Sengau

Kuakui, aku pernah mencintaimu dalam suatu masa. Membangun mimpi. Merajut imaji dan imajinasi liar, menerobos ambang batas kenormalan. Tapi itu sudah berlalu. Aku bukanlah matahari yang setia bersinar hanya untukmu. Yang pasti aku masih punya cahaya itu. Kini memancar pada liyan, “yang lain”. Sebab setiap manusia berhak memperjuangkan kata cinta yang purba itu. Ya!, dengan memberi, hanya memberi, tanpa mengharap kembali.

Energi cintaku tak pernah tandas di ujung senja. Kekal. Hanya mengalami perubahan medium. Senantiasa menghablur dari alam sadarku. Ternyata rindu itu bisa juga berpindah pada yang lain. Oleh karena itu, mulut tak harus menyalahkan waktu yang menikung dalam ruang relativitas. Itu gerak perjalanan sejarah yang tak perlu dimengerti genesanya. Karena aku bukan pencipta sang waktu itu.

Tak mungkin juga aku terus-menerus menyirami bunga yang tak mengharap air hujanku. Kamu bunga, sudah mempunyai segala kepenuhan. Apa aku menjadi tidak tulus? Ketulusan dalam kepasrahan adalah keharusan. Ini bukan kompromi. Bukan pula pembenaran. Serpihan tubuh kita yang menguban dalam gerutu hanya mengapung begitu saja dalam samudera kehidupan.

Jangan pula kau tanyakan pada rumput dan ilalang: mengapa langit tak seindah dulu. Pula aku sudah lupa puja puji yang kehaturkan bersama katak-katak di tepian telaga. Itu bukan pengkhianatan. Itu hanya ayunan bandul jiwa dalam koridor keterbatasan yang menjadi hakekat kedirian kita. Itu juga bagian dari kosmos dalam jejak kacau partikular yang pernah kita cumbu dalam selaput otak kanan kita.

Boleh saja kau anggap aku seorang pemabuk. Adakah yang lebih jujur dari seorang pemabuk? Tapi kali ini aku mabuk dalam kejujuranku. Yang mungkin kau nilai sebagai absurditas yang berpilin dengan kekaburan dalam labirin yang mengambang. Tapi inilah kotakku. Kotak yang tak bisa dipenjara dalam sentimentil perasaan. Dan maaf bila rasionalitas harus menjadi faktor penentu yang tak bisa kita nafikan keberadaannya. Inilah pengakuanku: aku tak mencintaimu lagi. Bukan berarti aku harus membencimu. (2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

2 thoughts on “Sengau”

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s