Menjadi Batak Rantau Keren

Oleh: John Ferry Sihotang

Entah sebuah kebetulan atau tidak, saya “ditakdirkan” menumpang taksi “x” malam itu. “Selamat malam Pak, mau ke mana?” begitu sapanya pertama kali saya memasuki taksi itu. Saya ucapkan selamat malam dan mengatakan arah tujuan. Sesaat kemudian merasa ada sesuatu yang menggerakkan saya untuk berkenalan dengannya tanpa melihat papan namanya. Ternyata benar, beliau seorang Batak. Saya langsung memanggilnya “uda” setelah tarombo singkat. Ternyata istrinya memiliki rumpun marga yang sama dengan mamak-ku.

Ia terlahir untuk melayani. Sebagai seorang supir taksi tak terkenal, ia kadang tak sanggup membayar setoran ke perusahaan pemilik Taksi. Ia bermarga Lubis, sulung dari sebelas bersaudara. Ia menghidupi seorang Istri boru Parna dan dua orang putri yang masih balita. Mengontrak pondok kecil di bilangan pinggiran Jakarta. Memilih tetap bertahan dan bekerja dengan jujur di Ibu Kota, karena ladang di kampung halaman sudah habis terjual di meja judi oleh sang ayah.

Tulisan ini bukan untuk membicarakan moral orang tua Batak yang masih suka berjudi, namun lebih kepada para perantau Batak di tengah kehidupan kota yang carut marut ini, namun masih mau hidup sederhana, jujur, dan peduli sekitarnya.

Migrasi Orang Batak dan Bonapasogit-nya

“Ndang marimbar tano hamateon” (tidak berbeda tempat untuk mati) menjadi semboyan orang Batak yang ingin merantau ke daerah lain. Mobilitas orang Batak yang tinggi menjadikan mereka ada hampir di semua tempat dari Sabang sampai Merauke, termasuk di kota-kota besar yang masyarakat pribuminya cenderung lebih terbuka.

Ada beberapa faktor yang mendorong orang Batak melakukan migrasi (merantau). Pertama, faktor ekonomi. Faktor ekonomi ini menjadi alasan utama migrasi bagi semua orang, karena sulitnya mencari pekerjaan di daerah asal, banyaknya pekerjaan yang ditawarkan di kota, sumber daya alam yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk, dan terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang tersedia di daerah asal. Kedua, faktor nilai sosial budaya. Faktor ini kerap dijadikan sebagai sebuah gengsi sosial, di mana ada kecenderungan masyarakat Batak lebih menghargai perantau daripada yang tinggal di kampung. Juga adanya misi budaya Batak untuk memperluas daerah teritorialnya, mendirikan kerajaan di tempat yang baru (sahala harajaon) (disarikan dari Napitu, 1995 dan Usman Pelly, 1994).

Kedua faktor di atas menjadi alasan utama merantau walau masih ada faktor-faktor lain seperti karena terusir melanggar adat, melakukan kriminal, paksaan keluarga dll.

Falsafah yang mengatakan “ndang marimbar tano hamateon” mejadikan orang Batak cenderung berani, punya mental kuat untuk merantau.

Meskipun bertahan dan mapan di perantauan, para perantau tidak meninggalkan hubungan dengan daerah asal (bona pasogit) . Dan identitas yang melekat pada diri orang Batak, selalu dibawa ke mana pun pergi. Banyaknya perkumpulan marga (punguan atau toga) dan daerah asal (punguan sahuta) yang ada di daerah perkotaan jadi bukti nyata. Kuatnya hubungan dengan bona pasogit terlihat juga dengan derasnya arus mudik ke Sumatera Utara ketika menjelang Natal dan tahun baru.

Perantau Batak di Perkotaan

Kota-kota besar tetap menjadi tujuan, dan Ibu Kota masih tetap menjadi tujuan terfavorit para perantau Batak. Mereka tak ciut nyali dengan adigium “ibu kota lebih kejam dari ibu tiri”. Batak rantau, termasuk Uda Lubis di atas, merantau dan bertahan di kota yang cenderung gila ini; kota paduan suara klakson berbahasa kemarahan; kota berlangganan banjir tiap tahun; kota para koruptor; kota para fundamentalis agama; kota kaum hipokrit; dll. Kota bernama Ibu Kota, yang tak pernah berhati seorang ibu.

Orang Batak di perkotaan mulai beradaptasi dengan masyarakat heterogen, sehingga pergaulan dengan suku lain memengaruhi cara berpikir dan bertindaknya. Sehingga secara sadar mereka akan mengubah kebiasaan dan tingkah laku mereka untuk bertahan hidup.

Namun meski perbedaan begitu drastis dengan kampung halaman, Batak perantauan tetap memegang sistem anutan nilai budaya yang menjadi tujuan dan pandangan hidup Batak secara turun temurun: hamoraon (kekayaan, kelimpahan materi), hagabeon (banyak keturunan) dan hasangapon (kehormatan, kemuliaan). Tak jarang pula dengan ketiga pandangan hidup itu pula – segelintir orang Batak – kerap menghalalkan segala cara untuk mewujudkannya tanpa pertimbangan moral dan etika.

