Racau

oleh: john ferry sihotang

senja tersedu di serambi temaram
tak sanggup mengurai gamit jemari siang
sahabat kabut coba peluk tubuh memburam
pelupuk kian retak di lindap remang

burung burung telah masuk gerbang sarang
merayakan perjamuan dengan anak bini
di gelayut tari daun daun riang
di gemerisik suara ranting ranting riuh bunyi

namun jiwa menubuh ini tertusuk awan kelabu
tercekik di jelang pestapora para perisau
senyap terburai genderang jangkrik
tercenung di tepian telaga tanpa percik

keinginan bersemayam di ceruk kubur
termaktub miris di epitaf resah membilur
diburu busur runcing hantu hantu muram
ditikam gusar pekik lolongan burung malam
dirajam getir kecut sungkurku pada kelam

rindu dicabik cakar gulana risau
terkapar di pelataran tanah sunyi nyata
sapa disayat sembilu cemas galau
tertujah di beranda rumah penuh tanya.

2010

(racau) hari yang mengapung*
oleh: hudan hidayat

adalah mimpi tersembunyi saya, untuk mengajak orang orang baru dalam sastra (baru dikenal oleh jurnal ini), untuk menggabung dengan sastra yang ramai di sini. mimpi sembunyi seperti sepi yang disembunyikan oleh bunyi penyair john ferry sihotang ini: dalam gendang yang datang dari alam alam yang disebutnya, lahirlah rima bunyi dan rima benda dalam puisinya. rima, musik bunyi itu, seperti yang diperagakan oleh rangkai kata di sini.

seakan pantun, seakan diksi lama itu bergema kembali di kita saat ini. mengapa hati lama itu selalu mengulang? rupanya hati manusia, dulu dan kini, tetaplah hati manusia yang bertali dengan alam juga. tali yang antara lain soal relasi alam perempuan dan alam lelaki, yang memutar dirinya ke dalam bentuk dari manusia ke alam benda – juga alam binatang seperti dalam puisi john ferry sihotang ini.

ia membangun puisi dengan melukiskan suasana alam. dan kita tak usah hirau dengan definisi romantik dalam sastra. bahwa di suatu masa sastra penuh dengan pengucapan romantik atas alam. bahwa sastra kini telah berputar langsung menghujam ke manusianya langsung: alam telah ditinggalkan. kini hati kosong di bor oleh dunia kata masa. siapa bilang? hati kosong semacam itu selalu ditambal oleh alam. alam manusia dengan benda benda modernnya. kafe misalnya. musik misalnya. orang di sana bernyanyi dengan hati kosong: mesquarade. saya sendiri sering bernyanyi dalam kafe kafe yang tak ada orang sastra di sana. sekedar melantunkan sepi di hati: love story.

begitu tua kisah hati manusia itu. dan begitulah tak ada putaran yang lain. kata orang andai kuping cleopatra tak seimbang, maka pergilah elaksander ke negeri lain. sayang, hidung cleopatra itu memang mancung, dan matanya, sangat mungkin sesahdu mata edwigh fenech dari itali.

apa sebenarnya yang hendak dikatakan penyair ini? begitu samar hatinya yang bersuara melalui alam yang digamitnya di sana. hanya kita lihat bini dalam kaitan dengan burung burung pulang kandang. hanya kita temui kata “epitaf” dari suatu kemungkinan dua arti: kenang pada kubur dalam kata? atau tentang monumen yang mana dalam puisi? begitulah puisi bergerak antara mengatakan sesuatu dan menyembunyikan sesuatu. dalam gerakan sebutannya (racau itu, tapi tertata dalam struktur yang manis atau digabung dan dipisahnya fenomena alam benda – suasana tempat di mana dia mengalami) yang menimbulkan unik atas “hari” di dalam puisi. apa sajalah yang penting kita menikmati satu permainan yang berayun ayun dari “hari” yang bertemu arti barunya.

