Serpih-Serpih Budaya Batak

Oleh: John Ferry Sihotang*

Bencana banjir di bumi Samosir beberapa waktu yang lalu tak jua bisa mengetuk banyak hati para perantau Batak. Wajah korban saudara-saudari kita yang terpilih menghadap Sang Pencipta tak mampu menghentak rasa kemanusiaanya. Tanggung jawab kemanusiaan tak bisa mendahului individualisme dan materialisme yang dipujanya. Orang-orang Batak sendiri sepertinya kini telah mulai terasing. Terasing dengan identitas etnis dalam dirinya. Terasing dengan tradisi budaya lokal dan Bonapasogit, bumi nenek moyangnya. Terasing dengan bencana yang melanda bumi leluhurnya. Bahkan beberapa dengan sengaja mengasingkan (mengalineasi) diri dari tradisi budaya Batak itu sendiri. Itulah akar miskinnya kepeduliaan saat ini. Ketidaktahuan akar identitas diri, berakibat pada kurangnya ‘rasa cinta memiliki’ budaya Batak.

Prakata dan Latar Belakang

Tulisan ini bukanlah sebuah tinjauan analisa filosofis atau antroposentris yang ketat, runut, dan runtut mengikuti kaidah-kaidah kajian ilmiah. Melainkan hanya sebuah permenungan pribadi memaknai diri sebagai mahluk spritualis universal, manusia Indonesia yang beragam etnis budaya, terlebih sebagai manusia yang mau berdamai dengan identitas diri sebagai seorang Batak. Aku tak ingin terasing dari akar tradisi budaya yang menghadirkanku di bumi ini.

Dalam sebuah note bang Mula Harahap beberapa hari yang lalu, aku terlibat sebuah diskusi singkat dengan seorang saudara, seorang Batak pula. Secara pribadi, aku akui dia sebagai salah satu aset besar orang Batak. Pengetahuannya yang luar biasa tentang kebudayaan. Dia mengajukan sebuah postulat kritis begini:

Teralienasi atau mengalienasikan diri ke dalam kegelapan atau keluar dari kegelapan konsep maupun praxis budaya adalah keniscayaan. Maka pencarian akan berhenti jika tiba di garis pemaknaan final bahwa budaya yang sesungguhnya adalah “human free will” yang bebas tanpa terikat pada terang atau gelap….Batak, dalam budaya dulu dan kini harus diakui telah berbeda. Faktual yang tak terpungkiri dalam perjalanan kronologis sejarah, jelas terlihat ada movement “setengah gila” untuk megembalikan budaya Batak dengan alur mundur tapi tanpa mengetahui sampai dimana garis startnya, ambigu dan kasihan….”

Jujur, aku miris membaca potongan tulisan diatas. Sangat memberi aura negatif dan pesimistis. Pandangan-pandangan seperti inilah, menurutku, membiarkan bangso batak tetap tertinggal, terasing dari kultur dan kearifan lokalnya. Dan inilah mungkin cerminan umum cara pandang orang Batak terhadap budaya adiluhungnya saat ini. Khususnya mereka yang sudah lama merantau. Ada semacam pelupaan sejarah, nilai hakiki etnis, dan bumi leluhurnya.

Keprihatinan ini pula yang menyentakku untuk mencoba berbagi apa arti menjadi seorang Batak bagiku. Bahwa kita bisa menjadi manusia kosmopolitan, manusia Indonesia dan manusia Batak sekaligus. Tanpa harus menyangkal kejujuran intelektual. Tanpa harus menolak nilai-nilai luhur budaya lain yang ditawarkan jaman ini. Dengan segala keterbatasan, aku ingin sekaligus menanggapi tesis diatas. Bukan untuk membuktikan saudara RJCS salah atau benar, tetapi lebih kepada ‘pertanggungjawaban’ atas identitas diriku sebagai seorang Batak.

***

Mari kita coba kumpulkan serpih-serpih nilai budaya Batak yang berserak di mana-mana. Mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu proses kategori dan satuan uraian singkat, sehingga dapat ditemukan benang merah untuk merumuskan sebuah ‘jalan keluar’. Semoga masih ada titik cerah di dalam penggalian dan pemaknaan nilai tradisi budaya Batak itu.

