Ini, Itu, Begini, Begitu

John

oleh: Harri Gieb

Telah kami sempurnakan kesedihan dengan melanjutkan usia yang menggerutu. Sebab diri adalah tubuh yang mendua karena keputusan-keputusan. Pikiran yang terlalu terbuka membuat kami bebal dengan keyakinan. Karena kami tahu, hidup tak sepenuhnya bisa diprediksi. Mitos selalu berhasil membawa kami ke dunia entah. Membuat kami kerdil. Sedemikian kerdilnya. Sehingga tidak bisa membedakan. Apakah ini tikungan atau Tuhan? Kami sepakat, tidak karena percaya ini dan itu, kemudian hidup kami menjadi utuh. Tetapi karena kami menyeru sekian alam, hidup kami menjadi. Karena kami menyimpan pertanyaan, hidup kami menjadi. Karena kami meracau, hidup kami menjadi. Karena kami tersungkur, hidup kami menjadi. Karena kami kosong, hidup kami menjadi. Kata adalah kesalahan pertama yang kami maklumkan. Sebagai penanda, bahwa tak semua hidup dibangun dari kisah yang bahagia. Tetapi kami tak risau. Tak pernah. Selebihnya, kami berjalan dengan kemustahilan. Dan kau tahu. Kemustahilan itu selalu tak diakui. Ada orang-orang yang mengamini sebuah kami, tapi mengkafirkan kami yang lain. Justru karena sebab itu, kami menjadi enigma. Kami seperti sesuatu yang mustahil, tapi banyak artinya. Setidaknya dengan begitu kami jadi paham, dunia tetap ramah dengan kesepian, dalam kesepian. Kira-kira begitu, John. Tiap kali kami berkaca bersama, kami diingatkan, mimpi adalah jejak yang tidak satu.

Gieb

oleh: John Ferry Sihotang

Ya. Bahwa mimpi memang bukan jejak yang satu. Kami membangun mimpi-mimpi dalam tanda tanya tak berujung. Tak sanggup menjawab semua pertanyaan ganjil. Hingga kami puas dalam muskil: bahwa nilai pertanyaan sama dengan jawaban. Boleh saja kau anggap ini perdamaian yang semu. Tepatnya, kami membiarkan menggantung. Membiarkan ada menjadi. Dengan perlahan membuang segala kenangan, ke dalam lubang kemustahilan. Mencoba membentuk tubuh perlawanan. Menanggalkan beberapa pakaian usang, bersama penanda tubuh kami yang terburu-buru ingin menelusuri hasrat kelana bulan purnama.  Namun  kami tak ingin membiarkan sungai bermuara dengan cepat. Cukup bergoyang bagai bandul, mencari kami yang lain: keseimbangan sebuah enigma.

Begitulah cara kami mulai menikung dalam kiri. Dengan Menghibur prediksi dan menemukan Tuhan. Mengekalkan kembali semua ingatan tentang sapa dan jumpa yang hadir begitu saja, tanpa pembicaraan tentang rinai hujan atau debur ombak. Kami hanya mampu berkompromi dengan defenisi. Dalam perbedaan sejauh timur dari barat. Dalam uban, keyakinan, dan entah. Hingga kami lelah dengan kutub. Lantas mencoba kafir bersama dalam debar yang bergetar. Berlari memunguti puncak yang ultim diatas semua puncak yang lain.

Kira-kira begitu, Gieb.

John

oleh: Helena Adriany

ketika kau datang, John. tanganmu menggenggam mesin penafsir yang telah beranjak meninggalkan musimnya. yang membuatmu mengikuti jejak-jejak yang tak menuntunmu kemana-mana. tetapi menuju kepada mimpi yang sedang dibangun di atas kemustahilan.

kau tercengang memandang imajinasi yang bergerilya menguntit chaos yang dibangkitkan oleh tubuh. maka kau bertanya tentang hujan dan petir yang tak pernah membuat galau kaki langit. karena kau sedang berusaha meredakan kisaran jutaan serat yang menamparmu dari semua sisi.

kau terbentur pada mitos yang diibangun untuk mengabadikan apa yang kedaluarsa namun kau tak hendak mengabaikan esensi yang bermain-main di kesetaraan. perjalanan bukanlah jawaban atas pertanyaan. tak ada yang berimbangan dengan harapan. maka ada logika yang merasionalisasi yang diperlukan, meski iman bukan hal yang mustahil mendatangkan jawaban-jawaban.

Helena

oleh: John Ferry Sihotang

Di kaki langit yang mencium ujung samudera aku pancangkan harapan . Aku sedang berenang menuju kesana. Masih mengambang, mengapung, mengayun. Perlahan mengayuh, terombang ambing. Begitu banyak karang dan lumut menghadang. Ombak dan badai pun memecutku tuk berlari. Hujan dan petir juga menghardikku untuk memberangus amuk serat galau. Akan tetapi, segala rintangan tak membuatku menyerah pada langit yang menghujankan kelaziman.

