Teologi Absensia

Oleh: John Ferry Sihotang

Ada-Tiada

His father said to him:
“Svetaketu, have you asked for that knowledge by which we hear the unhearable, by which we perceived the unperceivable, by which we know the unknowable.”

“Bring a fruit of that Nyarogdha tree.”
“Here it is, sir.”
“Break it!”
“It is broken, sir.”
“What do you see?”
“Some seeds, extremely small, sir.”
“Break one of them.”
“It is broken, sir.”
“What do you see?”
“Nothing, sir.”
“The subtle essence you do not see, and is the whole of Nyagrodha tree. Believe, my son, that that which is the subtle essence – in that have all things their existence. That is the truth. That is the Self. And that, Svetaketu, THAT ART THOU.”

Sepotong kisah di atas adalah percakapan Upanishad yang mendalam karena nilai transenden. Menggambarkan perjalanan kesadaran pengetahuan manusia: menuju kebenaran atau pengetahuan absolut. Percakapan diatas juga bisa dilihat sebagai perjalanan bahasa (teologis) dalam usahanya ‘mencandra’ realitas Ilahi, bahasa yang mengosongkan diri.

Buah dari pohon Nyagrodha bisa digambarkan sebagai konsep atau bahasa: representasi realitas kemanusiaan kita. Yang pertama terlihat adalah memegang bahasa –”Here it is, sir”. Bisa kita asumsikan sebagai bahasa katapatis (teologi positif), di mana bahasa bisa menangkap dan me-representasi-kan realitas. Usaha ini tentu tidak memadai untuk sampai pada intens sesungguhnya. Maka perlu dilakukan dekonstruksi bahasa yang ada itu – “Break it!”. Suatu dekonstruksi (pembongkaran) itu pun ternyata bukan jawaban final absosolut bagi kita. Dekonstruksi harus berlangsung dengan terus-menerus menegasi kenyataan positif dengan bahasa apopatis (teologi negatif), melahirkan ketiadaan – “Nothing, sir”. Bila berhenti disini berarti kita pasrah pada teologi negatif: bahwa untuk sampai pada realitas ilahi adalah usaha yang sia-sia (Bawono, 2008).

Namun kisah di atas tidak berhenti sampai di situ. Kisah itu hendak membicarakan ihwal sebuah elegansi dalam berbahasa karena disertai kesadaran akan ‘ada’ yang ‘tak hadir’, – “you do not see”. Yakni dibahasakan dengan melihat ketidakhadiran itu, sebuah absensia: bahwa ‘tak melihat pun juga sebuah penglihatan’. Dengan ungkapan lain, bahwa manusia memiliki kemampuan ‘mendengar yang tak terlihat’.

Dalam kacamata filsafat India, kisah diatas ditafsirkan mengenai Brahman (realitas Absolut). Bahwa pada akhirnya apa yang disebut sebagai realitas yang sejati adalah Brahman, atau berdasarkan teks itu sendiri, kekosongan (nothingness).

Hening

absensia – john ferry sihotang

“kekeringan hidup menjadi lukisan keseharian yang linglung dan bingung. kelemahan, kekerdilan, dan kerapuhan jadi warna pengalaman. penuh ketergesaan, kehampaan serta diburu busur kecemasan. aku mendamba sebuah ruang kesunyian. mundur sejenak, melepaskan diri dari ruang biasa, keluar dari lingkunganku. menjajaki kerinduan purba yang tak lekang oleh waktu: ruang hening. mencari yang sudah lama hilang, realiatas yang lain: dia-Ada. ingin kudengar yang tak terlihat dan ingin kulihat yang tak terdengar.”

Peradaban manusia pernah dan masih menjadikan ego (individualitas) sebagai titik gravitasi hidup. Dunia pun lantas mengalami kekeringan bathin. Dunia Barat, yang konon banyak manusia agnostik dan atheis, sudah lama meninggalkan dunia keagamaan. Mereka sibuk bertarung mengumpulkan kapital, memburu kekuasaan, dan lain lain. Manusia menjadi rapuh, lemah dan merasa kerdil. Semuanya seolah diburu oleh waktu. Tak ada waktu untuk jeda, untuk mundur kebelakang mengisi kekeringan diri. Manusia terjangkiti semacam penyakit disorientasi hidup dan kekeringan bathin yang parah.