Mitologi Batak, Sistem Religi

Dalam Pustaha Tumbaga disebut, manusia dijadikan dalam ”dunia pertama” yaitu sebagai tiga serangkai: Batara Guru, Balasori, dan Balabulan – dari telur-telur ayam Hulambujati kepunyaan Mulajadi na bolon (Supreme Being, Allah). Manusia-dewata tiga serangkai menguasai langit, bumi, dan manusia yang telah diajari adat, hukum, dan undang-undang. Disisi lain, ada juga pendapat menyatakan, alasan utama orang Batak dapat menerima agama Kristen/Katolik (mungkin Islam juga?) adalah karena persamaan pandangan diantara keduanya tentang Trinitas/Tritunggal. Pemikiran kosmos ini diperkuat kembali oleh agama Hindu dan Budha yang membagi pemikiran itu menjadi tiga dunia yakni banua ginjang (dunia atas), banua tonga (dunia tengah), dan banua toru (dunia bawah). Di dalam agama semitik (Yahudi, Kristen, Islam) dinamai surga, dunia, dan neraka. (bdk. Simandjuntak, 2002; Durkheim, 2003).

Keyakinan tentang totalitas dari ketiga unsur itu menurun kepada eksistensi manusia. Bahwa manusia merupakan kesatuan dari tiga unsur yaitu: hosa (nyawa/jiwa), mudar (darah), dan sibuk (daging). Konsep totalitas ini juga nantinya berlaku secara fungsional dalam masyarakat Batak yaitu: hula-hula (pemberi istri), dongan tubu (kerabat satu marga), dan boru (penerima istri) (Siahaan, 1979:20-21). Orang Batak percaya bahwa suatu ketertiban sosial akan tercipta apabila ada keharmonisan dalam ketiga unsur yang disebutkan di atas.

Sistem Marga Batak, Teori Konflik

Sistem marga dalam diri orang Batak begitu kompleks dan mempunyai ‘keunikan’ tersendiri dibanding suku bangsa lain dengan mempunyai asal usul (akar) tersendiri dari manusia pertama Raja Batak dan leluhur (Sijolo-jolo Tubu). Contoh gamblang tentang aku sendiri. Terlahir sebagai keturunan Siraja Oloan yang mempunyai 7 keturunan. Salah satu anaknya Sigodang Ulu (Sihotang). Marga Sihotang terdiri dari 7 submarga (cth. simarsoit). Pun simarsoit mempunyai 3 sub-submarga (cth. sibitonga). Demikian halnya dengan sibitonga berketurunan 5 sub-sub-submarga (cth. nomor sada), dan seterusnya sampai ke aku (ego) sekarang. Dan aku tak bisa memilih marga lain. Pun marga itu sudah semacam “takdir” yang melekat, tak bisa ditolak oleh setiap orang Batak dan seluruh keturunannya nanti.

Kompleksitas silsilah satu individu manusia Batak itu bisa menciptakan banyak sekali benturan (konflik). Baik antar individu maupun antar sektarian kelompok; benturan kelompok dalam satu marga – atau submarga, dst. (in group) dan kelompok marga lain (out group). George Simmel memandang konflik itu sebagai refleksi yang tidak hanya berupa konflik-konflik kepentingan, tetapi juga yang timbul dari naluri bermusuhan. Naluri tersebut bisa diperburuk oleh konflik-konflik kepentingan atau dikurangi oleh hubungan-hubungan yang harmonis atas dasar kemauan untuk mencintai.

Ibarat sebuah negara harus ada konstitusi yang menjamin hak dan kewajiban semua warga untuk minimalisasi konflik individu dan kelompok dalam bermasyarakat. Demikian halnya dengan etnis kultural Batak sebagai masyarakat terbuka dalam negara Indonesia maupun dalam dunia universal. Tentulah kehidupan bermasyarat itu perlu diikat, dijamin, dan diatur dengan sebuah undang-undang untuk kontrol sosial kekerabatan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Tujuannya adalah untuk:
1. Mengatur pola hubungan kekerabatan antar individu dengan kelompok
2. Menetapkan kedudukan fungsional individu dalam kelompok kerabatnya
3. Mengatur hak dan kewajiban serta fungsi dan tugas seseorang dalam setiap aktivitas kultural
4. Menentukan norma-norma perilaku dalam kelompok kekerabatan
5. Mengatur norma bertutur sapa dan pengucapan nama, berdasarkan derajat kesopanan
6. Menentukan pola pengelompokan kerabat dari pihak penyelenggara suatu kegiatan kultural atau pesta adat. ( Palito dalam Silalahi, 2006).

Perbedaan individu-individu, kelompok, pun perubahan sosial itu akan membuat masyarakat bisa tak terkendali. Diperlukan perangkat hukum sebagai pengikat hubungan satu dengan yang lain. Para leluhur Batak nan jenius itu sudah memikirkan akan semakin kompleksnya keturunan orang batak. Geraknya tidak lurus lagi tapi menyebar, sporadis. Terciptalah sebuah konstitusi yang sekaligus menjadi sistem kekerabatan masyarakat Batak. Sebuah masterpiece hukum Batak bernama: Dalihan Natolu.