Kuakui, aku sudah mulai jengah dengan posmodernisme. Walau aku bukan seorang moralis. Aku mulai melirik kearifan lokal. Mulai bersekutu dengan ikhtiar udik. Dan aku bangga dengan identitas kampunganku. Walau aku masih linglung di beberapa tikungan. Tapi aku terima realitas dengan lantang. Aku hadapi dengan tenang di tebing kesadaran. Dengan mencoba mengurai tiap kemungkinan dari mesin tafsir yang purba. Iman dan cinta kasih memang kerap melekat. Tapi harapan itu tetap menjadi pencarian. Dalam perjalanan, perjalanan keheningan. Mencari ada, mengada, dan menjadi.

Kira-kira begitu, Helena.

Gieb, John, Helena

oleh: Cepi Sabre

menarik memperhatikan bahwa gieb adalah perjalanan, adalah racauan. melompat dari satu tikungan ke tikungan yang lain. gieb si pejalan kaki.

di sisi lain, john sedang mencari. atau menemu. atau berdamai. dalam istilah helena: mendatangkan jawaban-jawaban. meredakan tamparan yang datang dari segala sisi.

perjalanan gieb adalah perjalanan menjadi bukan mencari. kupikir. kira-kira. jadi helena benar, mengikuti tidak membawamu ke mana-mana. di titik ini, kupikir, es batu itu, sungguh diperlukan.

Cepi

oleh: John ferry Sihotang

Pencarian kebijaksanaan sudah jadi keniscayaan. Dan anehnya, aku bahagia dengan pertanyaan. Bermetafisika. Membuatku mengesampingkan jawaban. Karena aku menemukan kepuasan di tiap kemungkinan. Mencoba menafsir, mengurai, lalu membongkarnya. Berulang-ulang. Bukan dengan kompromi. Tapi memeluk semuanya dengan tegar. Aku pun tak mau terjebak dalam dikotomi: mengikuti atau menolak. Bukan pula mencoba membuat seolah semuanya relatif. Tak selamanya juga menguduskan tubuh paradoks. Namun dengan mengakui adanya kemungkinan. Bahwa jejak chaos partikular itu sudah bagian dari kosmos tubuh kita. Anggaplah aku hanya si bayi mungil pemilik mata polos dan kosong. Yang melihat semua dengan cakrawala baru.

Aku masuki kereta bersama para peracau. Dan di stasiun racau itu aku menemukan kebenaran masa kecilku. Bisa Tuhan bisa entitas lain, seperti kekasih atau es batu. Berkelebat di ujung kutub yang tak mampu terurai dengan absolut. Hanya membiarkan saja. Berjalan, merangkak, sesekali melompat, entah sampai kapan. Menggantung di bibir labirin keentahan. Lalu aku dan dia, kami, bergulat disana. Membuat deklarasi dengan tanda koma. Berdarah-darah mencari jalan keluar. Dan kami tersesat disana. Dengan sangat nyaman.

Demikianlah kami adanya, Cepi.

John

– oleh Helena Adriany –

ketika galau tak juga hendak beranjak meski tanganmu telah menggapai di keleluasaan, ada sekelumit kehendak untuk menuntaskan kejemuanmu. peradaban bukanlah musuh utama humanis, meskipun lebih jauh dengannya akan membunuh sebagian besar naturalis. kau yang tak pernah diam mendadak membatu kala berhadapan dengan yang tak tersentuh. akal sehat. diam-diam kau mengamini yang jauh dan beku sementara dipangkuanmu kau mendapati yang meleleh dan menghangatkan cawan adalah membingungkan. kau tantang matahari dengan sejuta kemungkinan yang membahas absurditas namun mengabaikan semilir angin yang datang dengan jawaban bagi hari ini. andaikan bening telaga dapat menghentikan larimu dan mengajakmu sejenak berkaca. dengan tinggal tenang dan percaya disitulah terletak kekuatanmu.

Gieb, John, Helena, Cepi

– oleh Awan Hitam –

“Tiap kali kami berkaca bersama, kami diingatkan, mimpi adalah jejak yang tidak satu.” (Gieb)

“Kami hanya mampu berkompromi dengan defenisi. Dalam perbedaan sejauh timur dari barat. Dalam uban, keyakinan, dan entah”. (John)

“Maka ada logika yang merasionalisasi yang diperlukan, meski iman bukan hal yang mustahil mendatangkan jawaban-jawaban”. (Helena)

“Tapi aku terima realitas dengan lantang. Aku hadapi dengan tenang. Dengan mencoba mengurai tiap kemungkinan dari mesin tafsir yang purba. Iman dan cinta kasih itu memang kerap melekat. Tapi harapan itu tetap menjadi pencarian”. (John)

“Di titik ini, kupikir, es batu itu, sungguh diperlukan”. (Cepi)

“Dan kami tersesat disana. Dengan sangat nyaman”. (John)

“Diam-diam kau mengamini yang jauh dan beku sementara dipangkuanmu kau mendapati yang meleleh dan menghangatkan cawan adalah membingungkan”.(Helena)

**

Tulisan yang bersahutan dan seolah olah dari barat menuju timur dan kembali berputar ketimur menuju barat. Hehehe. Berecerita tentang yang ini dan yang itu.Mengingatkan sebuah lagu dari Broery. Hehehe. Peace sahabat semua.