Tidak semua orang Batak yang merantau “sukses” atau survive di kota-kota besar. Para koruptor jelas tidak termasuk di sini, karena golongan ini sudah terlalu mapan alias post-survive! Orang Batak rantau bukan hanya pengacara kondang, pejabat-pejabat terkenal, pebisnis-pebisnis handal, wartawan-wartawan hebat atau artis-artis papan atas. Banyak juga yang menjalani pekerjaan-pekerjaan kasar sebagai seorang sopir, kondektur, buruh bangunan, pedagang kecil, pengamen, dll. Ada juga perampok, pengedar narkotika, bandar judi, preman terminal, lintah darat dan pekerjaan-pekerjaan nista lain. Dan pekerjaan-pekerjaan kotor yang saya sebut terakhir – dijalani terpaksa ataupun sukarela – kerap membuat orang Batak menjadi sasaran tembak dan menyudutkan etnis Batak keseluruhan.

Batak Rantau Keren

Padahal di Ibu Kota yang semraut ini, masih banyak perantau Batak yang tetap memelihara nilai-nilai kearifan primordialnya, seperti moral dan etika, yang sudah mengakar dalam keseharian. Masih ada orang-orang kaya namun sederhana, berpikiran luas, dan berpendidikan bagus; namun tetap kerkehidupan dengan nilai-nilai yang sudah menjadi tatanan nilai kita orang Batak. Pun orang-orang kecil-menengah banyak yang tetap puritan menjalani hidup dengan santun dan berkepedulian. Mereka sungguh-sungguh menjadi anomali yang baik di tengah arus budaya komsumtif dan induvidualistis ini. Mereka ini sekaligus menjadi oase kehidupan di tengah ketidakramahan dan kekeringan nilai ibu kota.

Seorang supir taksi yang jujur, seperti Pak Lubis di atas, tetap lebih membanggakan bagi etnis Batak daripada politisi-politisi penjilat kekuasaan. Orang-orang yang memberi perhatian pada bonapasogit jauh lebih memberi teladan daripada pejabat-pejabat korup yang cuma tahu memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Pedagang dan buruh kecil yang tekun dan ramah jauh lebih berharga dari pengusaha rakus yang menindas rakyat.

Hamoraon bukan saja kaya akan harta benda, tapi juga kaya karena merasa telah mendapatkan kepuasan akan apa yang dimilki dengan berani mengatakan ‘cukup’. Hagabeon, selain kemampuan seseorang untuk melanjutkan kerturunan, juga kemauan membesarkan keturunannya bukan dari hasil korup, dan memelihara keberadaan dan kejayaan marganya. Hasangpon bukanlah kehormatan karena berkuasa, namun kehormatan karena kemauan dan kemampuan mempertahankan, mengembangkan, dan memberdayakan nilai-nilai tradisi budaya lokal itu sendiri.

Mari menjadi Batak rantau keren: berharta nilai-nilai kemanusiaan, berteladankan kejujuran dan kesederhanaan, berkehormatan cinta dan kepedulian!***

Balada Dangdut Rakyat

“dangdut bukan musik rakyat. itu musik laknat penuh karat.”

sahabat,

baru saja aku mengunjungi sebuah rumah kecil di sini. menikmati makanan para dewa dewi yunani. makanan nenek moyang kita di bumi damai. sambil menyaksi dangdut di layar tivi.

celana dalam bukan lagi privasi. itu milik publik hegemoni. peluk ekspresi birahi. atas nama kudusnya kidung hak asasi. tangan kanan di rambut indah tergerai. tangan kiri di suburnya hidup menyusui. getir di buai saji.

pinggul nan aduhai bukan tubuh sahaya lagi. tapi imaji nilai jual tertinggi. harga mati pedangdut terberkati.

hambur duit para brengsek lelaki. di sambut goyang anak dan sang istri. sadis ngeri di panggung ekstasi.

dangdut sudah mati. dangdut rakyat harus mati. aku dan kau harus menyiapkan peti mati. menggali kubur di tepian kali. biar cacing mengurai jadi murni. air sungai membawa ke samudera pasti . tuntun matahari ke hati! (2010)

Etika Cinta Kant

Cinta dan etika ada di wilayah kategori praktis. Apa yang harus kita buat, manis? Cinta bukanlah sebuah imperatif praktis. Yang menuntut syarat miris. Namun cinta adalah imperatif kategoris. Tanpa secuil syarat nan mengiris.

Cinta memeluk mesra etika. Senantiasa menghasilkan kebaikan sempurna. Bukan kebaikan yang dibalas kejahatan dan prasangka. Akan tetapi cinta tulus berprakarsa. Yang mengundang langkah pertama. Pun kita tak harus terpaksa. Menerima postulat trinitas ada. Kebebasan, Tuhan, dan immortalitas jiwa. Sebab itu jua keyakinan yang kita punya.

Cinta adalah hasil tindakan etis. Seperti agama produk rasio teoretis dan praksis. Agama memang datang sesudah etika filosofis. Hasil dari tindakan dan pikiran etis. Tetapi cinta kita mendahului keduanya secara estetis. ‘Coelum stellatum supra nostrum, intra nostrum lex moralis’. Langit bertabur bintang diatas kita, hukum moral di relung hati kita, manis!

2010
(Coretan ini hanya sekedar pembacaan dan penafsiranku terhadap etika Immanuel Kant)