“senja tersedu di serambi temaram
tak sanggup mengurai gamit jemari siang
sahabat kabut coba peluk tubuh memburam
pelupuk kian retak di lindap remang”

waktu bisa menjadi kunci puisi ini. waktu yang disebutnya dengan melankolik: senja tersedu, suasana muram dari hari yang diberi anak puisi: suasana muram yang datang dari temarannya hari. temaran yang sampai oleh sebutan mesra yang lain: serambi. alangkah elok sebutan untuk waktu dalam puisi ini: beranda hari untuk kata malam itu.

untuk apa kata kata pilu semacam itu dibangun? untuk mengurai dirinya yang seakan mabuk (racau) oleh dunia batas itu. tapi mengapa? siapa yang mengeluarkan tangis – sedu, di sana? senja tersedu apakah hari hujan, atau hari sedih karena siang hendak berpisah dengan malam. atau dirinya sendiri yang merana dan kini mengambil hari sebagai ungkapan hatinya. ia yang menangis tersedu meminta alam sore hari itu mengucapkan hatinya yang tersedu. dengan jalan begitulah kita jadi tahu ada derita yang tak terkatakan di puisi ini, sehingga sang penyandang derita di sana terpaksa meminta bantuan alam untuk mengucap isi hatinya.

senja tersedu di serambi malam, karena tak kuasa mengurai apa yang terjadi pada siang hari tadi? atau karena tak kuasa menahankan hari yang pasti masuk ke malamnya sendiri? puisi adalah daerah di mana kata kata bisa bergerak gerak seakan hati manusia yang tak hendak diam. tapi bergerak ke mana puisi ini?

bergerak ke segenap arahnya. puisi yang baik memang tak tunggal nada. seperti nada alam di puisi ini, ia memperkuat tema dalam puisi, tapi ia menimbulkan arti baru dalam hari hari yang disebut dalam puisi. seperti senja tersedu yang bergulir ke arti arti yang telah kita catatkan. dan apakah puisi kalau hanya menghadang laju artinya sendiri? puisi seperti roh manusia: merucut dari balik tangan seperti air yang memancar ke mana mana. tapi walau bagaimana, tetap kita hendak tahu apa yang disembunyikan oleh penyair ini, dalam gerakan lebar dari makna “hari” dan “waktu” yang dimainkannya di dalam puisi.

sebelum kita menduga maksud utama dalam puisi, puisi sendiri sudah mengurai diri ke dalam maksud kecil dalam puisi. dan itu adalah diterakannya posisi hati penyair akan alam yang dihidupinya. alam yang hendak dibentuknya secara baru dalam bahasa. kita bisa melihat suatu sapaan baru itu saat sang penyair – penyair itu memindah dirinya menjadi aku, aku-lirik dalam puisi.

(mungkin kita membutuhkan juga aku yang lain: aku-epik dalam puisi. tapi itu niscaya saya: dunia puisi ditentukan oleh talenta dari penyair yang datang)

orang mungkin akan mengumpulkan tiap gerak maju dalam puisi, menyatukannya ke dalam koherensi, atau memukulnya ke dalam satu tepukan ucapan: bermain struktur dari kata yang lebar, bahwa puisi, bahwa seni dalam bahasa itu, seharusnya, atau sepatutnya, di bawah kendali ilmu ilmu. dan ilmu, seperti ilmu yang membelah alam ke dalam satuan satuan kecil itu, telah menjadikan puisi kehilangan roh unik dirinya yang otentik itu. konon itulah yang dikeluhkan orang atas aliran rawamangun di dunia sejarah puisi kita misalnya.

tapi bisa juga kita menghidu sebuah puisi dari gerak puisi itu sendiri. saat puisi berpusar pada disebutnya fenomena hari, kita pembaca berhenti, dan melupakan koherensi dalam puisi (untuk semenentara), untuk masuk dan terpukau oleh undangan penyair dalam dunia katanya. seperti aku terpukau dengan bait pertama puisi penyair john ferry sihotang ini, yang konon adalah gelogist – itu pangkat nirwan dewanto juga, pengamat seni kita yang terkenal itu. satu kendali ilmu atas bumi, nampaknya, kini telah berpindah atas kendali bahasa. apakah karena itu lalu sang penyair bisa menekuk nekuk “hari” itu ke dalam ucapannya yang bagi saya adalah satu gerak kata yang ditarik ke dalam tiap sudut muka, sudut belakang, atau sudut samping dari kemungkinan kata kata di sana.

