Kepalaku Terbuat dari Kecelakaan

Oleh John Ferry Sihotang

Kepalaku terbuat dari kecelakaan. Tapi di dalam kecelakaan itu tak ada rok mini. Dan kepalamu terbuat dari kekuasaan, yang memboikot semua rok mini. Rok mini yang suka membungkus gorengan politik dan ekonomi. Nenek moyangku pernah bilang, “Tuntutlah ilmu sampai ke utara, supaya kepalamu mampu mencipta celana panjang atau rok panjang.” Tapi kepalamu mencipta rok mini melulu. Nenek moyangku memang tak pernah sekolah sampai ke negeri utara. Tapi, andai ia jadi kaca pembesar, ia takkan bikin roket dari jerigen minyak melulu. Ia juga takkan mau mencuri palu dari gedung pengadilan. Dan ia takkan mencuri gergaji milik tetangganya sendiri.

Aduh. Siapa yang bikin negara macam ini. Seperti kecelakaan yang sedang merobek-robek kepalaku. Aduh. Aku tak tahu bagaimana kepala kalian sibuk merobek rok mini. Ada pula yang ingin menggantung rok mini di tubuh Mona(s). Mona memang tinggi cantik dan langsing, tapi ia tak suka pakai rok. Ia suka memakai kalung emas dari sebuah revolusi. Tapi Mona tak suka mengoleksi cincin. Apalagi cincin keberulangan dari mulut yang tak pernah disikat. Kau tak punya odol dan sikat gigi, ya. Nih, aku pinjamkan keset dan kain lap.

Di gedung sebelah, sebuah spiker rusak berteriak keras-keras: Bersatulah rok mini dari Sabang sampai Merauke! Lalu mereka bersatu di bawah lindungan atap bewarna hijau. Hijau keemas-emasan. Dari dulu memang para rok mini itu suka mengunyah kalkulator di mulutnya. Seperti mereka suka mendengar lagu-lagu perjuangan yang bercerita tentang mitos-mitos keadilan. Mereka juga suka membaca buku-buku filsafat ekonomi terbitan Jerman. Karena itulah para rok mini makin pintar berteori. Bagi mereka, anggaran paling bagus adalah anggaran yang terbuat dari bantal-bantal paling guling, jas-jas paling putih, dan kursi-kursi paling empuk. Tenang saja, seru sebuah rok mini, hanya butuh ratusan miliar lembaran kertas (yang sibuk mencipta uang) untuk semua itu.

Salam. Salam. Salam untuk para rok mini yang merawat tikus sekaligus kucing di sakunya. Salam dari kecelakaan yang terbuat dari kepalaku. Kalian suka bir, tak. Ini bir hitam aku siapkan untuk kita teguk bersama. Mari. Mari. Bernyanyilah dengan bibir paling indah di dunia. Maka seluruh rok mini pun berkibar-kibar hingga sebuah lelah membentur kepala. Lalu mendengkur tak henti seperti arloji mati. Rok mini terus mendengkur riuh. Menghibur kecelakaan dan kepalaku dengan sebuah negara yang tak pernah mandi.

Maret, 2012

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s