Amanat untuk Hidup Bermartabat

Oleh I Suharyo

Rasanya sangat sedih ketika beberapa waktu lalu, dalam rangka refleksi hari lahir Pancasila, saya membaca rumusan Pancasila yang dipelesetkan. Bunyinya: (1) Keuangan yang mahakuasa; (2) Kemanusiaan yang jahil dan biadab; (3) Persatuan hedonesia; (4) Kekuasaan yang dipimpin oleh nafsu mencari jabatan demi kelompok dan kroni; dan (5) Keadilan bagi yang berkuasa dan membayar.

Namun, akhirnya saya sampai kepada kesimpulan, yang menulis pastilah tidak bermaksud melecehkan Pancasila. Sebagai warga negara yang mencintai bangsanya, ia hanya ingin mengungkapkan kegundahan tentang keadaan bangsa yang, menurut penilaiannya, tata nilai dan kesadaran moralnya terjungkir balik.

Kegundahan itu tidak tanpa alasan kalau kita baca judul-judul berita yang sehari-hari muncul di media massa, seperti ”Elite Politik Tunjukkan Kepalsuan” (Kompas, 2/4/2012, halaman 4). Penelitian pun sampai pada kesimpulan bahwa kebijakan publik dipertanyakan bahkan tidak dipercaya (idem, halaman 5).

Dalam situasi seperti itulah umat Kristiani merayakan Paskah. Lilin Paskah yang dinyalakan dengan api baru selalu diberi tulisan tahun ketika Paskah itu dirayakan. Pesannya: perayaan Paskah mempunyai makna, khususnya pada tahun ketika Paskah itu dirayakan.

Pembebasan dari perbudakan

Perayaan Paskah sendiri adalah kenangan akan pembebasan dari perbudakan (Keluaran 12). Dalam sejarah umat Allah Perjanjian Lama, Paskah tidak bisa dipisahkan dari perjanjian yang diikat di Sinai (Keluaran 19), mahkota dari pembebasan itu. Dalam perjanjian itu terbentuklah bangsa baru, umat baru yang hidupnya dilandaskan pada kode moral dan hukum yang akan menjadikan mereka bangsa yang bermartabat.

Pembebasan yang sempurna dan sejati merupakan buah dari Paskah Kristus: ” … sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru… Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan…” (Roma 6: 4.6). Paskah berarti perubahan tata nilai secara radikal. Hal itu ditegaskan, misalnya, oleh Rasul Paulus yang mengatakan, ”Tetapi, apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Filipi 3: 7). Perubahan tata nilai melahirkan pribadi baru yang bermartabat.

Gagasan mengenai nilai dan tata nilai ini mengingatkan saya akan Viktor Frankl (1905-1997), seorang tokoh kemanusiaan yang istimewa. Begitu besar pengaruhnya bagi sejarah umat manusia sehingga ia diberi julukan nabi yang mewartakan makna hidup, the prophet of meaning. Dalam salah satu bukunya ia menulis, ”Semakin banyak orang yang hidupnya berkelimpahan, tetapi tidak mempunyai, apalagi meyakini makna atau nilai (meaning) hidup yang harus dipegang dan diperjuangkan”. Akibatnya terjadilah yang ia sebut kekosongan eksistensial.

Pribadi, pemikiran-pemikiran, dan keyakinan Viktor Frankl sangat dipengaruhi oleh pengalaman disekap di kamp konsentrasi Nazi pada 1942. Lewat pengalaman gelap direndahkan martabat kemanusiaannya dan berada dalam ancaman kematian setiap saat, ia sampai kepada keyakinan bahwa orang bisa mempertahankan hidup yang bermartabat karena ia yakin bahwa hidupnya bernilai.

Dalam kamp konsentrasi, ia juga belajar mengenal dua jenis manusia: manusia yang bermartabat dan manusia yang tidak bermartabat.

Tanggalkan manusia lama

Paskah berarti menanggalkan manusia lama. Kalau dibaca dengan latar pandangan Viktor Frankl, manusia lama adalah pribadi yang tidak bermartabat, manusia yang tata nilai hidupnya terjungkir balik.

Dia adalah orang yang membiarkan hidupnya didorong oleh nafsu akan gengsi—bukan kehormatan yang bermartabat; nafsu akan kekuasaan demi kekuasaan—bukan kekuasaan demi kesejahteraan bersama—dan nafsu akan uang demi gengsi yang sejatinya menunjukkan adanya kekosongan eksistensial.

Begitulah terbentuk lingkaran setan yang tak terputuskan. Lingkaran setan seperti ini akan melahirkan manusia yang semakin tidak bermartabat, yang hidupnya dikuasai keserakahan, yang adalah berhala (Efesus 5: 5). Berhala bukan lagi batu atau pohon besar, melainkan keserakahan. Berhala besar pada zaman modern ini adalah keserakahan yang didukung oleh kekuasaan.

Berhala yang masih lebih besar lagi adalah keserakahan yang didukung oleh kekuasaan dan senjata. Akibatnya jelas: terjungkir baliknya tata nilai, berkembangnya kemerosotan moral yang akan berujung pada krisis yang semakin membahayakan. Menurut seorang ahli ekonomi, krisis ekonomi yang sedang terjadi pun bersumber pada krisis moral.

Buah Paskah adalah manusia baru dan hidup baru. Kalau dibaca dalam latar keyakinan Viktor Frankl, manusia baru adalah manusia bermartabat. Mereka adalah pribadi-pribadi yang tercerahkan oleh nilai-nilai dasar kehidupan dan memperjuangkannya dengan sekuat tenaga.

Nilai dasar itu nyata dalam diri Yesus yang mengasihi manusia sampai kepada kesudahannya (bdk Yohanes 13: 1). Kehormatannya terwujud dalam pengosongan diri demi solidaritas-Nya dengan manusia (bdk Filipi 2: 6-8) dan dalam ajakan-Nya untuk bermurah hati seperti Bapa di surga murah hati. Yesus bukan hanya nabi pewarta makna, melainkan Sang Makna itu sendiri karena Dialah ”Jalan, Kebenaran, dan Hidup” (Yohanes 14: 6).

Berbicara mengenai makna, nilai dan tata nilai, sebagai warga bangsa Indonesia, umat Kristiani yang merayakan Paskah perlu menyebut dan terus memperjuangkan Pancasila yang memuat nilai-nilai dasar kemanusiaan universal.

Itulah antara lain yang diperjuangkan oleh Albertus Soegijapranata ketika ia berkata, ”Saya ingin Indonesia menjadi keluarga besar di mana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.” Semoga terjadilah demikian. Selamat Paskah.

I Suharyo Uskup Keuskupan Agung Jakarta

(Sumber: Renungan Paskah, kompascetak 7 April 2012)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s