lihatlah baris ketiga dan keempat dalam bait pertama itu, adalah suatu cara menyapa yang menarik atas “nama hari”. hari hari ini juga, tapi telah mendapatkan bentuk barunya di tangan penyair. sahabat kabut, katanya. untuk suatu kehadiran “benda imajinatif bernama kabut itu”. sahabat kabut coba peluk tubuh memburam. tubuh siapakah yang dipeluk oleh kabut itu? kabut yang tak diucapkan sebagaimana biasa orang mengucapkannya. sahabat kabut coba peluk tubuh memburam. tubuh memburam mengasoiasi pada tubuh yang mungkin lindap oleh malam, tapi mungkin juga tubuh yang telah tak ada harapan lagi. bahwa masa depan itu samar, hanya bayang, memburam, memproses ke dalam ketiadaan harapan, masa depan itu.

tak terelakkan, dunia kata membuka seluas langit dan bumi dalam puisi. coba peluk adalah upaya melembutkan. satu sapaan mesra biasanya terjadi dalam dunia manusia. aku mencoba memeluk pinggangnya. kudekatkan mulutku ke mulutnya. kurapatkan lagi pelukanku dan dia mencoba menggapai pinggangku. tak mungkin terjadi: dia yang telah merapat dengan kita mencoba menggapai pinggang kita yang ramping itu. ini bukan suatu dunia dekat dari apa yang hendak dikatakan penyair. tapi dunia jauh, yang melayang mungkin ke dalam dunia buram tadi. coba peluk dari bergulirnya makin kuat dunia yang memburam itu. tapi dunia siapa yang hendak diceritakan penyair ini? adalah dunia hari. dunia ancang ancang atas isi hatinya sendiri.

“sahabat kabut coba peluk tubuh memburam”

itulah dia satu sebutan unik dalam puisi. tak disebutkan penyair kabut, tapi sahabat kabut, dan puisi pun masuk ke polisemi makna dalam puisi – bukan polisemi kata, tapi polisemi makna – kita hendak sedikit menawar definisi kamus besar bahasa indonesia kita itu

“pelupuk kian retak dilindap remang”

alangkah indahnya. untuk sebutan seindah itu, biarlah kita dimaki orang bahwa orang sastra hanya berkutat pada hatinya sendiri, tidak hati masyarakat yang semestinya disuarakan dalam puisi. sastra indonesia ini dikutuk oleh pelbagai arah. dari luar sebagai bahasa yang hendak dan hanya mengatakan kesepiannya semata. dari dalam sendiri – biasanya doktor kita yang kritikus itu, menggenit diri dan berkata: kita membutuhkan karya yang terlibat. kukira penyair ini sudah begitu terlibat dengan soal manusia par se

(idih par se, apa itu ya par se hiks)

kukira dia sudah mewakili atau menjadi wakil bagi manusia yang hendak bermain dengan bahasa walau individual sifatnya. tak kah kita tahu apa yang disebut dengan identitas masyarakat-bangsa itu antara lainnya adalah diri kita sendiri. diri kita yang bukan nomor, bukan barang, tapi punya riwayat sah dalam sebuah tata hidup, sah, dan karena itu perlu juga ditimbang, didengar, saat ia mengacu pada dirinya sendiri. diri sendiri yang mungkin diri sang penyair yang telah memindah diri ke aku lirik dalam puisi, tapi telah menyambar orang orang ramai juga (aku bagian salah satu dari orang orang ramai itu)

saya punya hak untuk melepaskan satu baris itu dari seluruh bait puisi. sebagai keindahan ucapan yang saya peluk dan tarik sendiri. tapi saya juga punya kehendak untuk menariknya kembali ke dalam arus besar kata kata dalam puisi. maka, pelupuk apakah itu? lagi lagi penyair, karena tak melakukan personifikasi secara tegas dalam puisi, atas asosiasi itu, misalnya, membuat kita menduga duga bahwa ia memang meminta tolong hari yang dibentukkannya secara unik itu untuk mengucapkan jiwa dalamnya sendiri.

