Buku Sordam: Menjadi Seorang Batak yang Bernilai

Sordam
by Suhunan Situmorang
Published: November 2010 by Pena Biru
Details: Paperback, 397 pages
Isbn13: 9797800091

Oleh: John Ferry Sihotang

Kearifan lokal adalah kearifan yang terlupakan. Itulah kenyataan pahit di tengah kebisingan globalisasi informasi saat ini. Yang lokal menjadi tersingkir oleh serbuan  peradaban yang kian hari kian membusuk ini. Penyeragaman dipaksa menjadi sebuah keniscayaan, lantas keberbedaan dianggap kekolotan. Meriapnya materialisme dan individualisme dalam mentalitas-budaya masyarakat kita, adalah penyebab utama alpanya yang lokal itu. Tak jarang pula kita saksikan akhir-akhir ini, saat kemunafikan dan ketidakberanian menampilkan kesejatian diri, menjadi hal lumrah. Kearifan lokal, yang sejatinya sebagai keunikan ragam suku di negeri ini, sungguh telah kian tergerus arus zaman.

Tema lokalitas itu kini mulai digali kembali oleh beberapa pemikir, termasuk para penyair, cerpenis, dan novelis; salah satunya tertuang dalam Novel Sordam ini. Rupa-rupanya, yang lokal bukanlah sekadar masa lalu yang terkubur, membeku, apalagi tanpa makna. Memang kita tak mungkin kembali ke masa lalu, namun apa yang ada di waktu lampau tetaplah memiliki nilai-nilai tradisional dan norma-norma hidup yang layak ‘diselamatkan’ kembali, untuk kekinian. Maka, yang lokal itu dapat dilihat sebagai alternatif baru untuk mengarungi keseharian yang makin miskin spritualitas ini. Dalam konteks “Sordam” ini, kearifan lokal suku Batak menjadi tema sentral – berikut persinggungannya dengan suku lain, bahkan bangsa lain.

Apa jadinya bila manusia menjadi terasing dan tercerabut dari akar tradisi-budaya yang melahirkannya? Apakah harga diri seorang Batak hanya diukur dari kuburan yang megah, pesta adat yang besar, penampilan yang mewah, kekayaan, bahkan jabatan? (hal. 185). Apakah masih perlu mempertimbangkan dan menaati serta menyikapi kepatuhan, nilai-nilai, norma-norma adat dan hukum adat? Kira-kira itulah beberapa pertanyaan yang mau diselami penulis dalam Novel ini – sekaligus hendak memperkenalkan bumi leluhurnya: Tano Batak – Danau Toba, yang bak ratna mutu manikam di Nusantara ini.

Kecenderungan modernitas yang menggaungkan rasionalitas itu semakin mendepak intuisi dan naluri asali kita. Sebut saja soal adat dan ikatan perkerabatan.  Saya kira – mengamini penulis novel ini – keduanya tak melulu soal nalar dan rasio, akan tetapi soal naluri yang merekatkan dengan “yang lain”. Ironisnya, banyak yang sinistik dan salah menafsirkan, bahkan mencela tradisi-adat itu; bisa diduga, penerapannya pun menjadi dangkal.  Falsafah lokal itu bukanlah sejarah purba semata yang sudah kedaluwarsa.  Nilai-nilai tradisi-budaya yang ditanamkan leluhur kita, khususnya yang menjunjung tinggi ikatan kolektivitas dan kedekatan dengan alam itu, tetaplah sebuah pola berkehidupan yang berkualitas.

Novel yang menggabungkan realitas dan imajinasi ini bisa dijadikan sebagai refleksi dan introspeksi untuk bangsa ini – khususnya bangsa Batak – di tengah jamaknya kecenderungan semu mengagungkan materi, gengsi, dan puja-puji. Novel pertama Suhunan Situmorang ini adalah sebuah karya seni membenahi hidup. Penulis mencoba merengkuh esensi kehidupan yang kian menjelma gurun tandus keterpesonaan pada permukaan. Padahal kita telah mengidealkan, bahwa “hidup yang baik” adalah hidup seseorang yang benar-benar menjalani kehidupan dengan hormat dan bermartabat (sangap): bukan penindas, bukan perusak lingkungan, bukan penista kemanusiaan; akan tetapi yang punya afeksi peduli kepada alam dan sesama.

