Roh Cinta Absolut Hegel

Lupakanlah revolusi metafisika dalam cinta. Bila perlu kita harus membuat metafisika revolusi. Bukankah para Marxis ortodoks dan Marxis vulgar sudah mengebiri pemikiran Marx? Para neo Marxisme juga telah impoten karena mereduksi cinta pada materialisme semata. Persetan dengan revolusi dalam cinta! Yang kita perlukan adalah ‘redefenisi’. Karena semua sejarah percintaan tak lebih dari pengadilan dunia. Penuh asumsi negatif positif, halal dan haram. Kitalah pengasuh sejarah sendiri: yang menentukan apakah nafsu perlu atau tidak. Perjalanan sejarah roh cinta juga tak selalu harus lurus dan mulus, namun kadang mundur dan merosot, misalnya pada level perselingkuhan.

Kita perlu sebuah rekonsiliasi. Mendamaikan antara pikiran dan realitas. Bahwa rohmu mencapai kesadaran diri setelah kau mengalami alineasi. Tarasing akan kesendirian yang memenjaramu. Aku pun jadi kau-“asingkan” sebagai dirimu yang lain. Menjadi Subjek Sejarah pribadimu: sebagai seseorang yang unik. Penjelmaan historis roh kesadaran dirimu. Dan kita pun sudah sepakat dengan Spinoza: bahwa setiap determinisme adalah negasi. Bahwa aku terdefenisi melalui negasi yang bukan aku: para lelaki lainnya. Lalu ketertarikan emosional pun menentukan eksistensi kita. Membuat kita kerap mengutuk detik malam-malam yang terasa terlalu singkat.

Sungguh layak dan pantas, berpacaran membuat kita menolak dualisme Kant, noumena dan fenomena. Karena kita berdua adalah Hegelian sejati yang menolak dualitas. Kita telah sepakat akan jadi satu dibibir-Nya, sebagai realisasi Roh Absolut. Pula kemesraan selalu tersublimasi dalam praktik presetubuhan: pertukaran elektron cairan tubuh. Karena negatifitas pada hakikatnya adalah positif. Seperti peleburan keringat yang menghasilkan letupan-letupan kenikmatan. Itu pula jadi kredo negasi dialektis kita: ciuman menegasi kebekuan, sentuhan menegasi ciuman, desahan menegasi sentuhan, persetubuhan mengasi desahan, dan seterusnya sampai lahar Semeru tersemburkan. Itulah persebadanan yang paling konkret: totalitas persejiwaan.

Rupa-rupanya – ketika cinta berfilsafat – kita tak bisa menafikan konsep-konsep Hegelian: totalitas konkret, dialektika, negasi, dan kesadaran diri. Filsafat membuat kita utuh dan otentik sebagai subjek, yang kita yakini sebagai kebenaran. Begitu juga praxis dan roh keinginan akan menemukan jalannya sendiri dalam merealisasikan penyatuan hasrat dalam cinta.

Tetapi semua proposisi itu hanya Idea. Sekarang ini kita membutuhkan momen perjumpaan. Menerjemahkan dialog kerinduan di atas ranjang. Melakukan revolusi dengan langkah taktis dalam cinta: gerak kesadaran yang bersatu dalam gemuruh libido absolut. Yuk! (2010)

Daftar Pustaka:

Lukacks, Georg, History and Class Consciousness, London: Merlin Press, 1971

Sitorus, Fitzgerald, Menuju Dunia yang Filosofis (Rekonstruksi Historis Lukacs atas Roh Absolut Hegel), dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXVII, No.2, Jakarta 2004.

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s