Aku setuju sekali, tulisan ini menyimpan dan penuh makna bagi masing masing penulisnya. Berbicara tentang mimpi dan harapan seperti bait dari Gieb, yang menyatakan bahwa mimpi adalah begitu beragam dan penuh kemungkinana, dan menyadari diri bahwa mimpi satu sama lain bisa berbeda dan tidak sama dan menyadari diri dan dia adalah sebagai individu yang unik dan memiliki kebebasan namun disitu juga terletak kebersamaan yang menguatkan dengan menyadari perbedaan itu.

Kemudian John berbicara tentang apa apa yan perlu dibuat komitmen dalam rentang perbedaan yang ada.Tentang definisi dan tentang kesepakata, yach mungkin begitulah jalan tengah untuk menyesuaikan diri dalam kebersamaan itu.

Dan Helena menekankan bahwa untuk hal itu diperlukan suatu rasionalitas, ataukah iman, untuk meyakini hal itu, sebagai jalan untuk menguatkan satu sama lain. Dan mudah-mudahan dapat ditemukan suatu titik temu dalam menyatukannya. Sebagai jawaban jawaban yang mungkin yang bersifat melegakan dan kompromistis.

John kembali menekankan tentang suatu hal perlu keyakinan: bahwa harus diyakini diri sepenuh hati, untuk menerima realitas secara lantang, dan pencarian untuk pemahaman diri atau pun entah itu, entah sebagai kebersamaan, ada jalan lain: jalan harapan yang kuat.

Selanjutnya Cepi mennjukan bahwa es batu adalah dibutuhkan,mungkin dimaksudkan untuk berpikir kembali secara dingin atau berusaha untuk menyegarkan diri dalam pemaknaan yang mungkin.Mungkin Cepi suka sekali dengan es batu, ataupun minum es, untuk mendinginkan kepala dalam mengahdapi realitas yang terjal dan berliku.

Mungkin bagi sebagian orang, diri dan dia, mungkin tersesat, namun seperti tersesat dihutan dan menemukan rumah kayu sunyi, dan distu diri dan dia merasakan nyaman dan saling menemani dalam kesunyian. Begitulah John menimpalinya.

Akhirnya, Helena menutup dengan kembali menyadari realitas bahwa semua yang di bicarakan bahwa tentang ada yang jauh, bahwa ada yang jauh yang membentang. “diam-diam kau mengamini yang jauh dan beku sementara “. Apakah itu beku sementara? Semoga buliran di cawan menyadarkan selalu menujukan pertemuan dan harapan.***

*Hasil diskursus racauan yang entah

Review Buku: Menunggu Itu Menyenangkan!

Serangkaian Tunggu

by Helena Adriany
Details: Paperback, 110 pages
Published: August 2010 by Mijil Publisher
Isbn13: 9786029690118

Oleh: John Ferry Sihotang

Apakah menunggu itu harus jadi kegiatan membosankan? Tidak! Lewat buku puisi ini, Helena memberi makna lain dengan merangkul ketersituasian tunggu itu sebagai peristiwa menyenangkan. Menunggu apa? Terserah, boleh apa saja; menunggu bis, kereta, kekasih, kematian, Tuhan atau apapun. Menunggu – pada suatu ruang, berhitung dengan jarak, berpacu dengan waktu – tentu sudah jadi keseharian hidup. Ihwal menunggu ini tentu menjadi rangkaian berulang sepanjang sejarah manusia, seperti kata Helena dalam‘siluet’puluhan kali/ aku kejutkan petang ini/ dengan memanggil namamu (hal. 1).Saat menunggu itu pun dijadikannya permainan yang tak lazim:  menghardik, mengejutkan waktu atau suasana itu. Dan “petang”, sandaran jiwa tualang para penyair itu, menjadi kredo dalam buku Serangkaian Tunggu ini. Tanpa kebetulan, di petang itu, penyair ini menjadi saksi: saat sang siang menyelinap, memasuki serambi malam; atau kala jemari malam menggamit jemari siang.