Schillebeecks menawarkan sebuah jalan keheningan. Jalan keheningan yang membiarkan dia-Ada (Allah) menemukan ekspresi dalam karya nyata manusia. Hening berarti semata-mata membiarkan Ada menghadirkan diri. Karena spritualitas sekular adalah kebutuhan manusia pada umumnya. Ada kedalaman yang ingin diselami, ada misteri yang ingin dimengerti, ada diri sendiri yang ingin dicintai. Bara kehausan setiap manusia ini mengatasi batas agama. Agama-agama mustinya dapat menjawab kehausan, dahaga, kekeringan sekularitas ini.

Paradagma absensia akan menghantar manusia pada apa yang saat ini disebut sebagai ‘jalan heuristik’. Sebuah cara berpikir yang membetot aturan-aturan baku sebuah ilmu tawaran jaman. Semoga lewat segala tegangan yang tercipta menyeruaklah kemungkinan yang awalnya tak tampak (ketiadaan): menjangkau realitas yang lebih besar dari diri kita.

Teologi absensia menggiring manusia pada possibility of impossibility: bahwa Dia tetaplah misteri, dan kita diundang untuk memeluk misteri itu. Kita mencintai misteri tidak dengan mengerti atau memahami, namun ‘mengenal’ dan ‘menarikannya’, kata Tom Jacobs. Misteri itu bukan soal Tuhan, tetapi soal manusia, soal keterbatasan manusia (terutama rasionalitas dan bahasanya).

Sejalan dengan ini, Emmanuel Levinas memberikan jembatan bagi teologi untuk menghantar manusia sampai pada rasa cinta terhadap misteri. Di hadapan misteri itu dimungkinkan tercipta rasa “takjub” (wonder) yang bisa menenggelamkan manusia ke dasar misteri, bersentuhan secara intim dalam relasi dengan misteri itu sendiri. Levinas memberikan alasan sederhana: karena Tuhan/Allah adalah misteri, mencintai-Nya berarti mencintai misteri itu sendiri. Beranjak dari situasi etis manusia saat berjumpa, berkonfrontasi, dan berdialog dengan sesamanya, manusia bisa menyadari pihak ketiga yang selalu hadir namun telah ‘berlalu’ (“jejak Allah”) dalam diri manusia. Struktur ini yang bisa disebut situasi cinta, kata Levinas.

Bila Levinas beranjak dari situasi etis, fenomenolog Michel Henry menyarankan sesuatu yang lebih radikal: Allah adalah Hidup itu sendiri. Henry menampilkan kembali kesempatan yang selalu hadir, namun senantiasa luput, untuk menjumpai Allah: bahwa perkara ketuhanan adalah perkara pengalaman hidup itu sendiri. Mencandra pengalaman macam ini hanya dimungkinkan melalui gairah, jerih payah (passion). Passion tidak pernah bisa direpresentasikan, dan karenanya manusia tidak pernah memiliki passion, namun kita adalah passion itu sendiri, kata Henry.

Teologi absensia berarti perkara gerak kembali kepada hidup itu sendiri. Hidup yang terbentang luas dengan segala paradoks, ambiguitas, tegangan, atau ketidakmungkinan: hidup dengan segala misterinya. Singkat kata, teologi adalah sebuah panggilan untuk kembali mencintai hidup, dan itu berarti memiliki passion kepada Tuhan yang misteri: seperti misteri dalam kekosongan itu.***

Daftar Pustaka:

Bawono, Haryo Tejo, Teologi Absensia: Sebuah Tawaran, dalam Melintas, Vol 23, No.3/2008, hal 437 -458

Hardiman, F.Budi, Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar  Menuju Sein und Zeit, Jakarta: Gramedia, 2003

Levenson, Carl. et al, Reality, Indianapolis: Hackett Publishing Company, 1994

Sugiharto, Bambang,  “Logos  Without Substance: Wisdom as Seeing Throug the Absence”, dalam Dialogue and Universalism, Vol.XV, No. 1-2/2005, hal 157 -164

Daftar Pustaka:

Hardiman, F.Budi, Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar  Menuju Sein und Zeit, Jakarta: Gramedia, 2003

Levenson, Carl. et al, Reality, Indianapolis: Hackett Publishing Company, 1994

Sugiharto, Bambang,  “Logos  Without Substance: Wisdom as Seeing Throug the Absence”, dalam Dialogue and Universalism, Vol.XV, No. 1-2/2005, hal 157 -164

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s