Katarsis

Penataan jerat jumpa membuat kita memaklumi realitas yang tak lazim. Mengecoh kenyataan di pundak angan. Mencoba memaksa harapan bersejiwa dengan waktu. Bukan dengan memberhalakan kemustahilan. Namun dengan mulai bergumul. Menimbang pembebasan dari penjara katarsis rindu. Meski dengan senyuman yang menggores kesedihan. Aku adakan perjanjian dengan hipokrit kepada bumi: Bahwa perpisahan adalah perjumpaan yang tertunda. Lalu kudekap ingin di gerbang pintu jarak. Menghibur diri dengan ingatan malam pembasuhan cawan terakhir. Saat kita bersekutu pada titik kulminasi kesatuan semesta. Maksud hati ingan memasuki surga, ternyata kita menemukan lubang neraka. Namun itulah malam terakhir paling indah sebelum tubuh kita meregang pada kutukan setan kesementaraan.

Kini. Di sini. Tubuh kodrati bertapa di antara awan legam yang retak. Tak kuasa mempercepat laju kilometer. Walau suara segala horizon semesta menderu, memanggilku untuk melekat. Membubuhi tanda tanya dengan ciuman panjang. Dan kau perlu tahu, aliran listrik tubuhku telah meronta ingin pulang kembali ke pangkuan kesadaranmu, bersama kilat dan guntur. Karena burung-burung dab ikan-ikan di sekelilingku tetap membuatku tak bergeming pada transformasi. Namun, kau sudah tahu, bahwa bayang-bayang kecantikan modernitas sudah kedaluarsa. Telah kubongkar ulang defenisi, bersama keringatmu yang pernah terlempar ke mulutku dengan lugas. Pun telah kuhancurkan siluet moralitas dalam teks-teks raksasa. Lewat getar lahar gunung yang nir-kepentingan. (2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.