Petang itu juga – ‘senja abu-abu’, tulis Helena pada kepingan lain – bisa jadi metafor retaknya hidup. Tak bisa direduksi dalam dualisme Descartesian: siang-malam, terang gelap, atau hitam-putih. Sepenuhnya retak, abu-abu. Mungkin saja penyair ini jengah dengan absolutisme dan fatalisme manusia yang kerap terjebak dalam dikotomi benar-salah, baik-buruk, haram-halal, dsb. Dengan mantap Helena menghidupkan suasana itu dengan kesadaran penuh: sebagai ‘petang’ saja. aku timang hari dalam pelukan/ berbantalkan kesadaran berselimutkan gairah/ terbang gapai barisan burung-burung menjelang petang (hal. 63). Dipeluknya zona abu-abu yang remang, yang temaram itu. Jiwa bebas penyair ini- yang riang oleh barisan terompet nafiri senja – terbang bersama burung-burung yang memasuki gerbang sarang, pulang memeluk anak dan bini/laki. Keterkondisian tunggu justru membuat penyair ini bahagia. Hingga menjadikan tunggu itu sebagai habitus baru yang dikuduskannya. Pun keretakan petang itu ditatap serentak dipeluknya dengan ikhlas: untuk hanyutkan kerinduan/ lampaui batas-batas badai. Menjadi Serangkaian Tunggu diri yang puitik. Melampaui batas-batas permisif manusia dalam menghalau amuk badai kehidupan. Dan petang itu bisa ditarik menjadi kekinian,hic et nunc, merenungkan siang – yang telah lalu (perfectum), dan mengendapkan rencana malam – yang akan datang (futurum), atau ‘waktu kedua’, istilah Hudan Hidayat.

Helena Adriany – yang konon seorang Geofisis – tentu akrab dengan bidang Geologi. Mengakrabi lapisan dan lekuk bumi yang solid seperti gunung, lembah, gurun, samudera, batu, dll. Penyair Helena juga menerima keberadaan vulkanisme alam yang bisa menyemburkan ‘lahar’ problematika hidup: getaran gunung-gunung mengguncang bawah sadar/ hadirkan tanya tak bertuan, sapa tak bermula, lantunkan/ tembang cicak melesak lubang tembok/ … sementara rasa sesak/ hancurkan gunung batu, hadapkan padang gurun berdebu (hal. 103). Disiplin ilmu bumi, geologi – yang sarat interpretasi itu – ditekuknya, dijadikan permenungan akan hakekat kosmos tubuh untuk melawan kesesakan hidup.

Pula latar belakang Geofisika itu menjadikannya dekat dengan disiplin ilmu pasti alam, Fisika. Dengan tekun, penyair ini meletakkan banyak diksi istilah fisika, termasuk dalam empat puisi ‘dentum energi’ hidup di tatakan bahasanya (hal. 34, 48, 49, 64). Dalam puisi lain, penyair – yang kadang ‘riuh dalam senyap‘ ini, menyadari kompleksnya tubuh fisik dunia ini sebagai wahana tak bertepi/ media tak terdeteksi, lantas memberi gaya bagi peredaran/ bahkan bergerak lepas atau bertumbukan (hal. 15). Namun penyair ini tak mau terjebak dalam labirin hidup yang rumit itu. Pada momen menunggu itu, Helena membawa pisau sepi  setajam gergaji listrik, memilah gravitasi dalam medan magnet, sambil berteori: apakah waktu berhenti?/…biarkan kekal rotasi pagi menjelang siang/ biarkan kekal siang berganti malam/ … selamat jalan badaiku! (hal. 50).Layaklah bagi siapapun mendapatkan kristal kebahagiaan dalam pengharapannya. Sebab dalam keyakinan, kita yang optimis selalu sepakat: badai pasti berlalu.

Penyair ini memang dikaruniai banyak talenta. Akrab pula dengan cabang filsafat seperti metafisika sampai metodologi keilmuan seperti fenomenologi. Hal itu terlihat dari puisinya yang berjudul ‘realitas’apakah tidak dan apakah ya/ apakah ilusi dan apakah fakta/ apakah kesunyian dan apakah keramaian/ apakah kebebasan dan apakah tanggung jawab (hal. 106). Helena tidak terjebak dengan dikotomi semata untuk menelisik jejak-jejak kebenaran. Semua entitas itu dibenturkannya. Tangan penyair yang paradoks ini seolah membawa palu dekonstruksi dalam rangkaian tunggunya untuk menghancurkan belenggu lumpuh dan tembok penat: ada godam menghantam dadaku/ berkeras hancurkan keberadaan/…ada kemudaan membongkar waktu/ menjadi ruang acak tanpa sumbu/… apakah yang sesungguhnya merdeka/ bahkan peralihan pun terikat pada energi yang terformulasi (hal. 47). Duh!

Bolehlah di awal milenium ketiga ini kita permaklumkan sebagai kelahiran angkatan sastra-maya, dan Helena menjadi salah satu punggawa kebangkitan kanon baru ini dalam kesusastraan kita. Mengapa pula para profesional seperti Helena ini bangkit membela puisi (yang tak penting?) itu? Aku tak yakin ada dosen di kampus Helena – institut paling terkenal di negeri ini – mengajari mahasiswanya berpuisi. Bahasa itu disadarinya sebagai medium untuk memaknai realitas hidup yang komunikatif. Lantas, dengan dan melalui puisi, bahasa dipersepsi dan dijadikannya sebagai perwujudan akan sublimasi dan transendensi jiwa. Penyair ini tidak mau hanya menjadi hamba sahaya kapitalisme. Memang dia bekerja di salah satu perusahaan oil and gas service paling bonafid di negeri ini. Dalam asumsi banyak orang; akrab dengan kemewahan dan hiburan. Tapi jiwa seni penyair ini tak mampu dikerangkeng oleh hingar-bingar materialisme semata. Sebagai mahluk yang estetis, Helena menyadari hal itu. Dia ingin membenahi hidup lewat seni yang sesungguhnya: lewat puisi-hidup. Sebab keindahan adalah kebaikan dalam eksistensi kemanusiaan kita.

