Melar

Telah kita maklumkan mimpi dan kenyataan yang menguban. Dalam serangkaian tunggu. Berkubang pada gagasan jarak yang keriput dan melar. Rotasi bumi yang melambat kita jadikan sekutu sekaligus seteru paling biadab. Perlahan kita maknai sebagai sebuah kesengajaan paradoksal. Tanpa harus membuat defenisi apapun tentang arloji dan kebetulan. Koordinat yang menjauh bukanlah rangkaian kondisi atau situasi kesesakan. Meski saling menunggu tubuh dengan gengsi epistemik. Oposisi biner kedua kutub perbedaan sudah kita anggap keniscayaan. Layaknya ketakberdayaan menolak denting kematian. Sebab hidup pun terberi begitu saja dari ketiadaan. Namun bukan peristiwa kebetulan saat Tuhan dalam keisengan.

Tubuh kita pun hendak melekat mencari muara pemenuhan. Dengan tekun menjahit kerudung imaji berwarna realitas yang penuh bercak. Oleh langit yang tak pernah ingkar menghujankan peradaban. Menggenangi lekuk yang penuh tikungan dan kubangan. Demikianlah adanya kita dalam rentetan keanehan. Menikmati rasa cinta yang tak lazim. Merindui tubuh yang sesat dan mencemaskan. Memaknai hidup dengan melanggar diri pada dinding kemustahilan. Lalu kita menjadi enigma. Yang selalu tergoda untuk melintasi batas kekakuan dan kebekuan. Sehingga bermuara di bibir samudra kesepakatan: Kita yang ganjil adalah kita yang menjadi. Sebab keganjilan telah menjadi rasa dominan dalam tubuh. Melampaui kisaran kenormalan yang telah digoreskan oleh sejarah yang congkak dan monoton. Menanggalkan baju-baju kebudayaan yang telah usang. Kita ciptakan kita yang kohesif. Dalam sepi dan lapar tubuh untuk melekat. Serentak melantak mayawarna kerumunan. (2010)

Cemburu

Gemuruh angin dan ombak menderu. Bersama rasa cemburu merah jambu. Riuh mesin tua ikut mengaduk hati dalam adonan rasa yang pekat. Hanya karena seuntai pesan singkat penuh canda. Kita pun mulai mengutub. Utara dan Selatan. Dalam tubuh yang bergesekan di halaman belakang. Kau bertekun dengan telepon selulermu. Dan aku membisu pada sebatang rokok yang mengepul mengecup asap kapal. Detak dan nadi mulai berpacu mengikuti kecepatan. Mengekalkan prediksi dan kuantifikasi yang diam-diam mulai mengharu biru.

Namun tubuh ini paham benar. Bahwa rasa cemburu adalah keniscayaan. Dalam gerak peziarahan kemesraan. Sebuah keharusan untuk ide berpikir baru. Tubuhmu pun mulai memungut lalu menjerang abjad yang berserak penuh sesak. Tubuhku mulai ringkih menatap ujung samudera yang hitam di batas langit. Aku tetap berpacu dengan sederetan tanda tanya. Apakah rasa cemburu perlu proyeksi dalam ruang geometri agar rasa itu tak kandas di ambang logika? Mencintai adalah kata yang putih. Mestinya kita menegasi aroma penghianatan. Sebab tubuh yang telanjang sudah jadi roh absolut. Dalam gerak dialektika spritualitas kita. Kita hanya perlu menuju serambi rindu. Menuntaskan debar dan amarah. Saat mendekap hasrat bulan purnama. (2010)

Sengau

Kuakui, aku pernah mencintaimu dalam suatu masa. Membangun mimpi. Merajut imaji dan imajinasi liar, menerobos ambang batas kenormalan. Tapi itu sudah berlalu. Aku bukanlah matahari yang setia bersinar hanya untukmu. Yang pasti aku masih punya cahaya itu. Kini memancar pada liyan, “yang lain”. Sebab setiap manusia berhak memperjuangkan kata cinta yang purba itu. Ya!, dengan memberi, hanya memberi, tanpa mengharap kembali.

Energi cintaku tak pernah tandas di ujung senja. Kekal. Hanya mengalami perubahan medium. Senantiasa menghablur dari alam sadarku. Ternyata rindu itu bisa juga berpindah pada yang lain. Oleh karena itu, mulut tak harus menyalahkan waktu yang menikung dalam ruang relativitas. Itu gerak perjalanan sejarah yang tak perlu dimengerti genesanya. Karena aku bukan pencipta sang waktu itu.

Tak mungkin juga aku terus-menerus menyirami bunga yang tak mengharap air hujanku. Kamu bunga, sudah mempunyai segala kepenuhan. Apa aku menjadi tidak tulus? Ketulusan dalam kepasrahan adalah keharusan. Ini bukan kompromi. Bukan pula pembenaran. Serpihan tubuh kita yang menguban dalam gerutu hanya mengapung begitu saja dalam samudera kehidupan.

Jangan pula kau tanyakan pada rumput dan ilalang: mengapa langit tak seindah dulu. Pula aku sudah lupa puja puji yang kehaturkan bersama katak-katak di tepian telaga. Itu bukan pengkhianatan. Itu hanya ayunan bandul jiwa dalam koridor keterbatasan yang menjadi hakekat kedirian kita. Itu juga bagian dari kosmos dalam jejak kacau partikular yang pernah kita cumbu dalam selaput otak kanan kita.

Boleh saja kau anggap aku seorang pemabuk. Adakah yang lebih jujur dari seorang pemabuk? Tapi kali ini aku mabuk dalam kejujuranku. Yang mungkin kau nilai sebagai absurditas yang berpilin dengan kekaburan dalam labirin yang mengambang. Tapi inilah kotakku. Kotak yang tak bisa dipenjara dalam sentimentil perasaan. Dan maaf bila rasionalitas harus menjadi faktor penentu yang tak bisa kita nafikan keberadaannya. Inilah pengakuanku: aku tak mencintaimu lagi. Bukan berarti aku harus membencimu. (2010)