Bukan Soal Otoritas untuk Menentukan Jalan Hidup

Oleh: Suhunan Situmorang*

KALAU tak salah, kejadian yang menggemparkan warga Pangururan dan sekitarnya itu terjadi pada 1976, saat saya pelajar SMP kelas tiga. MS, pak guru yang juga mantan wali kelas kami ketika kelas dua, kawin lari dengan seorang perempuan lajang yang juga ibu guru kami, boru Rtg. Andai MS belum menikah dan punya istri-anak, bisa dipastikan tak sehebat itu goncangan yang terjadi pada mayarakat kota mungil nan permai di tepi Danau Toba itu. Atau, kegoncangan tak akan sedahsyat itu andai yang diboyong MS bukan perempuan yang terlanjur dipujikan dan hormati hampir semua orang yang mengenal diri dan orangtuanya.

Ibu guru yang mengajar Bahasa Indonesia itu bukan sekadar guru, memang. Sosoknya mengundang puji dan kagum. Perilaku kesehariannya menjadi panutan kalangan orangtua, terlebih kaum ibu, yang acap mengujar terhadap anak gadis mereka agar dicontoh. Ia terbilang pendiam, berpenampilan menarik dan sopan. Senyumnya menawan, tak pelit disungging pada siapapun yang kebetulan berpapasan dengan dirinya. Rambut panjangnya yang lebat kerap melambai-lambai manakala ia menunggang sepeda motornya yang kala itu disebut ‘honda cup’. Sepanjang jalan yang dilaluinya bagai tersihir: tua-muda dan anak-anak, menolehkan mata hingga ia lenyap di ujung jalan.

Nilai lebih perempuan yang taksiranku beruia 24 atau 25 tahun itu, bisa jadi terbangun dari aktivitas dan perhatiannya yang tinggi pada dunia gereja (HKBP). Selain dirijen koor NHKBP, ia pun mengepalai guru sekolah minggu, dan saya termasuk yang diajarinya hingga memasuki usia pra-remaja. Manakala ia mengajar (di sekolah minggu dan kemudian di SMP), murid-murid akan tertib bagai dibius kharismanya yang menyembur dari wajahnya yang teduh. Di pikiran nakalku yang mulai mendekati pubertas, acap ia menyelinap ke ruang khayal yang amat pribadi, hingga kadang sulit membangun konsentrasi untuk menyimak ajarannya.

Kadang ia kubayangkan personifikasi malaikat-malaikat sorgawi yang mendarat di bumi Samosir, kadang bagai salah satu perempuan yang setia mengikuti perjalanan Yesus Kristus saat mengunjungi warga Galilea, Tiberias, atau Nazareth. Bila ia mendekat atau memintas–sembari menerangkan pelajaran–harum badannya akan menguap tipis, tersembur dari aroma bedak yang mungkin merek Fambo, Viva, Harmoni, atau sabun Camay, dan itu sungguh “berbahaya”. Pikiran-pikiran liar kian menyiksa.

Di benakku–dan saya pun yakin demikian halnya kawan-kawan sebaya saat itu–ia bagai tak punya dosa; doanya pun senantiasa meluncur mulus ke telinga Bapa yang tengah duduk di singgasana kerajaanNya mengamati jagad raya.

Ia putri seorang tokoh gereja yang amat berpengaruh di Pangururan dan wilayah Samosir, meski asalnya dari Bungabondar, Sipirok (Tapanuli Selatan). Anak-anak ayahku memanggilnya ‘ompung’, lelaki tua bertubuh tambun, berkumis dan berjenggot lebat yang sudah memutih, berkulit putih bagai turis bule yang sering wara-wiri di Pangururan. Si ‘ompung boru’, ibunya ibu guru yang memikat itu, juga wanita Batak dari Selatan. Kulitnya pun putih macam bukan orang Batak umumnya, wajahnya teduh, sehari-hari berjualan aneka jajanan yang amat lezat di kedai kopi mereka yang besar, sebuah bangunan bertingkat di sisi perempatan menuju lapangan bola yang kami sebut ‘tano lapang’.

Pasangan ompung yang amat dihormati itu memiliki putra-putri yang semuanya–istilah kita sekarang–‘educated’ dan beberapa berkedudukan sebagai amtenar. Lelaki bungsunya kemudian jadi dokter, yang masa itu terbilang profesi yang tak terbayangkan betapa sulit diraih, sementara putri tertuanya bidan senior yang mungkin sudah tak terhitungnya lagi berapa bayi dikeluarkan tangannya dari rahim para ibu di sekitar Pangururan, termasuk saya.

***
KEDEKATAN ibu guru yang mempesona dengan lelaki berinisial MS, guru galak yang kalau marah gelegar suaranya bisa membuat cicak dan laba-laba di ruang kelas ikut gemetaran, tak hanya di sekolah (SMP 1). Mereka sama-sama aktivis gereja. MS memang memiliki keahlian sampingan sebagai dirijen koor, pandai mengaransemen lagu, hingga selain NHKBP binaannya, koor kaum bapak ‘Parari Sabtu’ di mana ayah saya dan si ‘ompung’ menempati posisi vokalis bas, kerap memenangkan festival koor antargereja hingga level Tapanuli Utara.

Tapi, sungguh tak ada yang pernah menduga bahwa antara mereka berdua ada apa-apa menyangkut hawa asmara. Bila pun mereka acap pulang malam dari gereja karena ‘margurende’ dan sermon, selalu dibarengi teman-teman mereka yang lain–termasuk NHKBP yang searah jalan pulang dengan mereka.

