Theodicea (Cinta) Dostoevsky

Kita memang pasangan realis sejati, laiknya Dostoevsky. Hidup dalam keterikatan perkawinan, berpaham komunal. Individualisme Barat tak berlaku bagi kita. Sebab individualisme hanya membuat kita jadi manusia gerombolan yang rapuh. The Brother Karamazov selalu menjadi buku pegangan kita. Aku seperti Zosima karena pernah menjadi calon rahib Katholik. Dan kau ibarat Sonia, yang pernah merasa begitu berdosa. Istilah manusia individual (Dasein-nya Heidegger) yang otentik selayaknya kita gugat. Karena kita tak kuasa mengenyahkan jiwa buana bernama kerinduan akan perjumpaan. Otentisitas hanya kebohongan besar yang pernah dipikirkan manusia. Juga rasionalisme – dalam kondisi tertentu –  hanya catatan pinggir tak penting. Sebab rasionalisme tak berhak memisahkan kita oleh usia yang terpaut jauh. Itu karena cinta. Dengan cintalah manusia dapat hidup walau tanpa kebahagiaan. Bahkan dalam kepedihan pun hidup terasa manis, macam bibirmu. Yang acap jadi pemicu utama memasuki labirin ciuman penuh ludah nan absurd.

Kesalingtergantungan ini pula jadi refleksi hubungan kita dengan tuhan. Bahwa kitalah penentu yang bernilai bagi kita. Nilai-nilai lama, termasuk tuhan lama, harus selalu kita daur ulang. Kondisi buram negara kita bisa menjadi landasan kritis mengenai paham ketuhanan. Walau kerap terjadi pertengkaran karena masalah penderitaan dan kejahatan membuatmu ragu akan Tuhan yang Maha Kuasa. Tapi kita berdua memang ganjil. Pertengkaran yang hebat selalu berakhir dengan persekongkolan ranjang yang tak kalah hebat. Kita berdua memang sosialis juga – sama rasa, sama persepsi – seperti tokoh Raskolnikov yang mengutuk sistem kapitalistik. Meskipun masa pacaran kita dulu seperti Ivan Karamazov yang beranggapan “Tuhan tidak ada, maka segala sesuatu diperbolehkan”. Adagium itu jadi batu penjuru eksistensialisme. Namun pernikahan kita sudah memfalsifikasinya. Kitalah penentu perubahan dunia cinta. Karena cinta (kasih) adalah Tuhan, maka tak ada ruang untuk keraguan.

Meskipun kita pemuja Nietzsche, kita selalu menolak nihilisme. Nihilisme tak lebih dari utopia yang mengklaim diri otentik secara individual. Nihilisme juga tak sanggup bertanggungjawab atas ledakan dinamit kegilaan Nietzsche. Memang kegilaan perlu. Tetapi nilai universal juga perlu (mis. persetubuhan adalah hal mutlak untuk gerak evolusi kesadaran), yakni kebahagiaan. Pun kebebasan sejati kita peroleh bukan karena paham nihilisme, melainkan dengan jalan mengimitasi: mengimitasi Yesus, Muhammad, Budha, dan Sidharta. Pengorbanan mereka begitu konkret bagi kita untuk bebas bertindak.

Pencarian makna hidup pun menancapkan tonggak kesimpulan: “Bila tuhan  tidak ada, maka kita akan menciptakannya!” Tuhan sebagai sebuah ilusi memang bisa terjadi sebagaimana Ia bisa dikatakan bukan ilusi. Nyatanya manusia acap membentuk ilusi. Bukankah pendapat “Tuhan ada” dan “Tuhan tidak ada” sudah berlangsung berabad-abad dan selalu terbentur dengan bukti konkret. Bukan pula membela Fuerbach yang mengatakan “Tuhan hanya proyeksi, hasil pikiran manusia”. Namun karena kita punya orientasi hidup, tuhan musti diciptakan. Tuhan yang fiksi lebih bernuansa netral. Fiksi bisa beruwujud apa saja: berwujud kemanusiaan, kebebasan, keadilan, dan idealisasi lain.

Meski sesekali kita menjalani hidup yang ambigu, kita sudah sepakat: Selain lebih masuk akal kalau Tuhan ada, menciptakanNya juga bisa jadi pendorong aktualisasi diri, melampaui diri, mengatasi keterbatasan-keterbatasan. Merealisasikan mimpi terbaik Nietzsche: sebagai Ubermensch (yang fiktif juga). Manusia-setengah-dewa yang melampaui manusia masa lampau yang juga masih manusia sekarang. Ya, menjadi “manusia yang di atas manusia”. Yang serentak mengasuh percintaan yang mengatasi percintaan murahan ala sinetron atau telenovela.

(hadeeu, maksa bangat deh). (2010)

Daftar Pustaka:

Dostoevsky, Fyodor. The Brother Karamazov. Trans, Andrew R. Mac Andrew. Newyork: Bantam Classics, 1981.

Stephen, Henry, Jika Tuhan Tidak Ada, maka Kita Akan Menciptakannya: Masalah Ketuhanan dalam Pandangan Dostoevsky, dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXVII, No.2, Jakarta 2004.

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.