Review Buku: Tuhan Itu Rasional?

Menalar Tuhan
by Franz Magnis Suseno

Published: 2006 by Kanisius
Details: 245 pages
Isbn: 9792110437

Oleh: John Ferry Sihotang

Di permulaan abad ke-21, orang yang percaya kepada Tuhan berhadapan dengan pelbagai tantangan. Pertama, meriapnya sekularisasi seluruh kehidupan yang mengacu pada Tuhan yang menguap, seperti yang marak terjadi di dunia Barat. Kedua, munculnya berbagai religiositas baru seperti New Age, Hare Krishna, dan agama/aliran kepercayaan baru lain. Ketiga, maraknya tendensi fundamentalisme baru yang fanatik seperti yang kerap kita saksikan di negeri ini.

Filsafat, dalam situasi ini, umumnya menganut agnostisisme: mencurigai dan menolak klaim-klaim kebenaran (truth claims) agama-agama, dan mendukung relativisme religius. Bahwa hal adanya Tuhan dianggap tidak dapat diketahui secara filosofis seperti suara rasionalisme kritis Kant: Iman kebal terhadap ‘falsifikasi’ (menyalahkan dengan bukti) dan karena itu tidak rasional. Pernyataan “tuhan itu ada” dan “tuhan itu tidak ada” sama-sama tidak memadai. Karena itu, lebih baik tidak membicarakannya. Banyak filsuf beranggapan bahwa agama/religiositas hanya urusan selera, estetika kultural, hingga imperialisme terselubung. Di sisi lain, para teolog cenderung menjunjung tinggi ‘fideisme’: Iman itu bagi yang percaya saja, tak ada itu pertanggungjawaban rasional.

Mempertanggungjawabkan Iman secara Rasional

Sebagai mahkuk rasional, sepantasnyalah manusia menggunakan rasionya termasuk dalam beragama. Pada tahun 2006, pernyataan Paus Benediktus dalam ceramah ilmiah di Regensburg, Jerman mengundang polemik internasional. Pro dan kontra terjadi hanya karena sebuah kutipan yang menimbulkan salah paham di banyak kalangan Muslim bahwa Iman dan rasio harus bersama. “Allah adalah rasional dan bukan irasional,” kata Paus. Iman harus dipertanggungjawabkan demi kejujuran intelektual itu sendiri. Menjelaskan iman dengan wahyu agama semata memang memenuhi kebutuhan psikologis akan kepastian: agamanya muncul dari Tuhan sendiri secara otentik. Lantas agama lain akan dianggap lebih rendah. Sikap ini membawa kecenderungan eksklusivisme narsistik, dan pada ekstrim tertentu mudah menjadi destruktif terhadap yang lain, misalnya praktik terorisme, bunuh diri massal, dan tendensi destruktif lain yang bertentangan dengan hakikat warta tiap agama; bahkan menggerogoti martabat agama itu sendiri.

Dalam buku filsafat ketuhanan (theodicea) ini, mempertanggungjawabkan iman bukan mau membuktikan eksistensi Allah itu secara hitam putih. Namun Franz Magnis mau memperlihatkan bahwa adanya Allah sangat sesuai dengan realitas alami dan sosial yang dialami oleh manusia. Hidup ini absurd, kata Camus, sementara pikiran kita tidak bisa menerima sesuatu yang absurd. Karena itu realitas alam semesta lebih mudah dimengerti kalau ada Tuhan. Maka, “Tuhan menuntut ‘dinalar’! Penolakan terhadap penalaran perlu ditolak,” ujar Magnis Suseno saat peluncuran buku ini di kampus Universitas Parahyangan, Bandung.

Tantangan-Tantangan Bagi Iman

Ateisme menjadi tantangan besar bagi kaum beragama. Buku ini membahas lima tokoh ateisme paling terkemuka dan paling berpengaruh atas pemikiran filosofisnya: Ludwig Fuerbach, Jean Paul Sartre, Karl Marx, Sigmund Freud, Friedrich Nietzsche, dan sedikit menyinggung model ateisme Albert Camus.

