Marga, bukan sekedar Tanda

Oleh: Suhunan Situmorang*

BILA tersiar kabar perbuatan kriminal di negeri ini, dada saya kerap berdebar seraya berharap cemas: semoga pelakunya bukan orang Batak, apalagi Situmorang. Sebaliknya, kebanggaan akan bersemburat manakala membaca atau mendengar prestasi seorang Batak, apapun puak dan agamanya.

Sebagai Batak, dalam diri saya ternyata tak cuma melekat sebuah marga. Juga—dan ini yang berat—harus turut menyandang aneka konsekwensi disebabkan perbuatan orang Batak lain: yang baik, yang buruk, yang membanggakan, yang memalukan. Bahkan, dengan memiliki marga jadi ikut terciprat atau melekat berbagai stereotip dan stigma negatif, yang cukup melelahkan dijelaskan dalam upaya klarifikasi.

Menyandang marga pun bisa merugikan di lingkungan yang rasis atau berpikiran sempit, yang bisa menghambat karir, bisnis, pendidikan. Barangkali itu sebabnya mengapa banyak orang Batak menganggap marga hanya aksesoris, tempelan, warisan purba yang tak penting dan bahkan bisa membebani, hingga dihilangkan. Banyak pula yang salah kaprah mengidentikkan marga dengan agama tertentu. Mereka lalu tak menuliskan marga dalam akta kelahiran, KTP, SIM, paspor, ijazah, STNK, sertifikat, dan dalam keseharian lebih suka disebut ‘orang Indonesia.’

Tetapi saya yakin seumpama marga Situmorang lenyap dari diri saya akan membuat bathin saya didera gelisah. Bukan karena saya kelewat cinta pada Batak atau lantaran berkecenderungan chauvinistik. Saya sudah dilahirkan jadi orang Batak, maka apapun kelebihan dan kekurangannya, haruslah saya terima dengan sikap dewasa. Lagipula, andai saya keberatan pun tak mungkin mengubah etnisitas saya, misalnya, jadi orang Melayu, Jawa, atau Bali.

***
SEBAGAIMANA orang Batak lainnya, marga telah mengaksentuasikan identitas yang khas dalam diri saya. Juga menautkannya dengan klan Situmorang Sipitu Ama yang jumlahnya puluhan ribu atau ratus ribu jiwa. Saya pun bisa menelusuri trah hingga tahu leluhur yang hidup ratusan atau bukan tak mungkin seribu tahun lalu.

Lebih dari itu, saya telah diikat dan terikat pada marga saya dan marga lain, yang bila dikalkulasi, bisa ratusan ribu. Mereka berasal dari bonani ari, tulang, hula-hula, juga marga dua perempuan yang pertama kali menurunkan Situmorang Lumban Nahor, yakni Lumban Toruan dan Manurung.

Petuah orangtua saya yang diwariskan dari leluhur (sijolo-jolo tubu) menuntut saya harus menghargai orang-orang yang satu marga (dongan sabutuha), menghormati marga ibu dan istri (hula-hula) dan juga marga istri anak lelaki saya kelak, serta menyayangi saudara-kerabat perempuan dan suami mereka (boru). Tuntutan tersebut mau tak mau membuat saya harus eling lan waspada; perbuatan, pola-tingkah, ucapan, harus dijaga supaya tak menimbulkan malu dan kecewa pada klan.

Bila ucapan atau perilaku saya buruk—apalagi terlibat tindak kriminal, termasuk korupsi—maka marga Situmorang dan juga hula-hula serta boru saya akan malu dan kecewa. Diam-diam, mereka ingin “melenyapkan” eksistensi saya, dan itu wajar karena sejatinya tak ada orang yang ingin mendengar hal-hal yang buruk dan tak terpuji menyangkut “diri mereka.” Itu sebabnya mengapa bila ada oknum melakukan perbuatan yang tak terpuji atau melanggar hukum, marganya dan juga orang Batak lainnya akan spontan berkata, “Pailahon do baeo on.”

Marga, selain memperjelas status adat, juga menempatkan orang Batak dalam situasi yang kohesif: tarik-menarik antara invididualitas dan kolektivitas. Bagi yang merasa nyaman dan menemukan advantages atau keistimewaan dengan memilikinya, silakan meneruskan. Tapi bila terganggu dan merasa jadi hambatan, tak usah pula dipaksakan.

Saya sendiri merasa nyaman. Selain merasa terproteksi oleh puluhan ribu keturunan Situmorang Sipitu Ama, memiliki banyak kerabat, setidaknya masih ampuh untuk dijadikan pengendali diri agar berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang tak terpuji.

Marga memang bukan sekadar tanda bagi yang memahaminya.***

* Pengacara korporasi, peminat budaya, penulis novel SORDAM, bermukim di Jakarta.
(Kolom di BATAK POS, Sabtu 20 Maret 2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s