Review Buku: “Membaca” Ompung Mula Harahap

Ompung Odong-Odong

by Mula Harahap

Details: Paperback, 336 pages
Published: 2010 by Gradien Mediatama
Isbn13: 9786028260909)

Oleh: John Ferry Sihotang

Mungkin Anne Frank tak pernah menyangka bila catatan hariannya, Anne Frank: The Diary of a Young Girl, telah menjadi salah satu buku yang menggemparkan dunia, setelah kematiannya. Buku “Ompung Odong-Odong” ini pun merupakan “diari digital”, yaitu kumpulan tulisan kreatif Mula Harahap di Blog dan Facebook, diterbitkan setelah penulis berpulang kepada penciptanya. Mungkin tak pernah dipikirkan penulisnya, bahwa kumpulan tulisan ini akan menjadi sebuah buku inspiratif bagi para pembacanya. Yang pasti, buku ini telah menjadi warisan berharga bagi para keluarga, sahabat, dan dunia perbukuan.

Buku ini, seperti kata Jansen Sinamo dalam pengantar buku ini, adalah sketsa-sketsa peristiwa yang menggambarkan The Story of Mula Harahap. Bang Mula – begitu saya memanggilnya – menghadirkan kepingan ‘puzzle’ hidupnya yang utuh dalam ‘keretakannya’, yang otentik dalam ‘keculunannya’, yang sempurna dalam ‘kecacatannya’. Buku ini mampu menghadirkan sosok Mula Harahap dalam kebersahajaannya, dalam kejujurannya, dan dalam pengharapannya.

Dalam prolog buku ini, Bang Mula menceritakan alasan dia menulis di dunia maya, yakni: untuk berbagi hal-hal-hal yang mengganggu pikiran dan perasaan sebagai cara mewaraskan jiwanya, membina perkawanan, dan membangun makam di dunia maya (hal. 18-19). Hampir setiap minggu, penulis – dengan istilah Bang Mula sendiri – “mengencingi” Blog dan Facebook-nya. Begitulah cara seorang penggiat perbukuan ini mengurai setiap hal yang meresahkan atau yang membahagiakan di sekitarnya. Tentu, Bang Mula menuliskan topik yang disenanginya, sekaligus menjadi alasan editor memilih dan memilah bab-bab dalam buku ini:  “Membingkai Kenangan”, “Ompung Odong-Odong”, “Gaptek Man” dan “Merangkai Makna”.

Dalam “Membingkai Kenangan”, pencerita ulung Mula Harahap menghidupkan kembali segala kenangan yang pernah mewarnai perjalanan hidupnya. Dari bab ini, saya membaca Bang Mula sebagai seorang anak yang polos dengan segudang cita-cita, seperti memiliki banyak buku, membaca majalah-majalah bagus seperti Newsweek, dan mampu membaca buku tebal berbahasa Inggris. Bang Mula juga menceritakan suka-duka masa kecilnya; cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan saat berumur 4 atau 5 tahun kepada seorang ibu beranak dua, kenangan masa sekolah saat dia ketahuan “sipanggaron” menghisap ganja kepada seorang gadis pujaannya, termasuk kenangan pertama kali terjun ke dunia tulis-menulis lewat  majalah anak-anak: Si Kuncung. Bab ini juga memuat “dendam kesumat” Bang Mula, salah satunya memakan roti kismis. Dendam itu kemudian terpenuhi saat dia berada di bawah gedung-gedung pencakar langit New York City, lalu berkata dalam hatinya sambil memandang ke langit, “Tuhan, aku makan kismis!” Bang Mula mengaku, lewat buku ini, sudah hampir semua cita-cita dan dendam kesumatnya terpenuhi.

Pada “Ompung Odong-Odong”, saya membaca Bang Mula sebagai seorang bapak yang begitu menyayangi keluarganya, sekaligus sebagai kakek yang begitu mencintai cucu-cucunya dengan menggendong, mendongeng, bahkan menunggui sang cucu saat melakukan aktivitas. Bang Mula diberi “gelar kehormatan” sebagai “ompung odong-odong” karena tak putus-putusnya bernyanyi untuk menidurkan cucu kesayangannya, Gisella, seperti odong-odong yang banyak berkeliaran di perkotaan. Penulis seringkali menghadirkan Gisella – cucu tertuanya – sebagai balita yang menggemaskan dan, seperti kebanyakan anak kecil lain, selalu riuh membombardir sang kakek dengan pertanyaan kenapa, kenapa, dan kenapa. Namun sang kakek menjalani perannya dengan amat baik, tanpa bersungut-sungut  untuk menghilangkan kata ‘kenapa’ itu dari kamus bahasa Indonesia.

