Momentun Introspeksi dan Retrospeksi di Tengah Ketercemaran Batak

Oleh Suhunan Situmorang*

APA hendak dikata, akibat ulah beberapa orang, citra Batak tercoreng-moreng belakangan ini. Orang Batak seolah indentik pula dengan perbuatan koruptif, padahal bila dilakukan penelitian, pelaku korupsi di negeri ini bisa jadi masih lebih tinggi dilakukan etnis lain. Bukankah beberapa tahun terakhir ini puluhan bupati, gubernur, anggota DPR/DPRD, yang tersebar dari Papua hingga Aceh dibui karena mengembat duit negara? Bukankah para terpidana korupsi yang menjarahi kas pemerintah dan badan usaha milik negara hampir melibatkan semua suku?

Tapi bila masyarakat Batak mau berjiwa besar, sekaranglah momen yang tepat untuk melakukan otokritik, introspeksi, atas diri dan kebatakan mereka. Juga melakukan semacam retrospeksi atas pencapaian cita atau orientasi kehidupan yang terlanjur jadi tawanan “hamoraon” (kekayaan), “hagabeon” (banyaknya keturunan), “hasangapon” (kehormatan).

Fakta bahwa kian banyak orang Batak dijerat aparat hukum karena tuduhan korupsi, sulitlah ditepis. Sementara, dalam posisinya sebagai minoritas yang terlanjur dilekatkan berbagai stigma negatif, sentimen agama (padahal orang Batak tidak hanya penganut Kristen/Katolik) dan perbedaan karakter atau sifat yang mencolok dengan etnis lain hingga acap menimbulkan pergesekan, menjadikan Batak etnis yang rentan ‘sasaran tembak (“vulnerable”).

Otokritik dan introspeksi tersebut bukan upaya penghilangan atas jatidiri sebagai Batak, tapi lebih sebagai langkah menghidupkan kembali modal utama sekaligus keunikan di tengah masyarakat lain. Revitalisasi atas “poda, patik, uhum, umpasa,” sistem dan aturan adat yang disebut kearifan lokal amat perlu untuk menggiring kembali orang Batak memasuki dan mewujudkan konsep manusia ideal ala Batak yang disebut “anakni raja” dan “boruni raja”, yang kian pupus.

Menjadi anakni raja atau boruni raja, berarti harus menjauhi tindakan mencuri, menipu, merusuhi. Juga harus mengenyahkan sifat negatif berupa dendam, dengki, congkak (“hosom,” “late,” “teal”), yang sayangnya menjadi semacam antitesis bagi idealisasi manusia Batak itu. Pendeknya, setiap orang Batak dituntut agar terus berperilaku elok: santun, sopan, tak melanggar norma-norma dan hukum yang berlaku (“poda-sipaingot-uhum”) demi menjaga martabat dan harga diri. Tindakan mencuri jelas bukan perbuatan terhormat, bertetangga dengan korupsi, hingga dikategorikan perbuatan pidana.

***
SEBAGAI suku yang lama menutup diri dari peradaban dunia luar namun begitu pintu terbuka lantas merambah ke mana-mana hingga masuk ke birokrasi, mulanya orang Batak terikat kuat dengan kearifan warisan leluhurnya yang mengejawantah dalam sikap-tindak dan pandangan hidup. Jabatan yang diberikan kepada seorang Batak di kantor pemerintah atau institusi lain pun tak semata-mata disikapi sebagai lahan sumber nafkah, namun juga “tohonan”. (Jabatan yang diberikan pada seseorang atas dasar kepercayaan, integritas, berdimensi teokratis atau pemberian Yang Maha Kuasa, hingga harus dijaga agar tak cidera).

