Cemburu

Gemuruh angin dan ombak menderu. Bersama rasa cemburu merah jambu. Riuh mesin tua ikut mengaduk hati dalam adonan rasa yang pekat. Hanya karena seuntai pesan singkat penuh canda. Kita pun mulai mengutub. Utara dan Selatan. Dalam tubuh yang bergesekan di halaman belakang. Kau bertekun dengan telepon selulermu. Dan aku membisu pada sebatang rokok yang mengepul mengecup asap kapal. Detak dan nadi mulai berpacu mengikuti kecepatan. Mengekalkan prediksi dan kuantifikasi yang diam-diam mulai mengharu biru.

Namun tubuh ini paham benar. Bahwa rasa cemburu adalah keniscayaan. Dalam gerak peziarahan kemesraan. Sebuah keharusan untuk ide berpikir baru. Tubuhmu pun mulai memungut lalu menjerang abjad yang berserak penuh sesak. Tubuhku mulai ringkih menatap ujung samudera yang hitam di batas langit. Aku tetap berpacu dengan sederetan tanda tanya. Apakah rasa cemburu perlu proyeksi dalam ruang geometri agar rasa itu tak kandas di ambang logika? Mencintai adalah kata yang putih. Mestinya kita menegasi aroma penghianatan. Sebab tubuh yang telanjang sudah jadi roh absolut. Dalam gerak dialektika spritualitas kita. Kita hanya perlu menuju serambi rindu. Menuntaskan debar dan amarah. Saat mendekap hasrat bulan purnama. (2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s