Malam Hari Raya

Oleh Kahlil Gibran*

(Diindonesiakan oleh Landung Simatupang)

Malam sudah turun dan keremangan mengepung kota sementara lampu-lampu berpijar di istana-istana, gubuk-gubuk dan toko-toko. Banyak orang dengan dandanan meriah memadati jalanan, dan wajah mereka menyiratkan perayaan, kegembiraan dan kepuasan.

Kuhindari bising kerumunan dan aku berjalan sendirian, merenungkan Sang Manusia yang kebesarannya sedang dikenang dan diagungkan orang-orang itu, dan kurenungkan Sang Jenius sepanjang sejarah yang lahir papa, hidup penuh kesalehan, dan mati di Salib.

Kurenungi obor berkobar yang disulut di dusun dena di Siria ini oleh Roh Suci. … Roh Suci yang melayah sepanjang segala abad, dan menembus meresapi peradaban demi peradaban dengan kebenaranNya.

Setiba di taman umum, aku duduk di bangku kasar dan mulai memandang dari celah dua pohon gundul ke arah jalan-jalan penuh orang; kudengarkan nyanyian keagamaan dan lagu-lagu yang disuarakan para peserta perayaan.

Setelah satu jam merenung-renung aku menengok ke samping dan kaget melihat ada yang duduk di sebelahku, memegang ranting pendek yang dia gunakan untuk mencoretkan bentuk-bentuk tak jelas di tanah. Aku terkesiap karena tidak melihat atau mendengar ia mendekat, tapi kukatakan dalam hati, “Ia penyendiri, seperti aku.” Dan setelah menatapnya lekat-lekat dan penuh, kulihat bahwa walaupun pakaiannya kuno dan rambutnya gondrong, orang ini kelihatan santun dan baik-baik, patut diperhatikan. Dia seperti membaca apa yang kupikirkan, sebab dengan suara dalam dan teduh dia berkata, “Selamat malam, Nak.”

“Selamat malam, Bapak,” jawabku hormat. Dan dia teruskan lagi menggambar sementara bunyi suaranya yang aneh meneduhkan itu masih bergaung di telingaku. Dan kusapa dia lagi, “Bapak asing di kota ini?”

“Ya, saya orang asing di kota ini dan di segala kota,” sahutnya. Kuhibur dia, kataku, “Orang asing mesti melupakan keasingannya di masa liburan hari raya begini, karena warga kota sedang ramah, baik hati lagi pemurah.” Ia menjawab, letih dan bosan, “Saya lebih merasa terasing di hari-hari begini ketimbang hari lain.” Setelah berkata begitu, ia memandang langit jernih; matanya menerawang bintang-bintang dan bibirnya menggeletar seolah ia temukan di langit luas itu gambaran suatu negeri nun jauh. Pernyataannya yang ganjil tadi bikin aku penasaran, dan kataku, “Waktu begini, setiap tahun, orang berbuat baik kepada semua orang lain. Yang kaya ingat pada yang miskin, yang kuat berwelas-asih kepada yang lemah.”

Ia menjawab, “Ya, belas kasihan sejenak dari yang kaya kepada yang miskin itu menyakitkan, dan simpati pihak yang kuat kepada yang lemah hanya mengingatkan tentang superioritas.”

Aku mengiyakan, “Apa yang Bapak katakan ada benarnya, tapi orang miskin yang lemah tak peduli itu, tak ingin tahu apa yang ada di lubuk hati orang kaya; dan mereka yang kelaparan tidak pernah memikirkan bagaimana roti yang mereka dambakan diuli dan dipanggang.”

Dan dia menjawab, “Pihak yang menerima tidak menyadari; tapi pihak yang memberi bertanggung jawab memperingatkan diri sendiri bahwa pemberian itu dijiwai oleh cinta pada sesama, belarasa terhadap sahabat, bukan demi meninggi-ninggikan diri sendiri.”

Aku terpukau oleh kearifannya, dan mulai merenungi lagi tampilannya yang kuno serta pakaiannya yang aneh. Kemudian pikiranku pulang dari mengembara sejenak, dan kukatakan, “Tampaknya Bapak perlu sesuatu; Bapak mau uang sekadarnya dari saya?” Dengan senyum sedih ia menyahut, “Ya, saya memang sangat membutuhkan, tapi bukan keping uang emas atau perak.”

Kebingungan, aku bertanya, “Bapak perlu apa?”

