anoman ora wedi getih.// Ela… ladalah Ngalengka diobong/ Togo Bilung padha pating ndomblang/ omah gedhe padha dadi areng/ Dasamuka kari gereng-gereng… (Anoman, si kera putih/ datang ke taman, mengajak Sinta pulang/ Ketahuan Indrajit dan patihnya/ namun Anoman tiada takut akan darah./ Ela… ladalah Alengka dibakar/ Togog Bilung jadi linglung/ rumah-rumah besar jadi arang/ Dasamuka tinggal marah geram).

Namun penyair selalu saja punya cara tersendiri mengintensifkan pengalamannya tentang satu peristiwa atau satu fenomen. Sapardi sangat kontras dengan cara Rendra berpuisi untuk menyampaikan protes sosial. Misalnya dalam Blues untuk Bonnie, Rendra menuliskan satu sajak: “Bersatulah Pelacur-Pelacur Jakarta”. Melihat judul ini saja sudah membawa semangat yang getir, pemberontakan bernada putus-asa. Sedangkan pada Sapardi, dalam komentar sosialnya, dia masih tetap membawa keteduhan, ketenangan bengawaninya, menyentuh wilayah kedalaman pengalaman manusia.

Bisa-bisanya profesor Sapardi ini menulis puisi tanpa menyertakan emosi. Tidak menjadi budak amarah akan ungkapan kebrengsekan dan kerusuhan zaman. Seperti biasa, dia sangat paham betul dengan kekuatan kata. Terlihat dari pada bagian /1/. “mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan,” tulis Sapardi membuka puisi Ayat-ayat Api (p.115-145), menggigilkan tubuh kita dengan bermain-main di medan perlambangan dan ironi.

Saat belum ditinggal musim penghujan itu pula, seperti tergambar pada bagian/2/: “seorang anak laki-laki/ menoleh ke kiri ke kanan/ lalu cepat-cepat menyelinap/ dalam kerumunan itu/ dan tidak kembali.” Si anak masuk ke dalam kerumunan yang sedang menjarah toko yang terbakar (atau sengaja dibakar), dan tak pernah kembali karena terpijak atau mati terpanggang. Sementara itu, “tiga orang lelaki separo baya/ bergegas menyusulnya/ dan tidak kembali.” Semua terbakar saat mencoba ikut menjarah teve, radio, kulkas dll. Lebih mengerikan lagi, “lima enam tujuh perempuan/ meledak bersama dalam api/ dan, tentu saja,/ tidak kembali.”

Pada sore hari, seperti terlukis pada bagian /10/, “ia berubah juga/ menjadi abu sepenuhnya,” dan menjadi berita koran-koran pagi (bagian /12/); ia menjadi tokoh khayali “digeser ke sana/ ke mari di halaman koran, di layar televisi,/ dan sulapan bunyi-bunyian di radio.” Padahal ia sudah menjadi abu, tak berhak mondar-mandir lagi, sebab “ini bukan lakon Anoman Obong,” sambung Sapardi pada bagian /13/.

Korban-korban tragedi Mei jatuh bergelimpangan, hingga tak ada tempat untuk mengubur (/15/). Karena itu, “mungkin satu-satunya basa-basi yang tersisa/ adalah menguburmu sementara dalam ingatan kami. (p.145).” Sungguh malang nasib mereka. Biarlah kita tetap mengubur mereka dalam kenangan, dalam ingatan tentang peristiwa itu: menjadi sesuatu yang abadi.

Kekhasan sapardi dengan kata-kata sihir, menjelma, gaib, tak terlihat mewarnai baris-baris puisi dalam buku ini. Justru Sapardi kerap menghadirkan kata sulapan, yang berarti tipuan. Dan kita sama-sama tahu siapa Tukang Sulap itu. Kata sulapan itu pun menjadi, meminjam istalah A. Teeuw, pasemon: sindiran sangat halus, bagai lebah tanpa sengat.