Dalihan Natolu

Dalihan natolu adalah istilah simbolis untuk menerangkan struktur sosial masyarakat Batak, Batak Toba khususnya. Dari etimologi harfiah, dalihan na tolu diartikan sebagai tungku yang berkaki tiga. Agar sebuah periuk atau kuali tidak jatuh ketika dipakai memasak, minimal ditopang oleh tiga batu tungku.

Tungku yang tiga, masing-masing kakinya melambangkan kelompok kekerabatan yakni :
1. Hula-hula adalah golongan pemberi mempelai perempuan sekaligus menjadi sumber segala berkat bagi penerima mempelai. Sehingga muncul ungkapan: “somba marhula-hula” (hormat terhadap hula-hula).
2. Dongan Sabutuha: saudara semarga yang seia-sekata dalam segala kegiatan. Keharmonisan hubungan ini dikatakan: “manat mardongan tubu” (hati-hati dalam menjaga hubungan semarga).
3. Boru adalah kelompok pihak penerima anak perempuan sebagai istri, penanggung jawab suksesnya sebuah acara adat (horja). Hubungan ini terungkap: “elek marboru” (sayang terhadap boru).

Dalihan natolu menjadi pusat seluruh kegiatan menyangkut kehidupan masyarakat Batak. Bukan saja hanya dalam tata upacara pesta adat, namun sudah mengejawantah dalam pola-tingkah hidup keseharian. Setiap orang Batak harus bisa menempatkan dan bertingkah laku menurut posisi yang disandangnya. Dalihan natolu menjadi sangat penting bagi orang Batak Toba; karena hal itulah yang membuat setiap orang memilki persamaan hak dan kewajiban tanpa dibedakan oleh golongan sosial dan gelar. Setiap orang akan berhak dan berkewajiban sebagai hula-hula. Saat berada pada lembaga lain sebagai boru, dia juga punya hak dan kewajiban sebagai boru. Dan tidak ada gelar kebangsawanan khusus bagi masyarakat Batak seperti pada etnis lain. Karena semua laki-laki adalah anak raja, dan semua perempuan adalah putri raja.

Stratifikasi dalam dalihan natolu bukanlah pembagian kasta seperti yang ada pada masyarakat India-Hindu. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang dapat menempatkan diri pada struktur sosial. Pula pada hakekatnya setiap orang berada pada tiga posisi tersebut dalam waktu yang bersamaan. Misalnya, A berada pada posisi boru terhadap B, sekaligus juga menjadi hula-hula bagi keluarga C dan menjadi dongan tubu bagi D (Tambunan, 1982:111-124).

Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon (3H)

Sang Khalik (Mulajadi Na Bolon) dipercaya telah mengilhami adat istiadat leluhur orang Batak Toba dengan perintah tegas. Orang Batak (Toba) harus melaksanakan, memelihara, dan mematuhinya secara terus-menerus dan turun- temurun, agar kehidupannya mencapai keselarasan dan keseimbangan. Hal ini kelak dapat menjamin kesejahteraan bersama dalam merealisasikan impian semua keluarga Batak Toba yaitu, Hagabeon (banyak keturunan), Hamoraon (kekayaan, kelimpahan materi), serta Hasangapon (kehormatan, kemuliaan). Ketiga H ini sekaligus menjadi falsafah kesuksesan dalam berkehidupan masyarakat Batak.

Dengan demikian, peranan nilai budaya 3H bukanlah sebagai tujuan hidup materialistis, profan (duniawi) semata. Hamoraon bukan saja kaya akan harta benda (bagiku, kaya akan nilai-nilai kemanusiaan universal), tapi juga kaya karena merasa telah mendapatkan kepuasan akan apa yang dimilki dengan berani mengatakan cukup. Hagabeon selain kemampuan seseorang untuk melanjutkan keturunan (membesarkan keturunannya bukan dari hasil korup), juga mau memelihara keberadaan dan kejayaan marganya dengan keteladan. Hasangapon bukanlah kehormatan karena berkuasa – namun, kehormatan karena memiliki hamoraon dan hagabeon. Yakni dengan kemauan dan kepedulian (menjadi pelayan) untuk mempertahankan, mengembangkan, memberdayakan nilai-nilai kearifan tradisi budaya lokal Batak.