Hampir di seluruh larik puisinya bernada ketegaran, sekokoh batu karang. Dalam kondisi‘sesak’ sekalipun dia memaksimalkan ketegangan/ tanpa sekalipun membaca ujung-ujung beban (hal. 73). Beruntunglah saya pernah berjumpa dengannya. Memang Helena terlalu perkasa berjalan di atas trotoar atau berlari menyeberang jalan menegasi sisi feminin dirinya. Namun dia sangat  keibuan untuk satria lanangnya bila kita katakan sangat maskulin. Helena ini – yang belakangan senang “meracau” dalamNotes para sahabatnya – menyukai kata ‘berimbang’. Dan mungkin itulah dirinya. Berimbangnya sisi maskulinum dan femininum dalam tubuhnya yang berjiwa. Uniknya, Helena mengakrabi beragam diksi – istilah genus latin – Neutrum; seperti guntur, hujan, ombak, garis pantai, kilat, air terjun, batas samudera, dll. Dan dalam memandang hidup yang penuh persimpangan pilihan, penyair ini sangat tegas dalam ruang tunggunya: membakar jembatan di belakangnya saat mengambil keputusan.

Rupa-rupanya, ‘serangkaian tunggu’ itu tak melulu gerutu pikiran kebosanan atau kerutan dahi kemurungan. Rangkaian menunggu bisa kita jadikan rangkaian perjalanan mencandra keheningan (einsamkeit), membawa kita berada dalam kedekatan esensial dengan segala sesuatu, kata Heidegger. Dalam keheningan tunggu itu: kita surut ke belakang, mengambil jarak terhadap hiruk dan kutuk kehidupan yang sarat dengan pertarungan kapital dan perburuan kekuasaan. Menunggu bisa dilihat juga kecemasan eksistensial yang menyenangkan, mundur sejenak dari ketergesaan hidup. Pula bisa dijadikan menguji kesabaran atau merengkuh kebebasan yang bertanggung jawab. Penyair ini membuat re-defenisi kata ‘tunggu’ itu bukan sebagai balada monolog yang absurd, atau elegi basa-basi yang redup. Namun digubahnya menjadi serangkaian ‘simfoni’ dan ‘hymne’ spritualitas hidup: “mengubah angan,  mendefenisikan kehilangan, menata penciptaan, mengekalkan rindu, menumbuhkan keintiman, memaknai perpisahaan, meniadakan dugaan dan penghakiman, hingga membangun antusiasme dan konstruksi kepedulian”.***


Postscript: Saran Helena, seperti yang sudah kulakukan, reguklah beberapa gelas jus wortel pakai susu coklat – jangan lupa es batu – sebelum membaca buku ini. Mata yang jernih dan kepala yang dingin akan sangat membantu pembaca dalam mengurai tiap kata dalam buku ini. Selamat membaca!

Review Buku: Berpikir Merdeka dalam Beragama

Pergolakan Pemikiran IslamPergolakan Pemikiran Islam

(Catatan Harian Ahmad Wahib)

first published: july 1981 by LP3ES

details: paperback 351 pages

Oleh: John Ferry Sihotang

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim”. – Catatan Harian 9 Oktober 1969 –

Ahmad Wahib adalah seorang muslim yang kritis dalam beragama. Ia menulis demikian: Lebih baik ateis karena berpikir bebas daripada ateis karena tidak berpikir sama sekali. Ya, walaupun sama-sama jelek (h.24). Ungkapan ini untuk memberi jawaban kepada orang-orang yang menyatakan: “Berpikir tentang Tuhan itu Haram!”. Bahwa mempertanyakan segala sesuatu, termasuk eksistensi Tuhan adalah langkah penting menghancurkan kedok hidup beragama yang makin buram akhir-akhir ini. Ahmad Wahib membentuk dirinya menjadi seorang muslim yang mau berpikir merdeka tentang Tuhan, Yang Maha Segala yang diikutinya. Dia mau menjadi seorang yang ‘nakal’ dengan menghalalkan berpikir semaksimal mungkin tentang Tuhan. Menjadi seorang muslim emosional saja tidak cukup, karena itu berfikir bebas dan bersikap terbuka merupakan suatu keharusan yang tak bisa ditawar-tawar (h.74).