Meski tak seheboh Ayat-ayat-Cinta (yang konon katanya nyaris terkenal itu), buku Ayat-ayat Api ini akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Selain itu, setidaknya bagi saya, ayat-ayat api ini telah menjelma ayat-ayat yang menyadarkan: ayat-ayat yang mengajak kita melawan lupa.***

Munir dan Reformasi Militer

DIDIE SW 

 Oleh Al araf

Pada 7 September 2004, derap kaki Munir—sang pejuang HAM—terhenti untuk selama-lamanya di dalam pesawat milik maskapai kebanggaan kita: Garuda Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2004 dan perdebatan RUU TNI, Cak Munir—begitu panggilan akrabnya—dibunuh secara kejam dan sistematis dengan menggunakan racun arsenik. Hingga kini pengungkapan kasus Munir masih menghadapi jalan buntu.

Sedari awal, pengungkapan kasus Munir sudah melalui jalan yang berkelok dan penuh keganjilan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat setengah hati dalam mengungkap kasus Munir. Pada awalnya, Presiden SBY tegas menyatakan pengungkapan kasus Munir sebagai test of our history yang kemudian diikuti dengan pembentukan tim pencari fakta (TPF) melalui keputusan presiden. Langkah ini tentu disambut baik banyak kalangan. Namun, dalam perjalanannya, langkah pemerintahan SBY dipenuhi kegamangan dan keragu-raguan.

Presiden SBY tidak berbuat apa-apa ketika Muchdi PR diputus bebas di tingkat Mahkamah Agung. Padahal, Komite Aksi Solidaritas untuk Munir sudah mendesak Presiden untuk memerintahkan Jaksa Agung melakukan peninjauan kembali atas putusan bebas itu sebagai wujud nyata keseriusan pemerintah.

Pembunuhan terhadap Munir jelas bukan pembunuhan biasa sehingga penyelesaiannya tidak bisa dilepas begitu saja oleh Presiden. Pengungkapan kasus ini membutuhkan sebuah kemauan, kesungguhan, dan konsistensi politik Presiden yang sangat tinggi. Mungkin dugaan keterlibatan pihak-pihak dalam lembaga intelijen negara menjadi penyebab kegamangan SBY sehingga kesulitan menemukan aktor di belakang layar kasus pembunuhan Munir.

Sebagai bentuk pembunuhan politik, tentu pembunuhan Munir memiliki motif politik spesifik: dilakukan orang berkeahlian khusus, direncanakan matang, dilakukan secara bersengkokol, dan kekuatan politik ataupun ekonomi yang besar di dalam menggerakkan operasi pembunuhan tersebut. Keterlibatan oknum pejabat Garuda beserta pilot Pollycarpus dalam memfasilitasi ataupun terlibat langsung dalam pembunuhan Munir jelas tak bisa dilakukan tanpa adanya kekuasaan yang kuat yang dapat memengaruhi maskapai itu.

TPF kasus Munir sendiri menyimpulkan pembunuhan Munir tidak melibatkan satu-dua orang semata. TPF pun merekomendasikan pihak-pihak tertentu di lingkungan Garuda dan Badan Intelijen Negara yang terlibat dalam konspirasi pembunuhan Munir harus diperiksa secara intensif dan dijadikan tersangka. Sayangnya, hingga kini beberapa pelaku yang diduga terlibat dalam pembunuhan Munir masih menghirup udara kebebasan.

Dengan kata lain, dalang pembunuh Munir masih bebas berkeliaran di sekeliling kita dan masih mungkin untuk melakukan pembunuhan politik serupa. Pada titik ini, pengungkapan secara tuntas kasus Munir bukan hanya menjadi kepentingan keluarga Munir, tetapi menjadi kepentingan kita semua dalam mewujudkan rasa keadilan dan rasa aman dalam masyarakat.

Gagasan reformasi militer

Pengungkapan kasus Munir hingga tuntas tentu tak bisa ditawar-tawar. Namun, usaha itu juga harus dilakukan paralel dengan meneruskan cita-cita Munir dalam memperjuangkan penegakan hak asasi manusia (HAM) di republik ini.

