Paranoia Cinta Cannetti

Kematian persentuhan sungguh harus kita jinakkan. Bila perlu menganggapnya sebagai momok paling menakutkan. Karena kematiaan emosianal adalah ketidakbermaknaan. Apalagi paranoia sudah kita anggap sebagai keunikan. Dimana kau dan aku kerap saling memaksa subordinasi dalam gairah cumbuan. Sebuah kutukan berharga yang sudah kita kuduskan. Semenjak kau berhasil menyingkirkan apriori perselingkuhan. Hari pertama ikrar pemberontakan kita kepada seratus malam kebisuan.

Kau – astronom dan aku yang geologis takkan pernah menjadi halangan kemesraan. Sebab “sense of personal place or situation” tak sepantasnya jadi sebuah kecurigaan. Pun indahnya lukisan cakrawala semesta dan misteri rigidnya bumi telah membuat kita mengakui keberadaan Tuhan. Walau sempat kau katakan bahwa Dia tidak bisa berbahasa Jerman. Pula akhir pekan kita selalu penuh pecahan botol berserakan. Namun kita sudah meretas sebuah jalan kesepakatan: bahwa bir terbuat dari bahan alami yang subtil merajut malam panjang penuh teriakan kenikmatan.

Paranoia persetubuhan dalam cinta memang tak layak membuat kita gila. Sebab kita tidak perlu menjadi Schreber yang menekuni paranoia 7 tahun di rumah sakit jiwa. Walaupun kau selalu tekun berdialog dengan rasi bintang: Cassiopeia, Vega, atau Capella. Bagiku, kaulah yang termanis nan spritualis yang sekarang ada. Meskipun kau tidak bernama Helena. (ha!ha!ha!). (2010)

Sumber: Hartanto, Budi, “Tentang Kematian dan Sifat-sifat Jiwa”, dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXVII No.2, Jakarta 2004.

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.