Melar

Telah kita maklumkan mimpi dan kenyataan yang menguban. Dalam serangkaian tunggu. Berkubang pada gagasan jarak yang keriput dan melar. Rotasi bumi yang melambat kita jadikan sekutu sekaligus seteru paling biadab. Perlahan kita maknai sebagai sebuah kesengajaan paradoksal. Tanpa harus membuat defenisi apapun tentang arloji dan kebetulan. Koordinat yang menjauh bukanlah rangkaian kondisi atau situasi kesesakan. Meski saling menunggu tubuh dengan gengsi epistemik. Oposisi biner kedua kutub perbedaan sudah kita anggap keniscayaan. Layaknya ketakberdayaan menolak denting kematian. Sebab hidup pun terberi begitu saja dari ketiadaan. Namun bukan peristiwa kebetulan saat Tuhan dalam keisengan.

Tubuh kita pun hendak melekat mencari muara pemenuhan. Dengan tekun menjahit kerudung imaji berwarna realitas yang penuh bercak. Oleh langit yang tak pernah ingkar menghujankan peradaban. Menggenangi lekuk yang penuh tikungan dan kubangan. Demikianlah adanya kita dalam rentetan keanehan. Menikmati rasa cinta yang tak lazim. Merindui tubuh yang sesat dan mencemaskan. Memaknai hidup dengan melanggar diri pada dinding kemustahilan. Lalu kita menjadi enigma. Yang selalu tergoda untuk melintasi batas kekakuan dan kebekuan. Sehingga bermuara di bibir samudra kesepakatan: Kita yang ganjil adalah kita yang menjadi. Sebab keganjilan telah menjadi rasa dominan dalam tubuh. Melampaui kisaran kenormalan yang telah digoreskan oleh sejarah yang congkak dan monoton. Menanggalkan baju-baju kebudayaan yang telah usang. Kita ciptakan kita yang kohesif. Dalam sepi dan lapar tubuh untuk melekat. Serentak melantak mayawarna kerumunan. (2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s