Sampai Rezim Orde Baru mengambilalih kekuasaan negara, orang-orang Batak yang bekerja di lembaga pemerintah dan BUMN masih teguh memandang jabatan sebagai tohonan. Bahkan, ketika penyimpangan dan fenomena penggerogotan jabatan berupa korupsi dan kolusi mulai merebak di kalangan birokrat, orang Batak masih bertahan dengan prinsipnya. Ada kebanggaan yang tak ternilai bila kinerja mereka dinilai bagus oleh atasan, meski tak disertai peningkatan imbalan; ada kenyamanan tersendiri bila mampu menunjukkan kesetiaan pada pimpinan, sekalipun kedudukan si bos sudah goyang.

Karena itulah dulu orang Batak dikenal etnis lain sebagai suku yang loyal, jentelmen, tak hipokrit. Dan tak hanya berlaku di sektor formal, juga di sektor informal macam pekerjaan tani, angkutan, perdagangan tradisional. Batak disebut pula suku yang egaliter, pekerja keras, mengutamakan kemajuan dengan menempuh pendidikan formal, memiliki solidaritas yang kuat tak hanya pada marga.

Hingga memasuki dekade 80-an, impresi Batak yang keren itu masih kuat, kendati di sisi lain harus menghadapi stigma negatif (suku yang kasar, pencopet, penjambret) yang kian melekat akibat perilaku atau ulah sebagian orang Batak berbudaya rendah. Namun perubahan sosial masyarakat Indonesia—disertai ledakan penduduk dan derasnya arus urbanisasi—memberi pengaruh yang besar bagi suku Batak, baik dalam cara pikir (“mind-set”), gaya hidup, dan orientasi kehidupan.

Sebagai minoritas yang ‘dicurigai’, tak mudah bagi orang Batak agar diterima dan “survive.” Dan, sebagai suku yang bersifat kolektivis karena terikat pada marga dan adat-istiadat, orang Batak akan berusaha mencari teman sesuku (dan marga) di mana ia berdomisili. Kumpulan marga, paguyuban “huta” (kampung asal), rumah ibadah, menjadi wadah utama untuk merilis naluri purba untuk berkumpul dan bertemu sesama, yang terus muncul.

Dalam interaksi atau saat pertemuan dengan sesama kerabat atau teman sesuku, orang Batak ingin menegaskan eksistensinya, ingin mendapat pengakuan atas kelebihannya, hingga melahirkan puji dan perlakuan istimewa. Namun sebagai masyarakat agraris dan masih mengangungkan tohonan, umumnya orang Batak tak begitu yakin bahwa kehormatan bisa datang dari hasil pertanian atau perniagaan. Itu sebabnya mengapa menjadi pegawai pemerintah (meski berpenghasilan tak besar) lebih diinginkan ketimbang jadi pedagang yang berkesempatan memiliki banyak uang dan harta, dan karenanya mati-matian menyekolahkan anak mereka agar bisa diterima.

Di sisi lain, akulturasi dengan budaya suku-bangsa lain, dampak perubahan sosial akibat pembangunan politik dan ekonomi nasional yang berlangsung cepat tanpa dilandasi sistem, ideologi dan filosofi negara yang efektif menjamin pemerataan kemakmuran, kian kentaranya diskriminasi di berbagai bidang, dan semakin meningkatnya kebutuhan serta tuntutan sosial-ekonomi, membuat nilai-nilai, pandangan hidup, cita dan orientasi orang Batak mengalami pergeseran.

Orang Batak perantauan lalu dihadapkan pada dua pilihan yang cukup sulit: ikut arus yang semakin materialistis, pragmatis, oportunis, egois, atau bertahan dengan prinsip-prinsip yang dianggap baik dan ideal namun tak adaptatif dengan perubahan hingga berisiko dilindas zaman. Nampaknya, orang Batak lebih senang mengikuti yang pertama, dan untuk menyisihkan kegamangan yang membebani batin, lantas turut menganut adagium atau “umpasa” kontemporer untuk membenarkan pilihan sikap: “Eme namasak digagat ursa, aha namasa ima taula.” Apa yang lagi musim atau dilakukan umumnya orang-orang, itulah yang kita lakukan.