Sungguh layak dan sepantasnya seorang manusia (Batak) sejati: berharta nilai-nilai kemanusiaan, berteladankan kejujuran dan kesedarhanaan, berkehormatan cinta dan kepedulian!

Hubungan Dalihan Natolu, Nilai 3H, dan Sistem Marga

Kerangka dasar hubungan sosial bagi masyarakat Batak Toba – hubungan darah, perkawinan dan marga – diatur dalam Dalinan Natolu. Nilai falsafah kesuksesan –hamoraon, hagabeon, hasangapon – akan terpenuhi dengan baik bila dilakukan sesuai dengan kerangka dasar tersebut. Hal ini terungkap dalam umpasa (petuah) orang Batak Toba :”Molo naeng gabe, somba marhula-hula; molo naeng sangap, manat mardongan tubu; molo naeng mora, elek marboru” (Jika ingin memiliki keturunan, hormat terhadap hula-hula; jika ingin terhormat, hati-hati terhadap dongan tubu; jika ingin berharta, sayang terhadap boru). Dalihan natolu dan nilai 3H itu menjadi hakikat budaya Batak Toba berporos, dan di atasnya terletak seluruh eksistensi budaya Batak (Harahap dan Siahaan, 1987).

Karena marga tak bisa hilang, maka dalihan natolu itu menjadi sebuah keniscayaan. Sebuah tuntutan keharusan dalam setiap individu Batak. Demikian sebaliknya, kalau ingin membuang dalihan natolu, buang saja marganya yang mungkin menjadi beban untuk beberapa orang dengan cara entah. Marga dan dalihan natolu adalah sebuah kemelekatan dalam hidup setiap orang Batak yang harus survive menjalani kehidupan dengan filosofi; hamoraon, hagabeon, dan hasangapon.

Budaya Batak sebagai Pancaran Dimensi Universal?

Mitologi diperlukan untuk memahami dua wajah kejahatan, kejahatan moral dan kejahatan fisik, kata Paul Ricoeur. Mitos disini adalah sebuah cara berpikir (mind-set) lebih mendasar yang terkait dengan kisah agung pendirian kelompok (termasuk etnis) dengan tiga ciri. 1) Bagaimana semua mulai. Mitos menyangkut kosmos dan ethos (tentang penciptaan dunia dan kondisi penderitaan – termasuk keterasingan manusia); 2) Mitos tidak membedakan yang baik dan yang jahat. Sumber segala sesuatu melampaui yang baik dan yang jahat; 3) Menghadapi masalah, mitos cenderung diarahkan untuk berpikir tentang asal-usul. Mitos mengajak melihat akar permasalahan kebelakang untuk bisa berpikir kedepan.

Dalam hal Marga, selain memperjelas status adat, juga menempatkan orang Batak dalam situasi yang kohesif: tarik-menarik antara invididualitas dan kolektivitas, kata Suhunan Situmorang. Sebuah keistimewaan bagi orang batak dengan menyandang marga. Bahwa marga bukan sebuah tanda artifisial yang melekat, melainkan menjadi sebuah proteksi identitas diri dan kelompok klan dalam kekerabatan. Agar menjadikannya sebuah habitus nilai untuk mempertahankan kehormatan marga bagi si penyandang marga. Apabila setiap orang melakukannya akan menjadi nilai positif bagi kemanusiaan universal, dan seluruh orang Batak khususnya.

Demikian pula dengan dalihan natolu, 3H (Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon), sistem religiositas (agama dan aliran kepercayaan), aku memandangnya sebagai kesatuan dan pancaran holistik universal; membentuk yang namanya BUDAYA BATAK. Pilar-pilar yang membentuk budaya itu, satu sama lain saling berkelindan, tak bisa dipisahkan. Serpihan itu juga sekaligus membentuk falsafah hidup manusia secara universal, dalam konsep yang mungkin berbeda, yang diturunkan tradisi budaya lain dan/atau peradaban-peradaban yang pernah ada.

Tradisi budaya Batak itu terejawantah dengan baik dalam seni berkehidupan ala Batak. Tradisi kehidupan sehari-hari orang Batak terlihat misalnya dalam acara adat perkawinan dan kematian (terlihat pula disana pancaran jiwa budaya Batak; pakaian adat, rumah adat, ukiran, tarian tor-tor dsb.). Bolehlah kita bilang itu sebuah cita-cita utopia agung yang pernah ada, yang ingin diwujudkan semua insan manusia. Tradisi budaya komunal itulah juga menjadi tradisi budaya Batak sesungguhnya, yakni: BUDAYA KOLEKTIF.