“Tempat berteduh. Tempat buat meletakkan kepala dan mengistirahkan pikiran saya.”

“Terimalah dua dinar ini; Bapak bisa pergi ke penginapan dan membayar sewa kamar,” aku mendesak.

Penuh duka dia menjawab, “Sudah saya datangi penginapan di mana-mana dan saya ketuk setiap pintu, tapi sia-sia. Sudah saya masuki semua toko dan warung penjual makanan, tapi tidak ada yang peduli menolong saya. Saya terluka di hati, bukannya lapar; saya kecewa, bukan letih. Saya tidak mencari naungan atap, melainkan naungan manusia.”

Aku membatin, “Aneh benar orang ini! Kadang bicara seperti filsuf, kadang seperti orang gila!”  Selagi aku membisikkan pikiran itu ke telinga batinku, dia menatapku tajam-tajam, merendahkan suaranya ke nada yang muram, katanya, “Ya, saya orang gila, tapi bahkan si gila pun akan merasa jadi orang asing tanpa tempat berteduh dan kelaparan tanpa makanan, karena hampanya hati manusia.”

Aku minta maaf kepadanya, “Saya sesalkan pikiran saya yang ngawur ini. Maukah Bapak menerima uluran tangan saya dan menginap di pondokan saya?”

“Saya telah mengetuk pintumu dan semua pintu seribu kali dan tidak mendapat jawaban,” sahutnya sengit.

Sekarang yakin betul aku, dia memang gila; dan kuajak dia, “Ayolah, ke rumah saya.”

Perlahan dia mengangkat kepala, lalu berkata, “Andai kamu tahu jatidiriku, tidak akan kamu mengundangku ke rumahmu.”

“Bapak ini siapa?” tanyaku gentar, sendat.

Dengan suara yang terdengar bagai gemuruh samudra, dia meraung geram, “Aku ini revolusi yang membangun apa yang dihancurkan bangsa-bangsa … akulah prahara yang mencerabut pohonan yang ditanam dan ditumbuhkan zaman ke zaman … akulah yang datang menebar perang dan bukan menabur damai di muka bumi, karena manusia hanya puas dengan kesengsaraan!”

Dan dengan air mata deras bercucuran menuruni pipi, dia bangkit berdiri tegak, tinggi, dan kabut cahaya muncul mengembang di seputar sosoknya, dan dia ulurkan kedua lengan dan tangannya ke muka, dan kulihat bekas-bekas lubang paku di kedua telapaknya; aku jatuh terlutut di depannya dan terpekik, “Oh Yesus dari Nazaret!”

Dan Dia meneruskan, dengan pedih dan getir, “Orang-orang itu menyelenggarakan perayaan untuk menghormati Aku, mengikuti tradisi yang terbentuk berabad-abad lamanya di seputar namaKu, sedangkan Aku sendiri ini orang asing yang mengembara dari timur ke barat di atas bumi, tanpa seorang pun tahu-menahu tentang Aku. Serigala punya liang, dan burung-burung di langit punya sarang, tapi tiada tempat bagi Putra Manusia meletakkan kepalaNya.”

Saat itu kubuka mata, kuangkat kepala, dan kupandang sekeliling, tapi tidak kutemukan apapun selain pilar asap di depanku, dan hanya kudengar geletar suara sepi malam, keluar dari lubuk keabadian. Kukendalikan diri dan kulayangkan lagi pandangku ke arah kerumunan orang yang bernyanyi-nyanyi di jauhan, dan kudengar suara dalam diriku berkata, “Kekuatan yang melindungi hati dari luka dan cedera justru menghalangi hati tumbuh berkembang mencapai keagungan yang dihasratkan jiwa. Suara nyanyian dari mulut itu memang merdu, namun nyanyian hatilah suara murni surgawi.”

(Diindonesiakan dengan merdeka dari sumber: “Eventide of the Feast”, dalam The Greatest Works of Kahlil Gibran. Jaico Publishing House. 1994. Landung Simatupang. Prapaskah. 2012).

*Kahlil Gibran (penyair, pelukis, pematung, filsuf, penulis) lahir di Bsharri, Mount Lebanon, Mutasarrifate, Ottoman Syria atau Lebanon sekarang, pada 6 Januari 1883, meninggal 10 April 1931 di New York City, AS. (http://en.wikipedia.org/wiki/Khalil_Gibran#Art_and_poetry)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s