Ateisme abad ke-19 dan 20 lebih bersifat ‘ideologis’ dan bukan ilmiah. Marx/Marxisme memandang agama adalah sebuah ideologi, ‘sebuah candu rakyat’. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata menindasnya (h.72). Bagi Sigmund Freud agama itu sebuah ilusi infantil (kekanak-kanakan) dan neurosis kolektif masyarakat. Agama membuat manusia membawa diri seperti anak kecil: Ia menghadapi masalah-masalah nyata dengan ‘wishful thinking’. Masyarakat pun menjadi neurotik karena ketakutan yang berlebihan akan Allah atau ‘ayah super’ (h.84-92). Sementara Fuerbach lebih melihat Tuhan dan agama itu hanya proyeksi, hasil pikiran manusia semata (h.65).

Bagi Nietzsche, Allah, tepatnya kematian-Nya, merupakan ‘peristiwa baru paling besar’. Dan Nietzsche sendirilah pemaklum kematian Allah itu: “Tuhan telah mati!” Agama menurut Nietzsche hanya sentimen manusia yang hidup dan kalah, maka mengharapkan, sesudah hidup ini, kemenangan di alam baka. Nietzsche mengkritik agama, khususnya Gereja, yang selama waktu panjang mengalami kebobrokan moral (h.83).

Sartre sendiri – mirip dengan Nietzsche – lebih mengusung eksistensialismenya. Sartre membalik kalimat termasyhur Ivan dalam novel ‘The Brothers Karamazov yang ditulis oleh Fyodor Dostoevsky, “Kalau Tuhan tidak ada, semuanya boleh.” Menurut Sartre, kalau Tuhan ada, manusia kehilangan otentisitas dan kebebasannya. “Adanya Tuhan membuat manusia selalu merasa bersalah, berdosa, dan terus diawasi,” tulis Sartre (h.95).

Sedangkan Camus justru melihat dunia ini dipenuhi penderitaan dan ketakutan. Camus bertanya: “Kalau Tuhan memang Maha Kuasa, mengapa Dia membiarkan semua kejahatan dan penderitaan terjadi di dunia ini?”

Buku ini juga menanggapi dan menunjukkan bahwa ateisme-ateisme filosofis itu “gagal” membuktikan diri sebagai ajaran atau teori yang sah. Pertama, gagal membuktikan atau pun memberikan pendasaran objektif dan meyakinkan bahwa ‘Tuhan tak mungkin ada’. Semua filsuf itu tidak menyinggung pertanyaan fundamental itu. Kedua, gagal dalam usaha untuk memberikan penjelasan meyakinkan tentang fenomena agama. Ateisme harus memberikan penjelasan mengapa manusia percaya kepada Allah dan bersedia mengatur seluruh hidupnya sesuai dengan kepercayaan itu kalau tidak ada Allah (h.101). “Teori para atheis itu tidak tahan uji,” tulis Romo Magnis.

Namun Franz Magnis lebih melihat sisi positif dari ateisme itu sendiri. “Barangkali lebih penting adalah bahwa kritik agama Fuerbach, Marx, Nietzsche, Freud, dan Sartre selalu bertolak dari kenyataan dalam agama, dalam pola kehidupan iman orang yang percaya akan alam seberang, yang memang pantas dikritik,” kata Magnis (h.100). Unsur-unsur yang dikritik sendiri, seperti proyeksi, pelarian dari ketertindasan, pelarian dari tanggungjawab, ketidakdewasaan rohani; semua itu memang ada. Ateisme-ateisme itu harus terus-menerus menjadi tantangan. Berkat kritik mereka, agama-agama dibantu untuk terus secara kritis belajar dan membersihkan diri dan bergulat untuk merenggut kembali pesan hakikinya (h.101).

