13 (duet “rapper pemula” dan “maestro klasik” dalam prosa)

tigabelas

rapper pemula john ferry sihotang:

aku terlahir tanggal tigabelas. kerap dianggap angka sial terganas. sekalipun bagi manusia waras. tanpa seorang dokter bidan pun dukun cerdas. namun ada tangan tulus seorang mantri yang masih belajar medis hingga tuntas! dikandung sebagai bayi sungsang pasti hadirkan rasa waswas. pun tak bisa menolak elegi persalinan yang tak pantas. saat kaki ‘muncul’ pertama akan menghadirkan tendensi abnormalitas. bisa jadi kematiaan yang naas. terlahir diam memeluk sunyi tanpa tangis pertama nan keras. tangis terkudus paling dirindu semua ibu penuh kasih tak terbatas. membuat keluarga dan kerabat larut dalam haru biru cemas. tanpa ayat suci dan mantra yang bernas. kuakui, hanya karena cinta Sang Mahaatas. yang tersalur lewat tangkai pepaya pengantar denyut nafas. dan iringan doa para warga di kampung yang terpanjat ikhlas.

maestro klasik hudan hidayat:

aku dilahirkan tanggal tigabelas. tanggal yang kerap dianggap sebagai angka sial, oleh manusia. tanpa seorang dokter bidan pun dukun, aku dilahirkan. namun ada tangan tulus seorang mantri yang masih belajar medis. dikandung sebagai bayi sungsang, rasa rasa meliputi siapa yang menyaksikanku lahir. saat kaki ‘muncul’ pertama akan menghadirkan tendensi abnormal, bisa jadi kematiaan, terlahirlah aku.

terlahir diam memeluk sunyi tanpa tangis pertama. tangis terkudus paling dirindu semua ibu penuh kasih. membuat keluarga dan kerabat larut dalam haru biru. tanpa ayat suci dan mantra pula. kuakui, hanya karena cinta Sang Maha. yang tersalur lewat tangkai pepaya, dan iringan doa para warga di kampungku.

dunia facebook, 26 juni 2010
(prosa diatas adalah potongan dari prosa saya pada note sebelumnya “tiga belas januari” – http://www.facebook.com/note.php?note_id=430361438981)

diskursus prosa

hudan hidayat: prosamu ini keren, dari niatnya untuk mengayun ngayunkan tiap kemungkinan dalam diri. maaf aku telah membuat ayunan rima yang lain dari getir yang hendak dan telah kamu katakan, john.

john ferry sihotang: prikitiw! di tangan abang semua bisa disepuh jadi emas. yang buram bisa mengkilat. sebuah “kedangkalan” disentuh menjadi “kedalaman” makna. dari musik “rap” menjadi alunan “klasik” yang selalu menyentuh para pendengarnya. terimakasih guruku, bang huhiku yang baik. sangat kuapresiasi ayunan rima yang baru ini. getirnya menjadi lebih mengena pada pembaca.

hudan hidayat: musik rap ya hey! itu benar adanya: ketukkan di tribute for yourself itu memang ada ketukan rap-nya. dan ini benar juga adanya: semacam wagner yang dihdupkan, dalam klasiknya bunyi dan nada kata. muram membuat riang-nya mein kampak itu kelak melakukan serangan kilat dari dan atas kata kata hehe menarik itu jhon. naik terus ke puncak bahasa. mungkin kita perlu buat dua versinya ya. versi rap dan versi klasik. dan satu versi lagi yang kamu seberangi dari dua batasan itu – rap dan klasik.

john ferry sihotang: hoho terimakasih abangku. jadi semacam mendamaikan wagner dan nietzsche hehe. prosa diatas, ibarat aku pada “eminem” dan abang di “mozart”. mozart pasti lebih disukai banyak orang. eminem hanya masuk pada kalangan tertentu hehe. sangat asyik duet kita bang huhi hehe. ***

Author: John Ferry Sihotang

Geolog penafsir batu. Pegiat kuliner buku.