Sebagai tokoh pejuang HAM yang gigih dan pantang menyerah, gagasan dan pemikiran Munir dalam penegakan HAM mensyaratkan perlunya melakukan reformasi militer guna tercipta tentara profesional yang menghormati HAM, tunduk terhadap supremasi sipil dan prinsip negara hukum, akuntabel, tak berpolitik dan berbisnis, serta ahli dalam bidangnya. Dalam konteks itu, usaha mengawal dan mengkritisi pembahasan RUU Keamanan Nasional di parlemen jadi penting dilakukan oleh masyarakat sipil. Hal ini mengingat draf yang diajukan pemerintah itu memuat pasal-pasal bermasalah yang dapat mengembalikan peran TNI seperti pada masa lalu.

Meski reformasi militer sudah meraih beberapa capaian positif, masih terdapat beberapa agenda krusial yang menjadi pekerjaan rumah pejuang HAM, khususnya terkait penuntasan agenda reformasi peradilan militer. Kritik Munir bahwa peradilan militer sering kali jadi sarana impunitas oknum TNI yang melanggar HAM masih tetap relevan hingga saat ini. Oleh karena itu, gagasan melakukan reformasi peradilan militer dengan melakukan perubahan terhadap UU No 31/1997 tentang Peradilan Militer adalah salah satu agenda penting yang sering disuarakan almarhum.

Sayangnya pembahasan perubahan UU No 31/1997 ini terus mengalami jalan buntu. Pemerintah dan parlemen periode 2004-2009 gagal mewujudkan perubahan tersebut. Tidak hanya itu, revisi legislasi ini pun bahkan tidak masuk dalam agenda prolegnas tahun 2012 maupun 2013. Padahal, agenda reformasi peradilan militer secara tersirat dan tersurat telah jadi mandat UU No 34/2004 tentang TNI.

Gagasan Munir dalam mewujudkan tentara yang profesional juga terlihat dari pemikirannya tentang pentingnya peningkatan kesejahteraan prajurit bagi anggota TNI. Hal itu dilontarkan almarhum semasa hidup dalam beberapa forum diskusi ataupun dalam perbincangan antara almarhum dan penulis.

Sahabat Munir, Ikrar Nusa Bakti, juga mengakui perjuangan meningkatkan kesejahteraan prajurit adalah bagian perjuangan Munir dalam membahas UU TNI. Meski saat ini gaji prajurit meningkat, hal itu belum cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari para prajurit tamtama dan bintara. Kabar adanya prajurit yang menyambi kerja lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akibat kesejahteraan yang minim masih kerap terdengar. Belum lagi masih adanya dugaan kasus uang lauk-pauk dan uang tunjangan prajurit yang dikorup atasannya.

Di sisi lain, Munir juga sering kali mendiskusikan ide mengurangi dominasi Angkatan Darat dan pentingnya mewujudkan kekuatan maritim yang kuat. Di mata Munir, strategi dan orientasi pertahanan Indonesia tak berubah dari masa ke masa, yakni lebih berorientasi ke darat sementara realitas negara Indonesia adalah negara kepulauan yang kekuatan maritimnya masih jauh dari yang diharapkan.

Meski transformasi pertahanan penting dilakukan, bagi Munir, transparansi dan akuntabilitas serta pemberantasan korupsi dalam sektor pertahanan dan keamanan mutlak dilakukan. Ini mengingat masih terdapat kasus-kasus pengadaan peralatan militer yang terindikasi korupsi.

Terakhir, agenda utama yang penting untuk terus diperjuangkan adalah meneruskan perjuangan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM. Sebutlah seperti kasus penghilangan orang secara paksa, Tragedi Trisakti dan Semanggi, pelanggaran HAM di Aceh dan Papua, serta beberapa kasus lainnya yang belum juga mendapatkan titik terang.

Cak, suaramu kini tentang Indonesia sudah tak terdengar lagi dalam diskusi sore di Imparsial, tetapi ide dan pemikiranmu adalah kekayaan peradaban yang harus terus dirawat oleh setiap kami yang peduli akan kemanusiaan dan perdamaian. Salam hormat dan tangis untukmu, Cak….

Al Araf Direktur Program Imparsial; Dosen Studi Strategis Hubungan Internasional Universitas Al Azhar dan Paramadina

Sumber: Kompascetak, 7 September 2012