Inspirasi Kompas: Hiperbola dan Mantra

Oleh: Bre Redana

Hiperbola adalah gaya bahasa melebih-lebihkan. Dia bisa punya daya sihir karena sifatnya yang berlebihan, tetapi pada saat bersamaan tidak membumi, tidak dekat dengan kenyataan. Pelukisan bulannya secantik dewi sinar perak bisa menggambarkan pesona terang bulan di awal bulan ini di Ciawi, meski tak jelas konkretnya seperti apa.

Sama halnya kalau kepada pujaannya seseorang bilang aku akan menunggumu seumur hidup. Ungkapan itu pasti masuk kategori gombal, meski jika diucapkan pada saat tepat kepada orang yang tepat bisa efektif. Kenyataannya nanti, jangankan seumur hidup, yang ditunggu telat seperempat jam dalam acara kencan sudah membuat resah. Setengah jam membuat kesal, dan satu jam cukup untuk menimbulkan perang Bharatayuda.

Meski dramatik dan kadang indah, hiperbola kurang bisa dipertanggungjawabkan. Coba bayangkan, kalau terhadap perempuan dikirim sajak Rendra, masuklah ke kantong bajuku, daya hidup adalah kamu, sangat mungkin si penerima langsung kesengsem. Bisa hilang kewaspadaan, bahwa kata-kata itu kemungkinan dikirim ke banyak pihak. Artinya, kalau nanti daya hidup yang ini tidak ada, masih ada yang lain—sesuai cadangan yang tersedia.

Karena itulah, laris sebagai ungkapan dalam roman, hiperbola dan superlatif—ini gaya bahasa menggunakan perbandingan teratas—tidak bisa digunakan pada tulisan ilmiah, disertasi, serta tulisan-tulisan lain dalam lingkup formal termasuk ranah hukum.

Sejumlah teman yang berpengalaman menulis di media massa dan kemudian kuliah lagi sering mengeluhkan kesulitan membikin tulisan yang memenuhi kriteria akademik. Tidak bisa langsung tancap gas seperti ini, membikin tulisan seperti orang gunung, kadang disertai ungkapan yang tidak dimengerti orang banyak semisal kata cleguk dan lain-lain.

Mantra

Dengan demikian, apakah gaya bahasa hiperbola, superlatif, metafora, dan lain-lain tidak dibutuhkan? Tentu saja dibutuhkan. Tak ada sesuatu yang tidak fungsional, terlebih kalau mengingat hidup tak melulu harus berisi sesuatu yang dianggap nyata-nyata saja. Kalau itu yang terjadi, alangkah keringnya hidup.

Seperti dicontohkan di atas, hiperbola bisa memiliki daya yang sifatnya sugestif. Kembali mengambil contoh dalam roman, sangat sering terdengar ungkapan, aku mencintaimu sampai mati. Love you till dead.

Kata-kata yang berlebihan, selain memiliki daya sugestif juga mampu memotivasi. Keduanya dibutuhkan dalam doa. Konon doa dan mantra makin kuat dampaknya jika disebut secara berulang-ulang. Sangat lazim dalam doa, seseorang mengulang kata dan kalimat yang itu ke itu dari waktu ke waktu—dengan harapan suatu saat doanya terkabul.

Ada pula yang percaya doa semakin kuat jika diucapkan sejumlah orang. Makin banyak yang mengucapkan pada waktu bersamaan, makin kuat getarannya. Dalam sistem kepercayaan apa pun, terdapat keyakinan seperti itu.

Penggunaan kata berlebihan seperti gantung aku kalau terbukti korupsi satu rupiah, termasuk hiperbola, bahkan bombastik. Dia diharapkan punya daya sugesti seperti mantra, membuat orang percaya bahwa si pengucap tidak korupsi. Mudah-mudahan demikian. Apalagi sebagai mantra, dia diamplifikasi media massa, diucapkan berulang-ulang melalui repetisi media cetak, media elektronik, dan bentuk-bentuk media lain.

Sebaliknya, bagaimana kalau kata-kata bombastik tadi nantinya tidak sesuai dengan kenyataan? Apakah mantra akan membuat si pengucap kualat? Ini kalau orang masih percaya pada kesakralan doa. Terkecuali, kepercayaan itu tidak ada, dan semua dianggap main-main.

Jangan-jangan nanti dibalik: aku kan bilang digantung kalau satu rupiah, bukan satu miliar. Hukum tunduk pada akurasi kata-kata.

Jika itu yang terjadi, itulah contoh sontoloyonya bahasa politik.***

(Gambar dan Tulisan: Udar Rasa Kompas, Minggu 18 Maret 2012)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

1 thought on “Inspirasi Kompas: Hiperbola dan Mantra”

  1. gaya hiperbola sudah menjadi sesuatu yang lazim digunakan oleh para pejabat negara terutama dalam menanggapi berbagai isu korupsi dan salah urus.

    Like

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s