Pemikiran dan visi yang benar tentang Tuhan yang benar mempermudah praktek hidup keagamaan yang benar. Walaupun kita mengatakan diri kita seorang sebagai penganut Islam, belum tentu bahwa pikiran kita telah berjalan sesuai Islam (h.23). Ahmad Wahib nampaknya melihat bahwa kedangkalan hidup beragama sangat dipengaruhi oleh keterbatasn visi tentang Tuhan. Iman pada Tuhan pun menjadi dangkal aplikasinya. Relasi dalam berkehidupan sosial harus menjadi pisau cukur untuk memangkas klaim-klaim beriman kepada Tuhan, khususnya kepada mereka yang beriman secara radikal. Bahwa beragama dan/atau beriman itu harus terlihat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam praksis hidupnya. Pada akhirnya, keberanian untuk berpikir membuka wacana tentang ketuhanan akan membantu manusia itu sendiri untuk memurnikan motivasinya menjadi pengikut Tuhan yang benar dengan cara yang benar.

Pluralisme Agama

Konsekuensi logis dari berpikir bebas adalah mengakui pluralitas keagamaan. Ahmad Wahib juga melihat bahwa agama bukan saja dipakai sebagai sarana menumbuhkan spritualitas personal, atau urusanku dengan Tuhanku. Melainkan sudah merambah pada kehidupan manusia di luar tembok masjid, gereja, pondok pesatren atau biara. Agama sudah masuk dalam percakapan dan tindakan di ruang publik.

Faktanya semua agama memang menawarkan jalan-jalan ke Tuhan. Terhadap fakta pluralitas agama itu, Wahib mencoba mendobrak tembok fundamentalisme sempit yang kuat di depannya. Karena tak bisa dipungkiri, peran publik agama cenderung diiringi kebangkitan fundamentalisme agama, dengan pengakuan agamakulah yang benar.

Absolutisme adalah sumber intoleransi (h.180). misalnya penyiaran agama Nasrani oleh banyak aliran ekstrim seperti babtis, Advent, Yehova dll; pada hakekatnya telah merendahkan nmartabat agama menjadi semacam barang dagangan atau bis kota yang merebut penumpang. Penangkapannya kepada kehendak Tuhan sudah diabsolutkan sehingga kemungkinan lain telah ditutup sama sekali. (h.181).

Mengapa jembatan dialog tidak dibuka untuk barangkali atau memang tidak dibuat?, tanya Alwi Shibab dalam bukunya Islam Inklusif. Ahmad Wahib mencoba mencoba membangun jembatan. Ia menganjurkan: bagi para pemimpin dan mubaliqh Islam, mereka harus lebih banyak merenung dan berfikir agar kotbah dan pidato-pidatonya terleps dari sloganisme sehingga massa umat dibimbing berfikir terang. Bagi pihak Katolik agar lebih serius memperhatikan hasil konsili Vatikan II 1965 yang tidak memutup jalan ke sorga bagi penganut-penganut Islam…karena sebagian dari mereka sampai sekarang masih berada dalam semangat pra-Konsili. Demikian juga pihak Protestan perlu ingat akan perkembangan-perkembangan baru dalam teologi Protestan yang tak lagi mengartikan kegiatan misioner sebagai penyebaran agama kristen, melainkan “memasyhurkan nama Allah” (h.183-185).

Ketiadaan jembatan komunikasi (dialog agama) telah menciptakan konflik horizontal yang sia-sia dalam bermasyarakat. Kekuatan hebat agama justru acap dimobilisasi untuk menciptakan sekaligus membangun konflik, seperti yang terjadi di Ciketing Bekasi beberapa hari belakangan.

Agama seharusnya menjadi ladang unutk menumbuhkan sisi-sisi terbaik kemanusiaan, baik personal maupun kolektif bagi pemeluknya. Nyatanya akses lembaga agama yang punya pengaruh kuat dalam bernegara – setidaknya di Indonesia- justru kerap merongrong kemanusiaan. Dengan legitimasi yang diperoleh dari dewan keagamaan, tokoh tertentu yang cukup berpengaruh atau mengutip salah satu sumber agama, maka seseorang bisa saja melukai dan bahkan membunuh orang lain (Alwi Sihab, 2001, h.147)). Katanya tindakan itu legitim karena dilakukan atas perintah Tuhan atau perintah agama (ibid h. 40). Padahal, saat agama masuk ruang publik, ia dan segala atribut yang melekat harus menjunjung tinggi hak asasi ruang privat yang dimiliki setiap orang. Kesimpulannya, sebagai faham as sich, setiap orang harus dihormati (hal.179).

Ulah Pecandu Agama

Orang ateis bisa berbuat baik. Orang humanis bisa berbuat baik. Orang non Islam bisa melakukan tindakan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Agama tidaklah memberi jaminan bahwa seseorang itu pasti berbuat baik. Lalu, mengapa ada kelompok yang menyebarkan kebencian dan kekafiran yang merajalela? Sebaiknya jangan terjebak!