Dalam novel ini, Tulang SS — begitu saya memanggil budayawan Suhunan Situmorang, menyadari eksistensinya sebagai seorang Batak, dan tetap bangga dengan kebatakannya, kendati sistem adat dan nilai-nilai anutannya kerap menimbulkan masalah (hlm. 186). Dari kecintaan itu pula ia mencoba menyelami tradisi lokalnya, dengan kritis. Ihwal tradisi Batak, sikap dan pandangan Tulang SS jelas tertulis dalam buku ini: “Para leluhur membuat adat dan hukum adat, bukanlah untuk menyusahkan keturunan mereka. Tapi sebagai rambu-rambu dalam melakukan interaksi dan relasi sosial untuk menjaga harmoni. Dan mereka, generasi selanjutnya, sepatutunyalah menyelaraskan sesuai dengan konteks dan tuntutan zaman, berlandaskan filosofi kebatakan mereka.” (hlm. 187).

Karya Sordam ini juga menghadirkan problematika hidup berkebangsaan. Demikianlah, karya sastra yang baik memang semestinya menampilkan serentak mengkritisi banyak replika hidup dengan segala kompleksitas persoalannya. Lewat tokoh-tokoh Novel ini, penulis mengangkat masalah pluralisme,  perburuhan, hak-hak perempuan, religiositas, dll. Mungkin ada yang beranggapan novel ini terlalu melebar ke mana-mana atau terkesan ‘menggurui’. Namun, saya melihatnya bukan demikian. Karya ini justru menunjukkan diri penulis yang memiliki wawasan yang luas, mau berpikir mendalam, dan tidak terjebak dalam egosentrisme dan sukuisme yang sempit. Minat penulis yang tinggi akan filsafat, sastra, dan budaya, membuatnya berayun dengan tangkas menyentuh akar kenyataan hidup yang kadang penuh kontradiksi dan dilema ini. Kepiawaiannya mengolah kata dan makna, menjadi daya tarik tersendiri dalam penulisan karya ini: menciptakan ketersituasian tarik-menarik antara individualitas dan kolektivitas, terutama pada tokoh Paltibonar.

Paltibonar Nadeak, tokoh utama dalam novel Sordam ini, adalah sosok imajiner bagi manusia – bagi orang Batak khususnya. Saya katakan sosok imajiner, karena bisa jadi cermin bagi kita untuk memahami diri sendiri. Dan, Paltibonar menyadari eksistensinya tanpa menyangkal identitas diri dan sosialnya sebagai seorang Batak. Pun sebagai warga Indonesia, ia bersikap demokratis dan mempunyai keprihatinan tinggi kepada bangsanya, lalu berani menceburkan diri dalam persoalan kemanusiaan dan lingkungan. Paltibonar tak mau terlena dalam bujukan untuk konformis; yang hanyut dalam perburuan materi, pertarungan kapital, dan penghambaan diri pada kekuasaan semata. Karakter Paltibonar (seorang pengacara muda Batak) digambarkan sebagai seorang yang intelek, gigih, berpandangan luas, bisa bekerja di luar negeri, dan bersikap pluralis. Akan tetapi – seperti selalu disorot Tulang SS dalam kolomnya setiap hari sabtu di harian Batak Pos, yang lebih utama dalam diri Paltibonar adalah, integritasnya yang teguh memegang values tradisi, budaya, dan norma-norma adatnya.

Selain mencoba menepis anggapan-anggapan minor terhadap etnis Batak, novel ini ingin menawarkan syarat keotentikan menjadi manusia yang bernilai. Dalam asumsi saya, selain memiliki etika dan moral dalam hidup, bersikap jujur dan rendah hati; penulis juga mengagumi (bahkan terobsesi) pada manusia yang punya ketulusan, kepedulian, dan kebajikan pada kearifan lokalnya. Ke sanalah aku menghela pesan yang mau disampaikan novel ini: agar semakin banyak manusia (Batak) yang punya nilai.

Begitulah, novel ini menawarkan jalan untuk menjadi seorang (Batak) yang bernilai, menjadi “anak ni raja”, dalam kosa kata Tulang SS. Dari novel ini saya belajar, menjadi manusia Batak yang punya nilai berarti: menjadi manusia universal yang kaya spritualitas hidup, menjadi manusia Indonesia yang menghargai pluralitas dan memiliki kepedulian, sekaligus menjadi manusia Batak yang mencintai kearifan lokalnya – yang dengan demikian, mau me-revitalisasi tradisi budaya Batak itu sendiri. ***

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s