Keterasingan dan Identitas Diri seorang Batak

Sekali lagi: mitologi religi, dalihan natolu, falsafah kesuksesan hidup Batak (hamoraon, hagabeon, hasangapon) adalah pilar-pilar utama pembentuk Budaya Batak. Begitu juga dengan nilai-nilai kearifan lokal (uhum, hukum; poda, amanat; patik, titah; umpasa, perumpamaan bijak; dsb.) itu harus selalu kita ’revitalisasi’. Revitalisasi itu sebagai pertanggungjawaban identitas diri sebagai seorang Batak. Bahwa orang Batak masih bisa menganut nilai-nilai kearifan lokal adiluhungnya tanpa harus membunuh otensitas rasionalitasnya. Tanpa harus menolak nilai-nilai budaya yang ditampilkan suku-suku bangsa lain – Indonesia khususnya. Pun tak harus menampik nilai-nilai budaya universal kosmopolitan yang ditawarkan jaman ini lewat pilar-pilar utama peradaban; filsafat, sains, dan agama.

Pun pertumbuhan kesadaran akan nilai budaya (juga hidup, Tuhan, agama, manusia, dan dunia) itu tidaklah ambigu dan kasihan, melainkan berjalan melalui pola paradoks: semakin intens kita berhubungan dengan ‘yang lain’, semakin kita bertumbuh menjadi diri sendiri. Semakin kita bergaul dengan mereka yang memiliki budaya lain, (mestinya) semakin dalam kita memahami keunikan tradisi-budaya kita. Dan dengan itu, semakin bebas dan rileks pula kita bergaul dengan suku bangsa lain.

Bila pencarian kebenaran dilihat dari sisi ‘keunikan’ dikaitkan dengan evolusi, akan menjadi sebuah proses ‘pertumbuhan kearah yang lebih tinggi’ dan ‘kesadaran akan kompleksitas kehidupan’. Dari hal ini akan muncul juga kesadaran akan kelemahan dan kekuatan nilai budaya kita sendiri.

Seperti penelusaran jejak-jejak kebenaran, budaya Batak ini pun masih dalam pencarian (aku dan anda) terus menerus. Agar hendaknya semakin kita gali kearifan lokal itu kembali, semakin kita perkaya dan berdayakan, semakin kita sentuh dasar kenyataannya yang paling hakiki: untuk memurnikan kembali budaya Batak itu menjadi sebuah Budaya teladan. Agar setiap individu (hendaknya) tidak mengalami keterasingan (alineasi) karena perpecahan cara pandang dan keterputusan dengan tradisi-budayanya.

Cara mengatasi alineasi itu dengan ’aktualisasi’ diri, sehingga kemanusiaan dan kehidupan kembali mewujudkan sebuah harmoni dengan diri sendiri, tradisi budaya, dan alam semesta.

Itulah bagiku memaknai hidup dan bercita-cita: menjadi manusia pembelajar spritualis universal, menjadi manusia indonesia ber-bhinneka tunggal ika, terlebih menjadi seorang Batak yang berdamai dengan identitas diri dan identitas etnis kultur.

***

[Semoga tulisan singkat ini bisa menambah keluasan, kedalaman, atau kelugasan dalam khazanah cakrawala pemikiran, mindset, worldview dalam pemaknaan hidup kita sehari-hari. Karena kebenaran itu pun sebuah pencarian, coretan ini pun bukan sebuah jawaban final absolut; sebab sebuah klaim jawaban akhir akan menghianati ketulusan berpikir dan kehendak bebas manusia(human free will) dalam pencarian nilai-nilai spritualitas hidup itu sendiri. Akan tetapi, tulisan ini hanya sebuah tanda koma, yang ingin membuka ruang lebih dalam – bukan pembenaran, dalam penelusuran jejak-jejak kebenaran (budaya), pengumpulan serpihan kebenaran itu sendiri: sebagai tujuan pengembaraan hidup kita di dunia fana ini. Semoga!]***

*Geolog penafsir batu, Penikmat spritualitas dan budaya.

Daftar Pustaka dan Link:
– Dari beberapa sumber, diskusi, dan permenungan pribadi.
– Situmorang, Suhunan, 2010. Kumpulan Note, Jakarta: Facebook. (http://www.facebook.com/notes.php?id=685994914)
– Harahap, Mula, 2010. Note: Si Jaogot, Jakarta: Facebook. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=386146767238)
– Naipospos, Monang, 2010. Tano Batak, Samosir: WordPress Blog. (http://tanobatak.wordpress.com/)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

1 thought on “Serpih-Serpih Budaya Batak”

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s