Balada Dangdut Rakyat

“dangdut bukan musik rakyat. itu musik laknat penuh karat.”

sahabat,

baru saja aku mengunjungi sebuah rumah kecil di sini. menikmati makanan para dewa dewi yunani. makanan nenek moyang kita di bumi damai. sambil menyaksi dangdut di layar tivi.

celana dalam bukan lagi privasi. itu milik publik hegemoni. peluk ekspresi birahi. atas nama kudusnya kidung hak asasi. tangan kanan di rambut indah tergerai. tangan kiri di suburnya hidup menyusui. getir di buai saji.

pinggul nan aduhai bukan tubuh sahaya lagi. tapi imaji nilai jual tertinggi. harga mati pedangdut terberkati.

hambur duit para brengsek lelaki. di sambut goyang anak dan sang istri. sadis ngeri di panggung ekstasi.

dangdut sudah mati. dangdut rakyat harus mati. aku dan kau harus menyiapkan peti mati. menggali kubur di tepian kali. biar cacing mengurai jadi murni. air sungai membawa ke samudera pasti . tuntun matahari ke hati! (2010)

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.

Berilah Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s