Sedangkan “Gaptek Man” adalah confessiones seorang Mula Harahap, sebagai seorang yang gaptek. Seorang yang mengaku gagap teknologi, namun justru memaksimalkan jejaring dunia maya, seperti berselancar di Youtube mendengarkan lagu-lagu “jadul” kesenangannya. Bahkan, Bang Mula  memiliki beberapa account di dunia maya, seperti Facebook, Twitter, Blog WordPress, Kompasiana, hingga jejaring pecinta buku Goodreads. Curiousity penulis yang tinggi, menjadikannya kerap meminta bantuan anak atau adiknya untuk mengajari menggunakan berbagai fitur teknologi informasi itu, termasuk untuk mengunduh “video itu” (baca: video “Ariel dan perempuannya”). Terlepas dari efek-efek negatif teknologi itu, penulis mengaku “bersyukur kepada Tuhan karena masih diperkenankan hidup di dunia ini, di era Microsoft, Google, Yahoo, dan Facebook” (hal.215).

Sementara, dalam bab Merangkai Makna, Bang Mula menuliskan beberapa cerita dengan membaca kehidupan sekitarnya, antara lain:  kisah anaknya yang menggerutu saat doa bersama namun ‘tertangkap basah’ saat berdoa sendiri dengan kusyuk di kamar pribadinya, cara memperlakukan pembantu rumahtangga dan bawahannya, bagaimana ia merasa nyaman bila mengenal para tetangganya termasuk para satpam dan tukang ojek di lingkungannya, metode mendidik anak-anaknya agar menjadi seorang Batak yang peduli  sekitar sekaligus sebagai seorang kristen yang waras beragama, dll. Pada bab ini, saya membaca keutuhan seorang Mula Harahap sebagai seorang Batak, seorang Kristen, seorang Indonesia, sekaligus seorang warga dunia.

Topik apapun yang dituliskan Bang Mula dalam buku ini, dengan selipan humornya yang cerdas, begitu berkesan bagi saya. Semua dipaparkannya dengan terbuka, tanpa menggurui, bahkan terkesan “telanjang” di hadapan pembaca; namun tetap meninggalkan pesan dan makna yang mendalam. Penulis hadir apa adanya dengan menampilkan keganjilannya, ketaklazimannya, termasuk kenangan buruknya; seperti ekperimen gila mengirim surat pada diri sendiri, dan pengalaman berjudinya.

Begitulah, Bang Mula mengajar tanpa formal dengan membuka dirinya sebagai buku untuk dibaca. Sebagai pegiat perbukuan, Bang Mula mengajar pembaca untuk menulis, menulis, dan menulis. Sebagai seorang Ayah, Bang Mula mengajar pembaca untuk mendidik anak-anak dengan bersahabat. Sebagai seorang kakek, Bang Mula mengajar pembaca bagaimana mencintai cucu-cucunya. Sebagai seorang Indonesia, Bang Mula mengajar bagaimana menjadi manusia indonesia yang populis, pluralis, dan demokratis. Sebagai seorang Batak dan Kristen, Bang Mula mengajar pembaca bahwa dia tetap bisa beriman dengan wajar dan waras, tanpa harus teralineasi dari lingkungan Bataknya, dari lingkungan Indonesianya, dan dari lingkungan perbukuaannya.

Demikianlah seorang Mula Harahap membaca kehidupan orang-orang di sekitarnya, sebab baginya, “setiap manusia adalah buku yang sangat menarik untuk dibaca.” Bang Mula tak hanya membaca, namun juga menuliskannya untuk menjaga keseimbangan hidupnya, untuk membuang hal-hal yang mengganjal dalam pikirannya, untuk berdamai dengan dirinya di tengah centang perenangnya kehidupan ini.

Kini, ia telah menjelma sebuah buku, dan mengajak kita membacanya. Legenda pribadi atau jejak perjalanannya telah tercatat dalam sejarah sebagai sesuatu yang abadi; sebab, seperti ungkapan Jendral MacArthur yang pernah dikutip Bang Mula dalam status facebooknya, “Old soldiers never die, they just fade away“. Oleh karena Mula Harahap adalah seorang serdadu kehidupan, saya akhiri tulisan ini – juga pernah ditulis Bang Mula untuk sahabatnya, Fuad Hassan – dengan berkata, “Bang Mula, ternyata you masih hidup, dan akan selalu hidup, di hati saya!”

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s