Kabut gelap menyelimuti agama-agama dan kini kelihatan semakin kehilangan taringnya dalam kehidupan nyata. Seolah nilai-nilai spritualitas yang diusung agama itu hanya terbelunggu dalam gedung Masjid, Gereja, Vihara. Gedung-gedung keagamaan itu justru terlihat membuat jurang pemisah yang dalam dengan di pasar atau di jalanan. Apakah nilai-nilai hakiki yang diusung agama-agama itu masih konsisten hingga saat ini?

Ahmad Wahib melihat bahwa nilai-nilai Islam itu sendiri tetap, sedangkan penafsiran terhadap isi tiap-tiap nilai itulah yang dinamis. Kalau ada perubahan tentang apa saja nilai-nilai Islam itu, masalahnya bukanlah karena nilai-nilai itu sendiri yang berubah melainkan karena pengetahuan manusialah yang berubah dalam mencari-cari nilai itu (h.67). Sepantasnyalah kita belajar dari situasi jaman! Beriman kepada Tuhan secara kontekstual! (h.26-27). Nilai-nilai yang terdapat dalam agama itu hendaknya menyata dalam hidup sehari-hari tanpa menciptakan sekat atau distingsi yang tak perlu.

Yang mutlak hanyalah Tuhan, sedangkan mahluk-Nya termasuk “agama” adalah mati (h.127). Wahib hendak menegaskan visi yang benar dalam beragama. Bahwa simbol-simbol agama – kitab suci, dogma, ibadat – tidak mutlak (tapi perlu). Pun agama itu sendiri tidaklah mutlak. Memutlakkan yang tidak mutlak akan membangun sarang-sarang fundamentalisme yang kerap jadi nyinyir dan berbuah busuk; penghacuran kemanusiaan, narsisme berlebihan, pemaksaan kehendak dll.

Kenyataan pahit akan kaburnya bisi Yang Mutlak itulah yang membuat Wahib berpikir merdeka: dengan bertanya, mengejar, dan terus mencari. Mencoba menjembatani jurang pemisah antara penghayatan religius dan praktik ajaran Tuhan itu sendiri dalam kenyataan. Karena memang banyak jalan ditawarkan jaman, tetapi manusia itu sendirilah yang harus menentukan jalan yang sesuai dan cocok baginya, kata Frithcjof Schuon.

Para penggemar apalagi pecandu agama agar bersikap kritis dan dewasa terhadap jalan-jalan menuju Tuhan (agama dan kepercayaan). Seharusnya jalan mernuju Tuhan itu bukanlah sarana untuk pemuas segala kepentingan perut, egoisme dangkal dan nafsu-nafsu yang membabi-buta. Manusialah yang menunggang kuda, bukan sebaliknya. Bahwa agama ada untuk manusia, bukan sebaliknya. Karena itu, manusia harus menjadikan agama sebagai perwujudan kebebasan dari segala belenggu dan keterikatan yang membebani hidup. Akhirnya, dalam keyakinan itu pula, Wahib berharap kepada penggemar dan pecandu agama: bahwa setiap ucap-tindak pribadi merupakan pancaran dari iman yang memateri di pusat hayatnya (h.126). Emoh jadi orang munafik! (h.31).

Penafsiran yang Relevan

Para rosul dan nabi-nabi hidup dalam satu lingkungan konkret (di suatu ruang dan waktu tertentu dengan kondisi sosio-kultural tertentu yang melahirkan persoalan dan kebutuhan tertentu), mereka harus memberikan problem solving atas persoalan-persoalan dalam kondisi tersebut, tulis Louis Leahy. Bahwa para tokoh pun menjadi besar karena kecekatan mereka dalam menuntuskan masalah yang terjadi, seperti Muhammad, Yesus, Musa dan Abraham juga mengalami problem kehidupan yang menuntut pemecahan. Suatu kejelian dan kecakapan karena mampu membaca tanda-tanda zaman, lantas menginternalisasikan dengan iman yang menjadi pegangan hidupnya.

Demikian juga dengan persoalan agama akhir-akhir ini, ajar-ajar agama itu harusnya ditafsirkan sesuai tuntutan kekinian agar menjadi kontekstual: menghunjam kepada problematika hidup manusia yang sedang terjadi. Pada abad pertama dan kedua agama kristen dirasakan sebagai jalan pembebasan dari ketertindasan di zaman itu. Demikian juga, pada abad-abad keenam dan ketujuh agama Islam menjadi ladang subur kebebasan manusia secara otentik. Layaklah kita pertanyakan sekarang, apakah pembebasan itu masih terasa hingga saat ini? Bukankah sekarang terlihat bahwa keberadaan agama itu tak lebih dari sekadar pembatasan dan pengkotak-kotakan?

Mungkin bukan agamanya yang salah, akan tetapi penafsiran terhadap ajaran agama itu yang sudah kedaluarsa. Ahmad wahib menjawab, tak ada hukum yang melepaskan diri dari perkembangan masyarakat tempat hukum itu mau dilaksanakan bila hukum bertujuan untuk mengatur dan menyejahterakan masyarakat. Jadi bukan agama yang menyesuaikan diri, tapi fiqh (h. 59).