pelupuk aku dalam puisi yang membias seolah dunia berlubang, karena remang, karena hari sudah malam. karena urusan di belakang yang begitu banyak ragamnya. hidup adalah gudang laku dan pikiran kita – menjadi dan terdorong ke dalam sejarah sedetik saat waktu berlalu. menjadi retakan mata dalam pandangan. alangkah banyak yang harus kita timbang itu – banyak dari dipakainya istilah retak di alam puisi. alangkah banyak yang harus aku putuskan sedang hari sudah hendak berakhir – malam, katanya. besok lain lagi ceritanya. mungkinkah nasib kelak akan ditarik ke diri yang lain? mungkin. tapi saat ini bagaimana? tapi pelupuk mataku retak saja. tak bisa kuputuskan apa apa lagi. itukah dia arti dari bait pertama itu, untuk kita lakukan verifikasi atas bait turunannya.

disiplin geologi adalah tradisi menghadapi lapisan lapisan tanah dengan identitas tanah. lapisan lapisan zaman seperti tersier saat misal es membeku atau mencair. mungkinkah dari sini sehingga sang penyair gemar dengan sebutannya yang kata di atas kata. misal sarang itu, yang diletakkannya gerbang sebelum sarang. sehingga gerbang sarang membuat permainan rima bunyi dan rima arti. gerbang sarang dari burung burung pulang ke kandang. dan burung tak pernah pulang di waktu pagi atau siang. selalu dunia manusia mengenal burung itu pulang di sore hari.

(tapi kelelawar keluar di malam hari – kelelawar yang diapaku oleh musik ngik ngok itu sebagai kelewar sayapnya hitam!)

dan mengapa burung? mengapa tidak kerbau misalnya? kerbau kurang kuat untuk suatu sapaan terbang bebas dari nasib manusia yang mungkin terjun bebas. kita tak punya sayap tapi medan dunia seluas cakrawala. maka burung menjadi imaji yang kena untuk urusan nasib manusia yang tak menentu nentu itu. tapi burung pulang ke kandangnya – ke gerbang sarang-nya kata puisi ini. bersatu dengan anak bini-nya kata puisi ini. dan satu kata yang hendak kita kejar sejak mula, mulai terapung dalam puisi: anak bini, burung itu seolah anak manusia: bukankah janggal sekali kalau pemimpin partai berkata pada warganya: wahai warga partai dunia dan akhirat, marilah seperti burung: kalau malam pulang ke pintu gerbang rumah kita masing masing, untuk mandi dengan sabun camay

(ini diksi sinis iwan simatupang atas dunia benda itu dalam novelnya mungkin ziarah)

dan lalu peluklah bini kita masing masing seperti burung itu yang pastilah sesudah pulang akan memeluk bini-nya juga. aduh alangkah bahagia laki burung itu ya? tapi mengapa lelaki ikan jadi nestapa dalam lautan? ia melompat ke dalam lautan dan sepi sekali di dalam lautan: jadi ikan ia tanggung dunia manusia sudah pula ditampiknya. tapi ini lain lagi tapi ini membias saja sebagai tak tetahankan jari tangan mengentik masih soal nasib manusia ini.

“burung burung telah masuk gerbang sarang
merayakan perjamuan dengan anak bini
di gelayut tari daun daun riang
di gemerisik suara ranting ranting riuh bunyi”

itulah terompet nafiri dari gerak hati bahagia yang dilukiskan oleh manusia atas dunia burung. gerak hati yang alangkah indah alam alam itu disebutkannya. daun pun menjadi bercahaya. dalam satu gerakan gerisik daun yang kini dengar dari daun telinga kita: satu gerakan bergayut dari gerak tari: tari daun daun riang. dari riangnya hati jiwa penyair yang menghumanis ke dunia binatang juga. dan keindahan itu tak putus, belum berputus, dari jiwa sang pencari bahasa (penyairnya). ia bergerak niscaya mengikuti gerak tari awal mulanya: di gemerisik suara ranting ranting riuh bunyi. oh betapa jiwa tak bahagia mendapatkan kata kata serupa ini!

fenomena alam – hutan misalnya. boleh saja telanjang dengan tangkapan mata kita tahu keindahannya. tapi saat berpindah ke dunia bahasa maka adalah bahasa yang harus menangani keindahan alam itu. dan penyair telah menangani dunia keindahan itu dengan amat baiknya dalam bahasa. ***

* dimuat dalam note jurnal sastratuhan hudan, 26 mei 2010

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s