Suatu pagi, Pangururan yang adem, gempar. Bu guru yang diam-diam kerap kukhayalkan (dan ternyata tidak hanya saya karena pengakuan teman-teman sebaya di kemudian tahun, sesudah besar dan pulang dari perantauan, kombur-kombur di tepi danau sambil bernyanyi diringi gitar), meninggalkan secarik surat sebagai pertanda: ia sudah memilih ikut MS atawa “mangalua” ke suatu tempat yang tak diberitahu. Berita “runway bride” itu merebak cepat, menjalar kemana-mana, tanpa bantuan sms atau email macam sekarang.

Pangururan dan desa-desa di sekitarnya tak hanya gempar, juga sontak-mendadak dikurung mendung. Wajah orang-orangtua terlihat murung, remaja dan anak-anak tak henti-henti menggunjing dengan mimik keheranan–dan juga sok lebih tahu ketimbang orang dewasa. Semua warga seperti ditikam MS dari belakang, melukai jiwa, mencecerkan noda-noda berbau busuk. Kedai kopi merangkap rumah si ompung lantas tutup, sesekali saja tetangga, teman gereja, keluar masuk. Ayah dan ibuku beberapa kali mengunjungi si ompung, sepulangnya wajah mereka terlihat muram.

MS tak hanya disesalkan, juga dihujat! Pihak kerabat dan marga istrinya atau “hula-hula”-nya, tentu marah besar. Si istri yang pendiam, bertubuh kurus dan dalam keseharian jarang senyum dan wajahnya seolah menyimpan tekanan batin yang berat, mengurung diri di rumahnya. Anak-anaknya yang masih kecil-kecil ikut nelangsa, ayah mereka tak habis-habis dikecam tetangga dan warga.

***
RUPANYA, MS dan ibu guru yang sudah mengecewakan itu tak saja mengguncangkan “stabilitas sosial”, meruntuhkan norma-norma adat dan menjungkirbalikkan nilai-nilai ajeg anutan masyarakat adat dalam sekejap, juga membuat orang-orang, diam-diam atau terang-terangan, mempertanyakan motivasi, dampak atau pengaruh bagi seseorang yang menerjunkan diri secara total di lingkungan gereja–yang di benak mereka sudah terlanjur terpatri bayangan sebuah dunia yang suci dan putih hingga terus dihujani puji.

Bayangan dan ekspektasi warga yang sedemikian besar dan luhur itu tentu tak layak disalahkan. Sudah “kodrat” manusia beradab atau tak beradab yang harus tetap memerlukan aturan, setidaknya sebagai penuntun sikap-perilaku, juga semacam kiblat untuk memandu tindak. Para sosiolog dan antropolog sudah lama meyakini: seburuk-buruknya mentalitas dan perilaku suatu komunitas yang disebut masyarakat, tetap memerlukan tata, aturan, untuk dijadikan acuan pola-tingkah.

Paradoksnya, tata atau aturan itu sesungguhnya berasal dari apa yang disebut etika–tanpa selalu disadari orang-orang yang menganutnya. Kadar atau bobot etika itu saja yang berbeda-beda. Para mafia yang merasa biasa saja membunuh musuh, tetap punya aturan, norma-norma, walau cuma berlaku di kalangan mereka. Pengedar narkoba pun tetap memerlukan aturan, setidaknya kuat mengajarkan: tak boleh memberitahu siapa saja agen, bandar, atau jaringan perdagangan narboka. Para penjual seks pun ada aturan, tak boleh menyerobot langganan kawan sesama penjaja.

***
MS dan ibu guru yang tak lagi kukagumi itu mungkin sadar bahwa mereka telah meruntuhkan hal yang paling hakiki dimiliki atau diharapkan orang-orang, yang terlanjur diletakkan di pundak mereka: sebagai panutan. Tapi orang-orang tak mau tahu bahwa mereka hanya manusia biasa, yang berhak jatuh cinta dan melanjutkan ke jenjang perkawinan, agar tetap bersama di sepanjang masa.

Kemudian hari semakin saya sadari, kekecewaan orang-orang yang begitu dalam pada mereka dan hingga kini (puluhan tahun kemudian) tetap dicibir, bukan semata-mata karena dua orang baik, bekerja sebagai pendidik, kerap “bermain di halaman” yang diyakini sebagai rumah Tuhan, begitu tega menorehkan luka yang amat pedih pada jiwa seorang wanita beranak banyak. Namun karena mereka telah pula mengoyak dua hal yang amat sensitif dalam tiap sanubari manusia waras (saya sebut saja dalam Bahasa Inggris karena maknanya tak cukup kuat bila disebut dalam Bahasa Indonesia): “trust” dan “sense of justice”.

Saya kira, luka yang sama pula yang kini ditorehkan Joy Tobing pada orang-orang yang mengecam perkawinannya dengan lelaki beranak dua yang baru saja menceraikan istrinya, Daniel Sinambela. Saya tak akan mengajak kalian memilih sikap: memaklumi atau membenci Joy atas nama ‘hak seseorang’, ‘sudah rencana Tuhan’, apalagi bila diimbuhi ‘jangan menghakimi orang lain’.

Saya serahkan saja pada bisik nurani kita masing-masing. Yang jelas, persoalan semacam ini bukan semata-mata masalah otoritas seseorang untuk mengimplementasikan jalan hidupnya, juga menyangkut pertanyaan yang amat fundamental dalam diri manusia waras: etis tidaknya perbuatan itu dan adil tidaknya tindakan seperti itu. ***

* Pengacara korporasi, peminat budaya, penulis novel SORDAM, bermukim di Jakarta.
(Kolom di BATAK POS, Sabtu 1 April 2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

One thought on “Bukan Soal Otoritas untuk Menentukan Jalan Hidup”

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s