Bila agama ingin membebaskan manusia dari kemiskinan, ketertindasan, dan kejahatan maka jalan pembebasan yang harus ditempuh adalah pemahaman yang benar terhadap pesan-pesan sumber ajaran agama. Kalau kita sudah menerima untuk tidak menganut Quran dan Hadist secara letterlijk maka itu berarti kita sudah tidak puas terhadap ungkapan lahiriah dalam kalimat Quran dan hadist tersebut (hal.45). Teks kitab suci ‘hadir’ pada zaman tertentu, dalam kondisi dan keprihatinan sosial tertentu untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan tuntutan situasional saat itu. Maka, pembaca Al-Quran perlu membaca, menafsir dan mengejawantahkannya agar relevan untuk zaman ini (Shihab, 2001, h.244-250). Nilai-nilai Al-Quran dan hadist itu tetap, sedangkan pengejawantahannya terus berkembang kondisional. Ungkapan yang sudah tak relevan perlu ditanggalkan.

Kalau demikian, mengapa kita masih takut atau ragu-ragu untuk dengan tegas berusaha mencari ungkapan-ungkapan lahiriah yang baru dan relevan dengan gambaran dunia dan manusia zaman ini? (h.130). Misalnya tentang dikotomi halal-haram, kafir-sejati; harus sesuai konteks saat ini penafsirannya. Wahib menambahkan, saya pikir, yang kita tuntut bukan sekedar reinterpretasi, tapi suatu transformasi ide-ide Islam pada zaman yang sedang berjalan (hal.49). Itu yang dinamakan hermeneutika, penafsiran terhadap sumber ajaran Islam – dan agama lain dengan sumber ajarannya – setinggi dan setajam mungkin sekaligus real dan dapat dipahami. Hal penafsiran itu menjadi pokok yang tidak terelakkan untuk eksistensi agama itu sendiri. Sehingga ide-ide kitab suci itu tertransformasi kepada pemeluknya: menjadi quran-quran hidup, alkitab-alkitab hidup yang membahagiakan sesama.

Itulah tujuan penafsiran ajaran agama yang kontekstual: agar ajaran agama itu bukan dijadikan untuk merendahkan martabat manusia, melainkan harus mengangkat martabat manusia ke tingkat yang lebih luhur. Agar makin terangkat dari keterpurukan yang dialami dalam situasi sosial yang sekarang terjadi.

Penutup

Refleksi bertuhan dan beragama Ahmad Ahwib dalam “Catatan Harian” yang kontroversial ini masih aktual untuk kondisi religiusitas kita, yang terasa memuakkan belakangan ini. Berani berpikir merdeka untuk memerdekakan diri. Sehingga beragama menjadi kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan: di mana hati terarah ke surga dan kedua kaki tetap berpijak di bumi. Agar agama itu tidak menjadi sesuatu yang entah karena makin miskinnya sumbangannya kepada kemanusiaan. Agar keberadaan agama itu dirasakan kembali manfaatnya menjadi ladang subur bibit-bibit spritualitas hidup. Agar pemeluknya menjadi manusia-manusia merdeka yang otentik dan utuh sebagai mahluk rasional.

Saya tergugah untuk menuliskan pemikiran Ahmad Wahib ini, karena semakin maraknya pemeluk agama yang tidak bisa berpikir dalam beragama akhir-akhir ini. Selain itu, filsafat ketuhanan yang ditawarkan Ahmad Wahib bersifat universal, berlaku bagi siapa saja, bagi muslim dan non-muslim. Karena pluralitas keagamaan itu sudah jadi keniscayaan, apalagi ditengah kehidupan bernegara kita yang mengakui kebebasan beragama. Bahwa pluralitas itu bukan jadi penghalang bagi hidup justru diharapkan bahwa keyakinan hidup dan jati diri seseorang makin diteguhkan. Sejalan dengan para pemikir besar seperti Kung, Dannah Zohar, Whitehead sampai Kristeva menyakini: semakin intens kita berhubungan dengan ‘yang lain’, semakin kita bertumbuh menjadi diri sendiri. Semakin kita bergaul dengan mereka yang memiliki agama lain, (mestinya) semakin dalam kita memahami keunikan agama kita. Dan dengan itu, semakin bebas dan rileks pula kita bergaul dan toleran terhadap agama lain.***

Mari beragama dengan berpikir merdeka!


Sumber utama:

Wahib, Ahmad, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, LP3ES dan Freedom Institute, Jakarta 2003

Sumber Tambahan:

Leahy, Louis, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Kanisius, Yogyakarta, 1993.

Shihab, Alwi, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama, Mizan, Bandung, 2001

Widhiwiryawan, Alfonsus, Pemikiran Filosofis-Kontekstual Tentang Ketuhanan Ahmad Wahib, Dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXVII no.2, Jakarta, 2004.