Pertanggungjawaban Iman

Menalar Tuhan itu untuk menangkis para penangkis, kata Franz Magnis. Lebih masuk akal kalau Tuhan itu ada, yang membuat semua keteraturan dan misteri alam semesta. Penghayatan kerohanian manusia – misalnya dalam suara hati – selalu bersinggungan dengan realitas mutlak yang benar, baik, dan memperhatikan. Adanya Tuhan membuat manusia lebih berani menghadapi masalah/kesulitan hidup. Sebagaimana disebut dalam novel Dostoevsky, bahwa Tuhan itu adalah Cinta. Dengan cinta, membuat manusia dapat hidup walau kebahagiaan menjauh, dan dalam kepedihan pun hidup terasa manis.

Betapapun Buku ini tidak terjebak dalam simplikasi masalah. Kejahatan dan penderitaan tetaplah jadi batu sandungan paling gawat (scandalum) mengakui keberadaan Tuhan. Misalnya tsunami Aceh dan gempa bumi di Padang beberapa waktu lampau, tetap menjadi misteri yang tak bisa dijelaskan secara ajek. Ilmu geologi hanya bisa mengatakan sepanjang Pulau Jawa bagian selatan dan Sumatera bagian barat berada dalam jalur busur vulkanik yang rawan terhadap gempa dan tsunami. Kapan hari H, jam J, dan tempat T tidak ada yang tahu persisnya. Itu tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan, mungkin sampai kapan pun. Franz Magnis berpendapat, orang beriman tidak perlu lari kepada penjelasan-penjelasan dangkal, murahan, misalnya “itu cobaan dari Tuhan karena dosa manusia.” Sebagai seorang Imam, Romo Magnis mengajak kita untuk berani menghadap masalah/kesulitan hidup; menunjukkan bahwa orang beriman mempunyai alasan untuk tetap menyerahkan diri dalam kepercayaan penuh kepada Tuhan.

Selain ahli filsafat, Franz Magnis dikenal juga sebagai seorang teolog. Naluri teologi itu pula yang terlihat pada bab terakhir buku ini. Teologi di sini menjadi pelengkap, khususnya ketika berhadapan dengan masalah ‘penderitaan’. Franz Magnis menghadirkan model paling baik dalam Alkitab dan Al-quran, yakni: Ayub. Penderitaan yang bertubi-tubi tak membuat Nabi Ayub lari dari kenyataan atau menyangkal Tuhan. Akan tetapi, dengan imannya yang teguh tetap mau berharap bahwa Tuhan tidak meninggalkannya. Harapan itu pula yang berbuah menjadi kebahagiaan di dalam iman. Di situlah iman mencari pengertian (fides quarens intellectum). Bahwa orang beriman yang berani mengikuti pertimbangan nalar filsofis justru diantar kepada iman. Di mana filsafat menyerah, iman dapat mengambil alih. Dengan perantaraan nalar pula agama sendiri dapat mencapai dimensinya yang lebih mendalam. Buku ini diakhiri dengan satu kalimat yang filosofis-teologis: “Hanya kalau Tuhan menjadi pertanyaan, Tuhan juga dapat menjadi jawaban (h.235).”

Buku ini layak dibaca semua kalangan, baik bagi kaum beragama, pun bagi para atheis yang menjunjung ideologi tertentu termasuk sains. Ikhtiar yang bisa disimpulkan dari buku ini: Orang yang berpikir jujur dan berkeyakinan humanis masih dapat percaya ke Tuhan. Dan agama tak perlu memusuhi nalar. Orang beragama pun tak perlu menolak nilai-nilai kebenaran yang diusung agama lain maupun nilai-nilai idealisasi yang dibawa para spritualis murni yang tidak beragama. Hidup nalar!***

Daftar Pustaka
Magnis-Suseno, Franz, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Leahy, Louis, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Yogyakarta/Jakarta: Kanisius/BPK Gunung Mulia, 1994

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s