Adagium itu seolah mutlak dianut, kalau tidak akan dianggap bodoh. Maka, ketika oknum dari suku-bangsa lain melakukan korupsi, berbuat aneka kejahatan ekonomi seperti penyelundup, bandar-agen judi, bahkan jadi pengedar narkoba, tak salahlah diikuti—apalagi menjanjikan uang banyak dalam waktu cepat. Orang Batak pun ikut menempuh jalan pintas untuk menggapai kemakmuran dan tohonan (dengan menjadi PNS, DPR/DPRD, pejabat), hingga jadi terbiasa menyogok, disogok, dan korupsi.

***
SEMAKIN lama, orang Batak tak lagi mementingkan proses, dan seperti halnya masyarakat lain, lebih suka hasil yang instan. Pun tak curiga lagi dan bahkan memuji para PNS korup, para pengusaha penjarah hutan, mafia judi dan bandar narkoba, hanya karena mereka kaya, royal dan mau mendermakan uang. Pula tak lagi memberi sokongan atau pujian bagi PNS yang jujur, polisi-jaksa-hakim-pengacara yang bertahan dengan idealisme, guru dan tenaga medis yang tulus mengabdi untuk warga yang masih terbelakang.

Ukuran sukses berdasarkan pemilikan kuasa dan materi lalu membuat orang Batak lebih senang menampakkan hal-hal yang bersifat artifisial bahkan manipulatif, ketimbang yang sejati dan sederhana namun bermakna: pesta adat harus besar, kuburan atau tugu harus megah, sambutan orang-orang harus megar—hingga kehadiran artis penyanyi Batak pun seolah keharusan. Ukuran, cara pandang, dan orientasi kehidupan macam itulah yang secara intens diwariskan pada anak-anak mereka.

Orang Batak seperti tak sadar posisinya sebagai minoritas di tengah masyarakat dan negara yang masih lekat dengan kecurigaan, hingga tetap rentan jadi sasaran tembak. Maka, ketika seorang Batak anggota DPR menampakkan ulah yang memuakkan dalam rapat-rapat Pansus Bank Century, saat pengacaranya Anggodo dan Anggoro menyudutkan dua petinggi KPK dalam pertarungan ‘cicak vs buaya’ padahal kemudian tak terbukti, ketika urusan pemilihan Deputi BI merebakkan aroma penyuapan anggota DPR di mana empat orang di dalamnya orang Batak, diciduknya mantan Kabiro Hukum Pemprov DKI dengan tuduhan korupsi, terbongkarnya ulah Gayus Tambunan dengan pengacaranya yang orang Batak, dan tertangkap basahnya satu pengacara saat menyuap hakim PT TUN Jakarta, menjadikan etnis Batak semakin tersudut dan bahan cibiran.

Sangat tak adil memang. Akibat ketidaksopanan dan kejahatan yang dilakukan beberapa oknum yang tak seberapa jumlahnya dibanding yang telah dilakukan oknum dari suku lain—dan perbuatan mereka pun sebetulnya tak berdiri sendiri karena pasti melibatkan pihak non-Batak—orang Batak lain ikut terciprat cela. Karya dan sumbangsih positif orang Batak pada negeri ini seolah tenggelam oleh ulah para koruptor dan orang congkak yang miskin etika.

Sekaranglah momentum yang tepat untuk melakukan introspeksi dan retrospeksi: merenung, membuat refleksi, menyadari posisi sebagai minoritas di negeri yang masih sarat kecurigaan dan sentimen ras, selain meraih kembali ciri dan karakter Batak sejati yang semakin hilang: penyanjung kehormatan yang bermartabat, anak dohot boruni raja. Bukan penjahat dan penjilat yang tak tahu malu dan bikin malu.***

* Pengacara korporasi, penikmat budaya, penulis novel SORDAM, tinggal di Jakarta.
(Dimuat di koran Batak Pos, Sabtu, 3 April 2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s